Aroma cendana dan hujan gerimis selalu membawanya kembali ke ingatan yang kabur, seperti lukisan tua yang warnanya memudar. Mei Hua, namany...

Drama Baru! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai Drama Baru! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

Drama Baru! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

Drama Baru! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

Aroma cendana dan hujan gerimis selalu membawanya kembali ke ingatan yang kabur, seperti lukisan tua yang warnanya memudar. Mei Hua, namanya sekarang, seorang pelukis muda yang tengah naik daun di Beijing. Tapi di balik kanvas dan kuas, bayangan masa lalu menghantuinya. Mimpi tentang istana yang megah, jubah sutra yang berkilauan, dan pengkhianatan yang menusuk jantung.

Setiap sapuan kuasnya seolah menari mengikuti irama dendam yang lama terkubur. Ia melukis bunga plum yang berguguran, mengingatkannya akan kematian Ratu Lian, seorang wanita yang dulu pernah menjadi dirinya. Ingatan itu datang sedikit demi sedikit, seperti tetesan air yang akhirnya memenuhi wadah. Ia ingat senyum manis Kaisar, mata dingin selirnya, dan janji abadi yang ternyata palsu belaka.

Mei Hua tahu, ia tidak bisa membiarkan ingatan ini hanya menjadi bayangan. Ia harus mencari tahu kebenaran. Ia mulai mencari jejak-jejak Ratu Lian di antara tumpukan buku sejarah dan legenda kuno. Ia mengunjungi kuil-kuil terpencil, mencari jawaban di antara asap dupa dan bisikan para biksu.

Suatu malam, saat ia melukis di bawah cahaya bulan purnama, semuanya menjadi jelas. Ia melihat wajah Kaisar dan selirnya dalam pantulan di kolam. Ingatan tentang racun yang diberikan padanya, senyum kemenangan selirnya, dan tatapan kosong Kaisar – semuanya muncul dengan BRUTAL.

Namun, Mei Hua tidak berniat membalas dengan pedang atau racun. Dendamnya lebih halus, lebih mematikan. Ia menggunakan bakat melukisnya untuk menyebarkan cerita tentang Ratu Lian. Lukisan-lukisannya menjadi sangat populer, memicu rasa penasaran dan simpati terhadap sang ratu yang diklaim mati karena penyakit. Kisah tentang cinta dan pengkhianatan, keadilan dan kezaliman, tersebar seperti api di padang rumput.

Reputasi Kaisar dan keturunannya tercemar. Mereka dilupakan sejarah, terhapus dari ingatan publik. Mei Hua menyaksikan semua ini dari kejauhan, dengan senyum tipis di bibirnya. Keadilan telah ditegakkan, bukan dengan kekerasan, tapi dengan kekuatan seni.

Di akhir hidupnya, Mei Hua memandang lukisannya yang terakhir: sebuah potret Ratu Lian yang tersenyum lembut. Ia merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya, membawa bisikan dari masa lalu.

"Kali ini, aku akan memilih nasibku sendiri..."

You Might Also Like: Kekurangan Sunscreen Lokal Untuk Kulit

0 Comments: