**Kisah yang Mengintai di Balik Tirai: Hujan dan Dendam** Hujan menggigil menerpa atap paviliun, persis seperti jantung Mei Lian malam itu. ...

Harus Baca! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai Harus Baca! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

Harus Baca! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

Harus Baca! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

**Kisah yang Mengintai di Balik Tirai: Hujan dan Dendam** Hujan menggigil menerpa atap paviliun, persis seperti jantung Mei Lian malam itu. Udara dingin menyelinap masuk, merayapi kulitnya yang tipis, mengingatkannya pada malam *itu*, malam di mana janji dan cinta hancur berkeping-keping di bawah bayangan bulan. Di seberang meja kayu usang, duduklah Li Wei. Cahaya lentera yang *nyaris* padam menari-nari di wajahnya, menonjolkan guratan-guratan yang semakin dalam, jejak waktu dan… dosa. Dulu, wajah itu adalah surga bagi Mei Lian, tempat ia menemukan ketenangan dan kehangatan. Sekarang, hanya ada **kekosongan**. "Sudah lama, Mei Lian," gumam Li Wei, suaranya serak. Mei Lian hanya menatapnya, matanya setajam pecahan es. "Terlalu lama untuk memaafkan, Li Wei." Setiap kata yang terucap terasa seperti duri yang mencabik kerongkongannya. Pengkhianatan itu masih terasa segar, seperti luka yang tak pernah sembuh. Li Wei, tunangannya, kekasihnya, telah memilih yang lain – kekuasaan, ambisi, dan selir kaisar yang kaya raya. Hujan semakin deras. Di luar jendela, bayangan pepohonan menari-nari seperti hantu. Seperti jiwa-jiwa yang tersiksa, terjebak di antara dunia. Mei Lian melihat *bayangannya sendiri* terpantul di kaca, tampak patah dan terdistorsi. Itulah yang Li Wei lakukan padanya. Ia mematahkannya. "Aku tahu aku salah," Li Wei melanjutkan, suaranya dipenuhi penyesalan. "Aku tahu aku menyakitimu. Tapi percayalah, Mei Lian, aku *tidak pernah* berhenti mencintaimu." Mei Lian tertawa hambar. "Cinta? Cinta macam apa yang mengkhianati? Cinta macam apa yang memilih kekuasaan di atas kesetiaan?" Ia bangkit berdiri, meraih lentera yang *hampir padam*. Cahayanya menyoroti wajah Li Wei, memperlihatkan ketakutan yang mulai merayap di matanya. "Kau pikir aku datang ke sini untuk memaafkanmu?" bisik Mei Lian, suaranya *mengancam*. "Kau pikir aku akan melupakan semua yang telah kau lakukan?" Ia mendekat, langkahnya mantap dan mematikan. Li Wei terdiam, tubuhnya membeku. Ia melihat *tekad* di mata Mei Lian, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sesuatu yang dingin dan kejam. Selama bertahun-tahun, Li Wei mengira Mei Lian hancur, bahwa ia hanyalah korban yang diam. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum yang tulus, di balik kesunyian yang menaungi hidupnya, Mei Lian diam-diam merencanakan BALAS DENDAM yang sempurna. Hujan terus menggila, menutupi suara bisikan Mei Lian. "Aku sudah menunggu saat ini, Li Wei. Saat dimana kau akan menyadari bahwa harga pengkhianatanmu jauh LEBIH MAHAL daripada mahkota kaisar." Mei Lian mengangkat lentera tinggi-tinggi, dan di dalam nyala api yang berkedip-kedip, Li Wei akhirnya melihat... _Selir yang ia nikahi bertahun-tahun lalu, bukanlah wanita yang ia kira selama ini, melainkan rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang._
You Might Also Like: 1950S Stocking Tops 1950S Stocking Tops

0 Comments: