Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku Guqin berlantun lirih di malam yang sunyi. Nada-nadanya mengalir bagai air mata ya...

Dracin Terbaru: Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku Dracin Terbaru: Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku

Dracin Terbaru: Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku

Dracin Terbaru: Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku

Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku

Guqin berlantun lirih di malam yang sunyi. Nada-nadanya mengalir bagai air mata yang tak terucap, persis seperti hatiku saat ini. Aku menatap bayangan rembulan di permukaan danau, bayangan yang sama yang dulu sering kami tatap berdua. Dulu. Kata itu terasa seperti belati dingin yang menusuk ulu hatiku.

Kau, Aisling, memilih jalan yang menyakitkan. Jalan menghapus ingatan, jalan melupakanku. Orang bilang, kau melakukannya karena tak sanggup menanggung beban pengkhianatan. Mereka melihatmu sebagai korban. Mereka tidak tahu. TIDAK ADA YANG TAHU.

Aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku tak bisa membalas. Aku diam karena sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang terikat pada takdir keluargamu, Aisling. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan segalanya.

Kau menikah dengan pria itu, Xing. Pria yang dulu kau sebut sahabat, pria yang menusukku dari belakang. Aku melihat kebahagiaan palsu di matamu. Kebahagiaan yang dibangun di atas puing-puing cintaku. Aku bisa merasakan sakitmu, Aisling, meski kau berusaha menyembunyikannya.

Hari demi hari berlalu. Aku melihat bunga-bunga bermekaran di taman yang dulu kita tanam bersama. Aku melihat burung-burung camar terbang di atas danau, tempat dulu kau berjanji akan selalu bersamaku. Semua itu menusukku dengan kenangan.

Misteri kecil mulai menguat. Ada keanehan dalam bisnis Xing. Ada bisikan-bisikan tentang praktik ilegal, tentang korupsi yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Aku tahu. Aku selalu tahu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.

Waktu yang tepat itu akhirnya tiba.

Kau mulai merasakan ada yang hilang, Aisling. Fragmen-fragmen kenangan mulai kembali menghantuimu. Mimpi-mimpi tentang taman bunga, tentang danau, tentang seorang pria dengan mata teduh yang selalu menjagamu.

Suatu malam, kau datang kepadaku. Matamu penuh kebingungan dan ketakutan. "Siapa aku sebenarnya?" tanyamu dengan suara bergetar.

Aku tidak menjawab. Aku hanya memberikanmu sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya terdapat sebuah jepit rambut dengan ukiran bunga teratai. Jepit rambut yang dulu pernah kuberikan padamu. Jepit rambut yang menjadi simbol cintaku padamu.

Saat kau menyentuh jepit rambut itu, SEMUA kembali. Ingatanmu mengalir deras bagai air bah. Kau ingat siapa dirimu, kau ingat siapa aku, dan kau ingat pengkhianatan Xing.

Kau menangis. Air mata penyesalan, air mata kemarahan, air mata kesadaran.

Aku hanya memelukmu. Erat. Seerat yang aku bisa.

Tak ada kekerasan. Tak ada pertumpahan darah. Balas dendamku hadir dalam bentuk takdir yang berbalik arah. Skandal bisnis Xing terungkap. Semua kebohongannya terbongkar. Ia kehilangan segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan kau.

Kau meninggalkannya, Aisling. Kau pergi, mencari kedamaian. Aku melihatmu dari kejauhan. Aku tidak mendekat. Aku tahu, kita tidak bisa bersama. Rahasia itu masih ada, menghalangi jalan kita. Rahasia yang akan selamanya menjadi beban di pundakku.

Kau menghapus ingatanmu, tapi tak bisa menghapus rasaku. Sekarang, takdir menghukum Xing.

Dan aku? Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti, kau akan memaafkan aku, untuk rahasia yang terpaksa kusimpan, dan untuk cinta yang tak pernah bisa kumiliki sepenuhnya...

Dan di suatu tempat di antara lautan dan langit, apakah bintang yang kau lihat sama dengan bintang yang kulihat?

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Penghasilan

0 Comments: