Pedang yang Tertanam di Jantung Dewa
Angin berdesir lirih di antara reruntuhan Istana Giok. Dulu, tempat ini adalah lambang kemegahan, kini hanya puing-puing bisu yang menyimpan kenangan pahit. Di tengahnya, berdiri seorang wanita. Bukan lagi Putri Mahkota yang dulu dikenal, tapi AURORA, sang Dewi Kebencian yang terlahir dari api pengkhianatan.
Dulu, cintanya adalah mentari yang menghangatkan. Kaisar Langit, janji-janji manisnya membungkus Aurora dalam kebahagiaan semu. Kekuasaan, ambisinya yang tersembunyi, ternyata lebih berharga dari nyawa Aurora. Ia dikhianati, dijebak, dan dipaksa menyaksikan keluarganya dibantai di depan matanya sendiri. Hatinya hancur berkeping-keping, jiwanya terluka parah.
Namun, Aurora tidak mati. Ia tumbuh di antara reruntuhan harapan, seperti bunga teratai yang merekah di rawa yang kotor. Kelembutan yang dulu menjadi ciri khasnya, kini terbalut baja. Senyumnya yang manis, kini menyembunyikan ketenangan yang mematikan. Luka-lukanya menjadi pupuk yang menyuburkan dendamnya.
"Aku akan membuatmu menyesal telah melahirkanku, Kaisar Langit," bisiknya pada angin malam. Suaranya lembut, nyaris tak terdengar, namun getarannya mampu meruntuhkan gunung.
Perjalanannya panjang dan berliku. Aurora mengumpulkan kekuatan, bukan dengan amarah yang membabi buta, melainkan dengan strategi yang terukur. Ia mempelajari seni bela diri kuno, menguasai ilmu racun, dan menjalin aliansi dengan para pemberontak yang mendambakan keadilan. Setiap langkahnya diperhitungkan, setiap keputusannya dilandasi logika dingin. Ia bukan lagi korban, ia adalah arsitek kejatuhan Kaisar Langit.
Setiap malam, Aurora bermimpi tentang pedang. Bukan pedang biasa, tapi pedang yang terbuat dari es dan api. Pedang yang mampu menembus pertahanan ilahi, dan menancap tepat di jantung Kaisar Langit. Pedang yang merupakan manifestasi dari kebencian dan kekuatannya.
Pertempuran terakhir terjadi di puncak Gunung Kunlun. Kaisar Langit, dengan segala kesombongan dan kekuatannya, menghadapi Aurora. Tapi, Aurora tidak gentar. Di matanya, terpancar keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia bergerak dengan anggun, menghindari setiap serangan dengan mudah. Kekuatan Kaisar Langit seolah tak berarti di hadapannya.
"Kau pikir dendammu bisa mengalahkan takdir?" tanya Kaisar Langit, dengan nada merendahkan.
Aurora tersenyum sinis. "Takdir? Kau yang menciptakan takdirku, Kaisar Langit. Dan sekarang, aku yang akan menulis ulang ceritanya."
Dengan gerakan secepat kilat, Aurora melesat maju. Pedang es dan apinya menari-nari di udara, menembus pertahanan Kaisar Langit, dan menancap tepat di jantungnya.
Kaisar Langit jatuh berlutut, matanya memancarkan keterkejutan dan penyesalan.
Aurora berdiri tegak di hadapannya, aura keagungan memancar dari dirinya. Ia bukan lagi wanita yang hancur karena cinta dan kekuasaan. Ia adalah Dewi Kebencian, sang Ratu Pembalasan. Ia telah merebut kembali takdirnya.
Aurora menatap mayat Kaisar Langit, lalu memandang langit yang mulai memerah. Angin berdesir lebih kencang, membawa aroma kebebasan. Dendamnya telah terbalaskan, tapi ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak bisa ia temukan kembali.
Ia berbalik, meninggalkan Gunung Kunlun yang berlumuran darah. Langkahnya ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.
…Dan kini, dengan mahkota yang terbuat dari abu dan air mata, ia menyadari bahwa kerajaan yang sebenarnya terletak di dalam dirinya sendiri.
You Might Also Like: 83 Kekurangan Skincare Lokal Dengan
0 Comments: