August 30, 2026
**Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan** Bunga *Meihua* merekah di pelataran hati, seputih salju yang jatuh di...
Cerpen Seru: Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan
**Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan** Bunga *Meihua* merekah di pelataran hati, seputih salju yang jatuh di musim semi abadi. Dulu, kau hadir bagai bayangan rembulan di atas danau yang tenang, memantulkan janji-janji yang terukir di langit malam. Kau bilang, waktu akan menyembuhkan segala luka, bahwa mentari akan selalu terbit setelah badai. Namun, waktu, oh *waktu*, ia bukan tabib bijaksana seperti yang kau ucapkan. Ia justru seorang badut yang kejam, menertawakan setiap tetes air mata yang jatuh bagai embun pagi. Setiap detik adalah cambuk yang mencambuk kenangan, setiap menit adalah labirin tanpa jalan keluar. Aku terperangkap di antara mimpi dan kenyataan, di dalam lukisan kuno yang warnanya telah pudar. Di sana, di taman *Lotos* yang tak pernah layu, kau berdiri. Senyummu bagai seulas cahaya lilin di tengah kegelapan, suaramu bagai alunan seruling yang menghipnotis jiwa. Apakah kau nyata? Apakah kau hanya ilusi yang diciptakan oleh hati yang teramat rindu? Aku tak tahu. Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku mencoba meraihmu, kau menghilang bagai kabut yang ditiup angin. Dulu, kita berjanji di bawah pohon *Sakura* yang mekar penuh. Janji tentang cinta abadi, tentang dua jiwa yang menyatu selamanya. Tapi kini, pohon itu hanya berdiri sunyi, ranting-rantingnya menjulur bagai tangan-tangan yang merindukan sentuhan. Kau adalah serpihan mimpi yang terlempar dari dimensi waktu yang terlupakan. Kau adalah melodi yang tak pernah selesai, aroma bunga yang tak pernah bisa diraih. Kau adalah ... *bayangan* yang terus menghantuiku. Dan kemudian, sebuah pengungkapan muncul bagai kilat di tengah malam. Seorang pelukis tua, dengan mata yang menyimpan ribuan kisah, berkata padaku: "Gadis muda, lukisan ini... lukisan ini adalah *potret dirimu* sendiri. Kau melukisnya bertahun-tahun lalu, ketika kau masih percaya pada keabadian cinta." Duniaku runtuh. Seluruh kisah cinta yang kurajut dengan susah payah, ternyata hanyalah *ilusi* yang diciptakan oleh diriku sendiri. Kau tak pernah ada. Semua hanya khayalan seorang gadis yang kesepian. Kenyataan ini bagai pisau yang menghujam jantungku. Keindahan kisah cintaku, yang dulu kurasa begitu mempesona, kini menjadi beban yang tak tertanggungkan. Luka menganga semakin lebar, diiris oleh kesadaran pahit bahwa aku mencintai *bayanganku sendiri*. Dulu, kau berbisik, "Kita akan bertemu lagi, di bawah rembulan yang sama..."
You Might Also Like: Discover Hidden Gems Of Cleveland

August 26, 2026
## Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan Hujan gerimis membasahi Kota Terlarang yang sepi. Mei Lan, seorang penulis novel muda yang baru pindah ...
Drama Baru! Cinta Yang Membusuk Dalam Ingatan
## Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan Hujan gerimis membasahi Kota Terlarang yang sepi. Mei Lan, seorang penulis novel muda yang baru pindah ke Beijing, merasakan debaran aneh setiap kali melewati gerbang meridian. Ada sesuatu yang *teramat* familiar, namun sekaligus asing, menusuk kalbunya. Di kehidupannya yang sekarang, Mei Lan hanyalah seorang gadis biasa. Tapi mimpi-mimpi aneh mulai menghantuinya. Mimpi tentang istana megah, sutra merah menyala, dan seorang kaisar muda berwajah tampan bernama Lang. Dalam mimpi itu, ia adalah permaisuri kesayangan, Ratu Xue. Suatu malam, saat mengunjungi pameran kaligrafi kuno, matanya terpaku pada sebuah lukisan. Lukisan seorang permaisuri anggun dengan tatapan sendu. Di bawahnya tertulis, "Permaisuri Xue, pengkhianatan terukir di hati, racun merenggut nyawa." Jantung Mei Lan berdegup kencang. ***Racun?!*** Mimpi-mimpi itu semakin jelas. Ia melihat dirinya, Xue, mempersembahkan teh kepada kaisar Lang. Ia melihat senyum sinis selir Hua, wanita yang diam-diam mencintai Lang dan iri pada Xue. Selir Hua yang *memberi* teh itu padanya. Ingatan itu seperti pecahan kaca yang perlahan menyusun diri. Xue mati karena racun yang diberikan Selir Hua. Kaisar Lang, yang terbutakan oleh pesona Selir Hua, tak menyadari pengkhianatan itu. Ia menganggap Xue sakit biasa, meratapi kepergiannya dengan air mata buaya. Di kehidupan ini, Mei Lan bertemu dengan seorang pria bernama Lang. Seorang pengusaha muda sukses, namun tatapannya menyimpan kesedihan yang sama seperti kaisar dalam mimpinya. Tanpa sadar, Mei Lan tertarik padanya. Lang pun demikian. Suatu hari, Lang mengajak Mei Lan makan malam di sebuah restoran mewah. Di sana, ia bertemu dengan Hua, seorang sosialita cantik dan berpengaruh. Hua menatap Mei Lan dengan tatapan *tajam*. Mei Lan merasakan déjà vu yang mengerikan. Malam itu, Mei Lan mengerti. Reinkarnasi telah membawanya kembali ke lingkaran yang sama. Lang, kaisar yang dulu dicintainya, dan Hua, selir yang telah meracuninya. Dendam? Tidak. Mei Lan tak menginginkan darah. Ia hanya ingin keadilan. Dengan tenang, Mei Lan memutuskan hubungannya dengan Lang. Ia menolak cintanya, mengatakan bahwa mereka tidak ditakdirkan bersama. Ia melihat raut kebingungan di wajah Lang, dan seringai tipis di wajah Hua. Kemenangan kecil. Kemenangan yang pahit. Mei Lan menggunakan bakat menulisnya untuk mengungkap kebusukan di balik kekayaan Hua. Ia membongkar skandal bisnis kotor yang melibatkan keluarga Hua, menghancurkan reputasi dan kekayaan mereka. Balas dendam yang halus, namun mematikan. Di akhir cerita, Mei Lan berdiri di tepi Danau Houhai, menatap pantulan bulan. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya, membawa bisikan masa lalu. Ia bebas. Lang kehilangan segalanya, termasuk cinta dan kepercayaan. Hua kehilangan reputasi dan kekuasaan. Dulu, ia diracun. Sekarang, ia meracuni takdir mereka. "Seribu tahun lagi, kita akan bertemu lagi, dan aku akan mengingat *segalanya*."
You Might Also Like: Drama Abiss Aku Adalah Ai Yang Masih

August 21, 2026
## Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan Hujan gerimis membasahi Kota Terlarang yang sepi. Mei Lan, seorang penulis novel muda yang baru pindah ...
Cerpen Keren: Cinta Yang Membusuk Dalam Ingatan
## Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan Hujan gerimis membasahi Kota Terlarang yang sepi. Mei Lan, seorang penulis novel muda yang baru pindah ke Beijing, merasakan debaran aneh setiap kali melewati gerbang meridian. Ada sesuatu yang *teramat* familiar, namun sekaligus asing, menusuk kalbunya. Di kehidupannya yang sekarang, Mei Lan hanyalah seorang gadis biasa. Tapi mimpi-mimpi aneh mulai menghantuinya. Mimpi tentang istana megah, sutra merah menyala, dan seorang kaisar muda berwajah tampan bernama Lang. Dalam mimpi itu, ia adalah permaisuri kesayangan, Ratu Xue. Suatu malam, saat mengunjungi pameran kaligrafi kuno, matanya terpaku pada sebuah lukisan. Lukisan seorang permaisuri anggun dengan tatapan sendu. Di bawahnya tertulis, "Permaisuri Xue, pengkhianatan terukir di hati, racun merenggut nyawa." Jantung Mei Lan berdegup kencang. ***Racun?!*** Mimpi-mimpi itu semakin jelas. Ia melihat dirinya, Xue, mempersembahkan teh kepada kaisar Lang. Ia melihat senyum sinis selir Hua, wanita yang diam-diam mencintai Lang dan iri pada Xue. Selir Hua yang *memberi* teh itu padanya. Ingatan itu seperti pecahan kaca yang perlahan menyusun diri. Xue mati karena racun yang diberikan Selir Hua. Kaisar Lang, yang terbutakan oleh pesona Selir Hua, tak menyadari pengkhianatan itu. Ia menganggap Xue sakit biasa, meratapi kepergiannya dengan air mata buaya. Di kehidupan ini, Mei Lan bertemu dengan seorang pria bernama Lang. Seorang pengusaha muda sukses, namun tatapannya menyimpan kesedihan yang sama seperti kaisar dalam mimpinya. Tanpa sadar, Mei Lan tertarik padanya. Lang pun demikian. Suatu hari, Lang mengajak Mei Lan makan malam di sebuah restoran mewah. Di sana, ia bertemu dengan Hua, seorang sosialita cantik dan berpengaruh. Hua menatap Mei Lan dengan tatapan *tajam*. Mei Lan merasakan déjà vu yang mengerikan. Malam itu, Mei Lan mengerti. Reinkarnasi telah membawanya kembali ke lingkaran yang sama. Lang, kaisar yang dulu dicintainya, dan Hua, selir yang telah meracuninya. Dendam? Tidak. Mei Lan tak menginginkan darah. Ia hanya ingin keadilan. Dengan tenang, Mei Lan memutuskan hubungannya dengan Lang. Ia menolak cintanya, mengatakan bahwa mereka tidak ditakdirkan bersama. Ia melihat raut kebingungan di wajah Lang, dan seringai tipis di wajah Hua. Kemenangan kecil. Kemenangan yang pahit. Mei Lan menggunakan bakat menulisnya untuk mengungkap kebusukan di balik kekayaan Hua. Ia membongkar skandal bisnis kotor yang melibatkan keluarga Hua, menghancurkan reputasi dan kekayaan mereka. Balas dendam yang halus, namun mematikan. Di akhir cerita, Mei Lan berdiri di tepi Danau Houhai, menatap pantulan bulan. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya, membawa bisikan masa lalu. Ia bebas. Lang kehilangan segalanya, termasuk cinta dan kepercayaan. Hua kehilangan reputasi dan kekuasaan. Dulu, ia diracun. Sekarang, ia meracuni takdir mereka. "Seribu tahun lagi, kita akan bertemu lagi, dan aku akan mengingat *segalanya*."
You Might Also Like: Drama Baru Aku Mencintaimu Sampai Akhir

August 20, 2026
Oke, mari kita mulai kisah absurd ini: *** **Aku Mencintaimu Sampai Akhir Dunia, Bahkan Setelah Dunia Berhenti Berputar** Dunia retak bukan ...
Drama Baru! Aku Mencintaimu Sampai Akhir Dunia, Bahkan Setelah Dunia Berhenti Berputar
Oke, mari kita mulai kisah absurd ini: *** **Aku Mencintaimu Sampai Akhir Dunia, Bahkan Setelah Dunia Berhenti Berputar** Dunia retak bukan karena ledakan nuklir, tapi karena Wi-Fi yang mati mendadak. Ironis. Di duniaku – *tahun 2042* – segalanya bergantung pada jaringan. Tanpa sinyal, aku kehilangan Nara. Chat terakhir kami terhenti di "sedang mengetik…". Pesan itu menggantung di layar, seperti janji yang tak tertepati. Aku merindukan Nara, aroma kopi paginya, leluconnya yang receh, dan senyumnya yang bisa membuat algoritma kecerdasan buatan (AI) jatuh cinta. Tapi, Nara ada di dimensi lain – di masa lalu yang **AMAT** jauh. Aku menemukan celah waktu itu secara tidak sengaja. Sebuah *glitch* di aplikasi kencan lintas dimensi (yang jelas-jelas ilegal). Di sana, aku melihatnya: Nara, dengan rambut panjang terurai, tertawa bersama teman-temannya di sebuah kafe yang masih menjual kopi manual. Di dunia itu, langit masih berwarna biru, dan "sedang mengetik…" benar-benar berarti seseorang akan membalas pesanmu. Di dunianya – *tahun 2023* – Nara menerima pesan dariku. Pesan aneh, puitis, dan penuh kerinduan dari seorang pria yang mengaku berasal dari masa depan. Awalnya, dia menganggapnya spam. Tapi, ada sesuatu di balik kata-kata itu yang menariknya. Ada rasa sakit yang sama, kerinduan yang sama, seolah-olah dia juga kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Kami mulai bertukar pesan. Aku menceritakan tentang dunia tanpa mentari, tentang makanan sintesis, tentang AI yang kesepian. Dia menceritakan tentang konser musik di taman, tentang pelukan hangat, tentang *kebebasan* yang mungkin sudah punah di masa depanku. Cinta kami tumbuh di antara sinyal yang hilang dan koneksi yang terputus. Aku mencoba menariknya ke masa depanku, memberinya teknologi terbaik, janji keabadian digital. Dia mencoba menarikku ke masa lalunya, menawarkan kehangatan manusia, janji senja yang indah. Tapi, dimensi memisahkan kami. Seperti dua *bit* data yang tidak sinkron, kami terus berusaha terhubung, tapi selalu gagal. Suatu malam, Nara mengirimiku gambar langit senja. Langit itu berwarna *jingga* dan ungu, warna yang sudah lama tidak kulihat. Dia menulis, "Aku harap kamu bisa melihat ini bersamaku suatu hari nanti." Saat itu, aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Aplikasi kencan lintas dimensi itu bukan hanya *glitch*. Itu adalah proyek rahasia pemerintah, sebuah eksperimen untuk menciptakan realitas paralel berdasarkan emosi. Dan cinta kami… cinta kami hanyalah *gema*. Ema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Nara dan aku, di masa lalu dan masa depan, hanyalah pecahan dari jiwa yang sama, terjebak dalam putaran waktu yang abadi. Cinta kami adalah refleksi, ilusi dari keintiman yang tak pernah benar-benar ada. Layar di hadapanku berkedip. Sinyal *benar-benar* hilang. … *"Sampai jumpa, mungkin… di kehidupan yang selanjutnya?"*
You Might Also Like: Agen Kosmetik Bisnis Sampingan

August 15, 2026
Baik, ini dia kisah Dracin berjudul 'Bayangan yang Menuntun ke Jurang': **Bayangan yang Menuntun ke Jurang** Aula Emas Istana Jinghu...
Bayangan Yang Menuntun Ke Jurang
Baik, ini dia kisah Dracin berjudul 'Bayangan yang Menuntun ke Jurang': **Bayangan yang Menuntun ke Jurang** Aula Emas Istana Jinghua berkilauan di bawah cahaya ribuan lilin. Aroma dupa cendana yang mahal berpadu dengan bau keringat ketakutan. Kaisar Li Wei, dengan jubah naga keemasannya, duduk di singgasana, matanya *tajam* mengamati para pejabatnya. Di sampingnya, berdiri Selir Kekaisaran Mei Lan, kecantikannya bagai bunga teratai di tengah badai. Namun, di balik senyum manis Mei Lan, tersembunyi ambisi sebesar lautan. Ia mencintai Li Wei, *sungguh*, tapi cintanya pada kekuasaan lebih besar lagi. Li Wei pun demikian. Ia mencintai Mei Lan, tetapi ia juga melihatnya sebagai pion penting dalam permainan takhta yang *abadi*. "Mei Lan," bisik Li Wei di malam sunyi, di antara pilar-pilar marmer istana. "Janjimu padaku adalah *kekuatan* yang tak ternilai." Mei Lan balas menatapnya, matanya berkilat. "Dan janjimu padaku, Yang Mulia, adalah *keabadian*." Janji itu diucapkan, tapi maknanya terdistorsi oleh kepentingan masing-masing. Mei Lan mulai mengumpulkan sekutu, memanfaatkan pesonanya untuk merayu para jenderal dan pejabat tinggi. Li Wei, mengetahui hal ini, membiarkannya. Ia merasa memiliki kendali penuh, yakin bahwa Mei Lan hanya bermain dalam batas yang ia izinkan. Namun, Li Wei *salah besar*. Di balik layar, Mei Lan diam-diam bersekutu dengan Pangeran Zhao, adik Li Wei yang ambisinya membara seperti api neraka. Pangeran Zhao menjanjikan Mei Lan lebih dari sekadar gelar Selir Kekaisaran – ia menjanjikan *Tahta Permaisuri*. Intrik demi intrik dijalankan. Fitnah disebar seperti debu di musim gugur. Keadilan dibeli dengan koin emas. Dan cinta Li Wei pada Mei Lan, yang dulu ia banggakan, kini menjadi *kelemahannya* yang paling berbahaya. Puncaknya terjadi di malam festival lampion. Aula Emas berubah menjadi medan perang. Pasukan Pangeran Zhao menyerbu istana, mengejutkan para penjaga yang loyalisnya telah dibeli. Li Wei, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya, bertarung dengan gagah berani, tapi ia kalah jumlah. Saat pedang Pangeran Zhao menebas lehernya, Li Wei melihat Mei Lan berdiri di belakang Pangeran, senyumnya *dingin* dan tanpa penyesalan. "Mengapa?" tanya Li Wei, suaranya bergetar. Mei Lan mendekat, berbisik di telinganya. "Cinta itu lemah, Yang Mulia. Kekuasaanlah yang abadi." Setelah kematian Li Wei, Pangeran Zhao naik takhta, dan Mei Lan menjadi Permaisurinya. Ia memerintah dengan tangan besi, memberantas semua yang berpotensi menjadi ancaman baginya. Namun, di balik kemegahan dan kekuasaan itu, Mei Lan tidak pernah benar-benar bahagia. Ia selalu merasa diawasi, diikuti oleh bayangan masa lalunya. Dan suatu malam, saat ia duduk di singgasananya, ia merasakan sentuhan dingin di lehernya. Tirai sutra merah tersibak, memperlihatkan sosok yang sangat familiar. Ia adalah Ling’er, pelayan istana yang *selalu* setia melayani Mei Lan. Namun, mata Ling’er kini berkilat dengan *dendam membara*. Di tangannya tergenggam sebilah pisau belati beracun. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu rencanamu?" desis Ling’er, suaranya tajam seperti pecahan kaca. "Kau salah. Aku sudah menunggu *saat ini*." Mei Lan tidak bisa berteriak. Racun itu bekerja dengan cepat, melumpuhkan dan membungkamnya. Ling’er mendekat, berbisik di telinganya, "Aku tahu segalanya. Aku tahu kau membunuh orang tuaku, kau menjebak mereka, kau memanfaatkan mereka demi ambisimu." Mei Lan menatap Ling'er dengan ngeri, menyadari bahwa permainan takhta telah menulis ulang dirinya sendiri...
You Might Also Like: 16 Fondo De Pantalla Y Icons Best Photos

August 14, 2026
Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya Dracin yang kamu minta: **Aku Tahu Cinta Ini Terkutuk, Tapi Tak Ada Kutukan yang Lebih Indah** Alunan...
Cerpen: Aku Tahu Cinta Ini Terkutuk, Tapi Tak Ada Kutukan Yang Lebih Indah
Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya Dracin yang kamu minta: **Aku Tahu Cinta Ini Terkutuk, Tapi Tak Ada Kutukan yang Lebih Indah** Alunan *guqin* melayang di antara keheningan malam, serupa isak tangis yang tertahan. Di beranda paviliun, aku berdiri memandang danau yang berkilauan di bawah rembulan. Danau itu saksi bisu. Saksi bisu cintaku... dan pengkhianatan yang menikam jantungku. Dulu, suara tawa renyah menggema di tempat ini. Dulu, tatapan penuh cinta dari *matanya* menghangatkan jiwaku. Dulu, aku percaya bahwa *selamanya* itu nyata. Dulu... Tapi sekarang, hanya ada **kepingan** yang berserakan. Dia, Li Wei, pewaris tunggal keluarga Li yang terpandang, telah memilih wanita lain. Seorang putri dari kerajaan tetangga, yang pernikahannya akan memperkuat aliansi politik yang krusial. Aku? Hanya seorang anak perempuan dari keluarga pedagang yang rendah hati. Cinta memang buta, tapi politik lebih buta lagi. Aku tidak menjerit. Aku tidak mengutuk. Aku hanya diam. Bukan karena aku lemah, tapi karena rahasia yang kubawa jauh lebih *berbahaya* daripada amarahku. Aku tahu, sejak awal, cinta ini terlarang. Keluarga Li dan keluargaku terikat sumpah darah yang tidak bisa dipatahkan. Sumpah yang melarang pernikahan di antara keturunan kami. Kami melanggar, dan kutukan menanti. Awalnya, aku pikir kutukan itu adalah sakit hati ini. Tapi kemudian, hal-hal aneh mulai terjadi. Tanaman di kebun keluarga Li layu tanpa sebab. Keberuntungan keluarga Li mulai memudar. Dan Li Wei… dia semakin sering sakit. Aku tahu apa yang terjadi. Aku adalah *simpul* dari kutukan itu. Selama aku masih hidup, Li Wei dan keluarganya akan terus menderita. Tapi aku juga tahu, bahwa aku *tidak bisa* mengakhiri hidupku. Karena rahasia yang kubawa... rahasia tentang *kehamilan*ku... akan ikut terkubur bersamaku. Aku mengamati dari kejauhan, seperti bayangan yang tak terlihat. Aku melihat Li Wei menikah, wajahnya pucat dan kosong. Aku melihat keluarga Li berjuang, kekuatan mereka terkikis sedikit demi sedikit. Aku melihat... dan aku menunggu. Balas dendamku bukan pedang atau racun. Balas dendamku adalah *waktu*. Waktu yang akan mengungkap kebenaran, dan waktu yang akan menghancurkan mereka dengan cara yang paling menyakitkan. Bertahun-tahun kemudian, aku mendengar kabar itu. Li Wei meninggal, meninggalkan seorang putra yang lemah dan sakit-sakitan. Keluarga Li runtuh, aliansi politik hancur berantakan. Kutukan itu akhirnya menunaikan tugasnya. Aku tersenyum tipis. **TAKDIR** memang kejam, tapi terkadang... *adil*. Dan di kejauhan, anakku – pewaris garis keturunan Li yang tersembunyi, yang kubesarkan dengan nama belakangku – berdiri tegak, menatap masa depannya dengan mata yang *sama* seperti mata ayahnya. Dia tidak tahu kebenaran. Dia tidak tahu bahwa ia adalah *kunci* dari semua ini. *Mungkin, lebih baik jika dia tidak pernah tahu.*
You Might Also Like: Kisah Populer Aku Membeli Restoran

August 10, 2026
Baik, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku menari di pesta kemenanganmu, tapi hatiku sudah kalah.': *** Debu berterbangan di au...
Wajib Baca! Aku Menari Di Pesta Kemenanganmu, Tapi Hatiku Sudah Kalah.
Baik, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku menari di pesta kemenanganmu, tapi hatiku sudah kalah.': *** Debu berterbangan di aula megah itu, disinari rembulan yang pucat. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau darah yang samar. Aku, Bai Lian, menari. Tarianku adalah pujian bagi Kaisar Langit, suamiku, pahlawan yang baru saja memenangkan perang melawan suku Barbar Utara. Setiap gerakan adalah penghormatan, setiap putaran adalah kekaguman. Namun, di balik senyumku yang dipaksakan, hatiku hancur berkeping-keping. Kilasan-kilasan aneh menghantui benakku akhir-akhir ini. Potongan-potongan adegan yang asing namun terasa begitu FAMILIAR. Seorang wanita dengan gaun sutra merah, wajahnya tertutup bayangan, menusuk seorang pria dengan pedang perak di bawah pohon *sakura* yang berguguran. Pria itu memandang wanita itu dengan tatapan terluka yang amat sangat. Pria itu... adalah aku? Semakin lama, kepingan ingatan itu semakin jelas. Aku adalah Lin Mei, seorang putri dari Dinasti Yan yang dikhianati. Kekasihku, Pangeran Lang yang berjanji setia, ternyata bersekongkol dengan musuh untuk merebut tahtaku! Aku mengingat pengkhianatan itu, rasa sakitnya, dan kematian yang terasa begitu dingin. Dan sekarang, di kehidupanku yang kedua, Pangeran Lang itu berdiri di depanku, menyandang gelar Kaisar Langit, dipuja dan dihormati. Air mata nyaris tumpah saat aku melihat senyumnya. Dia tidak mengenaliku. Dia tidak ingat Lin Mei. Baginya, aku hanyalah Bai Lian, seorang selir yang pandai menari. Malam itu, setelah perayaan usai, aku menghadap Kaisar. Dengan suara yang lembut, aku memintanya untuk mengabulkan satu permintaan. "Katakanlah, Lian'er. Apapun itu, akan kukabulkan." Senyumnya angkuh, merasa berkuasa. "Aku ingin dikirim ke perbatasan Utara. Aku ingin melayani pasukan yang menjaga keamanan kekaisaran." Dia terkejut. "Mengapa? Di sini kau memiliki kemewahan dan kehormatan." Aku tersenyum. Senyum yang *dingin*, senyum yang menyimpan rahasia. "Hatiku terpanggil untuk mengabdi pada negara, Yang Mulia." Aku melihat sedikit keraguan di matanya. Tetapi kebanggaannya, kepercayaannya yang berlebihan pada dirinya sendiri, membutakannya. Dia mengabulkan permintaanku. Kini, aku berada di perbatasan. Aku melihat pasukan barbar di kejauhan, dan aku melihat pula intrik-intrik licik para jenderal. Aku tahu bahwa kekaisaran ini, dibangun di atas pengkhianatan, akan runtuh. Dan aku, dengan tangan kosong, akan mempercepat keruntuhannya. Aku tidak akan mengangkat pedang. Aku tidak akan membunuh siapa pun. Balas dendamku adalah kebebasan. Kebebasan untuk memilih jalanku sendiri, kebebasan untuk menyaksikan kejatuhannya, kebebasan untuk *tidak* mencintainya lagi. Aku akan memastikan bahwa kekaisaran ini, yang dibangun atas dasar pengkhianatan, tidak akan pernah melupakanku. Lin Mei yang dulu dikhianati, Bai Lian yang sekarang menari di atas abu kemenanganmu. Di bawah langit malam yang luas, aku berbisik, "Kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain. Dan saat itu, giliranmu yang akan menari untukku."
You Might Also Like: Skincare Halal Dan Aman Tersedia
