Mahkota yang Menolak Kepalanya Sendiri Aroma cendana dan darah menguar dari setiap sudut Istana Giok. Jiwa Lin Yue terhuyung. Ia bukanlah...

Absurd tapi Seru: Mahkota Yang Menolak Kepalanya Sendiri Absurd tapi Seru: Mahkota Yang Menolak Kepalanya Sendiri

Absurd tapi Seru: Mahkota Yang Menolak Kepalanya Sendiri

Absurd tapi Seru: Mahkota Yang Menolak Kepalanya Sendiri

Mahkota yang Menolak Kepalanya Sendiri

Aroma cendana dan darah menguar dari setiap sudut Istana Giok. Jiwa Lin Yue terhuyung. Ia bukanlah Permaisuri yang anggun dan berkuasa lagi, melainkan seorang dayang rendahan bernama Mei Hua. Namun, denyut di pelipisnya, mimpi-mimpi yang mengalir bagai air terjun di malam hari, dan tatapan sinis Kaisar yang menusuk tulang, semua itu... mengingatkannya pada pengkhianatan.

Dulu, Lin Yue adalah ratu yang dicintai sekaligus ditakuti. Ia mengatur negara dengan tangan besi berlapis sutra. Suaminya, Kaisar Li Wei, tampak begitu memuja. Hingga malam itu tiba, malam ketika racun Amaranth merenggut nyawanya, malam ketika mahkota, yang seharusnya menjadi miliknya selamanya, direbut oleh selir kesayangan Kaisar.

Mei Hua, dengan ingatan yang perlahan kembali, menatap cermin perunggu. Bayangan Lin Yue menatap balik, bisu namun penuh dendam. Kaisar Li Wei, pria yang dulu ia cintai dengan segenap hatinya, telah membunuhnya. Selir Lian, wanita dengan senyum semanis madu, telah meracuninya atas perintah sang Kaisar.

Mengapa? Mengapa pengkhianatan ini terjadi?

Rahasia itu terkuak dalam mimpi-mimpi Mei Hua. Lin Yue, sebelum menjadi Permaisuri, adalah seorang jenderal wanita yang tangguh. Ia yang menaklukkan suku-suku barbar di utara, ia yang membawa kedamaian bagi kerajaan. Tapi Kaisar Li Wei takut. Kekuatan Lin Yue mengancam kekuasaannya. Ia ingin Lin Yue di bawah kendalinya, terikat padanya, bukan setara dengannya.

Mei Hua tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan membalas dendam dengan pedang atau racun. Dendamnya akan lebih halus, lebih menyakitkan. Ia akan menggunakan ingatannya, pengetahuannya tentang intrik istana, untuk mengubah takdir Kaisar Li Wei.

Ia mendekati Putra Mahkota, Li Xun, anak Kaisar dari selir lain yang dibenci. Mei Hua, dengan kepintarannya yang diwarisi dari Lin Yue, membimbing Li Xun, mengajarinya strategi, dan menanamkan bibit pemberontakan di hatinya. Ia memastikan bahwa Li Xun melihat Kaisar Li Wei sebagaimana adanya: seorang tiran yang lemah dan pengecut.

Beberapa tahun kemudian, Li Xun melancarkan kudeta. Kaisar Li Wei digulingkan, dan selir Lian dipenjara. Li Xun, Kaisar baru, tidak pernah melupakan jasa Mei Hua. Ia menawarkan kedudukan tinggi, kekayaan, dan kekuasaan.

Mei Hua menolak semuanya. Ia hanya meminta satu hal: kebebasan.

Ia meninggalkan Istana Giok, berjalan menjauh dari intrik dan dendam, meninggalkan Li Xun yang kini memegang takdir kerajaan di tangannya. Ia tahu bahwa dengan mengangkat Li Xun, ia telah merampas mahkota dari Kaisar Li Wei untuk selamanya. Balas dendam yang begitu manis dan halus.

Saat mentari senja menyinari punggungnya, Mei Hua berhenti di tepi sungai. Angin berbisik di telinganya, membawa aroma cendana dan janji kematian. Ia tahu, Lin Yue telah beristirahat dengan tenang.

Ia menatap air sungai yang mengalir, merasakan beban kehidupan sebelumnya perlahan menghilang.

"Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, Kaisar Li Wei... dan kali ini, giliran kau yang akan merasakan kehilangan."

You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Bisnis_13

0 Comments: