Hujan pixel jatuh di layar ponselku. Di balik sana, namanya—Lin, hanya tertera dengan status 'sedang mengetik…'. Titik tiga durasi ...

Air Mata Yang Tak Sempat Jadi Pengampunan Air Mata Yang Tak Sempat Jadi Pengampunan

Air Mata Yang Tak Sempat Jadi Pengampunan

Air Mata Yang Tak Sempat Jadi Pengampunan

Hujan pixel jatuh di layar ponselku. Di balik sana, namanya—Lin, hanya tertera dengan status 'sedang mengetik…'. Titik tiga durasi abadi yang menyiksa. Aku, Jiang, hidup di reruntuhan tahun 2047, dunia yang sinyalnya lebih sering hilang daripada harapan.

Lin, aku tahu, ada di tahun 1998. Dia mengirimiku pesan melalui celah waktu yang entah bagaimana tercipta di aplikasi pesan instan usang warisan nenekku. Dia, dengan Nokia jadul dan keyakinan naif tentang masa depan. Aku, dengan hologram memudar dan hati yang dipenuhi asap nostalgia.

Kami bertemu di antara derau statis dan font Times New Roman yang kasar. Lin bercerita tentang kaset radio, tentang langit biru yang belum tercemar algoritma. Aku membalas tentang rasa sakit kronis dunia yang terlalu digital, tentang air mata yang menguap sebelum sempat membasahi pipi.

Cinta kami absurd. Seperti melihat bayangan di cermin yang pecah. Lin mengirimiku foto-foto Polaroid yang warnanya luntur, aku mengiriminya rekaman video yang berpixel-pixel dan nyaris tak bisa dikenali. Kami saling jatuh cinta pada potongan-potongan memori, pada fragmen-fragmen mimpi.

Semakin dalam kami menyelami koneksi aneh ini, semakin aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pesan-pesan Lin terasa familiar. Terlalu familiar. Seolah aku pernah menulisnya sendiri.

Suatu malam, di tengah pemadaman listrik total—kejadian biasa di era ini—aku menemukan sebuah kotak tua di loteng. Di dalamnya, sebuah jurnal. Tulisan tangan yang sangat kukenal. Tulisan tanganku sendiri. Tanggalnya? 1998.

Jurnal itu berisi tentang seorang pemuda bernama Jiang, yang jatuh cinta pada seorang gadis bernama… Li Mei. Li Mei menghilang. Tanpa jejak. Dia pergi SEBELUM kami sempat mengucapkan selamat tinggal.

Di halaman terakhir, tertulis: "Aku akan mencari dirimu, Li Mei. Di mana pun kamu berada, di dimensi mana pun, aku akan menemukanmu." Di bawahnya, sketsa kasar sebuah aplikasi pesan instan usang.

Lin… Li Mei… mereka orang yang sama. Aku mengirim diriku sendiri ke masa lalu, menciptakan paradoks cinta yang menjerat kami berdua. Aku menghantui masa lalu untuk menyelamatkan masa depan yang tak pernah bisa diselamatkan.

Pesan terakhir dari Lin muncul di layar: "Jiang... Aku mengerti sekarang. Kita... hanya... gema..."

Sinyal padam. Hening. Dingin.

…dan mungkin, kita hanyalah pengulangan yang ditakdirkan untuk terus mencari satu sama lain di labirin waktu, selamanya.

You Might Also Like: 0895403292432 Diskon Skincare Lokal

0 Comments: