Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan suasana lirih dan penuh penyesalan, seperti lantunan musik guqin di malam yang sepi: **...

Dracin Terbaru: Kau Menatapku Dan Dunia Mulai Retak Di Antara Kita Dracin Terbaru: Kau Menatapku Dan Dunia Mulai Retak Di Antara Kita

Dracin Terbaru: Kau Menatapku Dan Dunia Mulai Retak Di Antara Kita

Dracin Terbaru: Kau Menatapku Dan Dunia Mulai Retak Di Antara Kita

Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan suasana lirih dan penuh penyesalan, seperti lantunan musik guqin di malam yang sepi: **Kau Menatapku dan Dunia Mulai Retak di Antara Kita** Hujan gerimis menari di atap Paviliun Anggrek, senada dengan air mata yang diam-diam membasahi pipiku. Aroma dupa cendana bercampur dengan pahitnya teh yang kusesap, getir seperti kenyataan yang kutelan. *Kau*, Li Wei, berdiri di hadapanku, sorot mata teduhmu yang dulu membuatku rela menyerahkan segalanya, kini hanya memantulkan kekosongan. "Jelaskan," bisikmu, suara serak menahan amarah. Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku menjelaskan ketika setiap kata akan meruntuhkan bukan hanya dirimu, tapi juga kerajaan yang kau cintai? Bagaimana mungkin aku mengakui bahwa perselingkuhanmu dengan Selir Mei Lan hanyalah bagian dari sandiwara yang lebih besar, sebuah *pion* dalam permainan para dewa? Dulu, saat kau menatapku pertama kali di bawah pohon sakura yang bermekaran, dunia seolah berhenti berputar. Aku, Lian Hua, putri seorang tabib desa, merasa menjadi orang paling beruntung di dunia saat seorang pangeran seperti dirimu menyatakan cinta. Namun, kebahagiaan itu rapuh seperti kelopak bunga sakura yang tertiup angin. Setelah menikah, aku menemukan *surat* tersembunyi di antara gulungan lukisanmu. Bukan surat cinta, melainkan perintah rahasia dari Permaisuri, ibumu. Perintah untuk mengawasi setiap gerak-gerikmu, untuk melaporkan setiap kelemahanmu. Kau, pewaris tahta yang dicintai rakyat, ternyata dianggap sebagai ancaman oleh ibumu sendiri. Aku hancur. Cinta dan kesetiaan berbenturan dalam diriku. Aku bisa saja mengungkap semuanya, tapi itu berarti menghancurkan reputasimu, membuatmu menjadi bidak dalam perebutan kekuasaan yang kotor. Maka, aku memilih diam. Aku membiarkanmu percaya bahwa aku *buta* dan *tuli* terhadap pengkhianatanmu. Aku membiarkanmu mendekati Selir Mei Lan, mengetahui bahwa dia adalah mata-mata Permaisuri, demi melindungimu dari bahaya yang lebih besar. Beberapa bulan lalu, kau menuduhku menutupi kejahatan Selir Mei Lan, yang ternyata diam-diam meracuni Kaisar. Kau mengusirku dari istana, menghukumku dengan *kehinaan* yang tak terperikan. Aku menerima semua itu dengan lapang dada. Karena aku tahu, kematian Kaisar akan membuka jalan bagimu untuk naik tahta, dan dengan tahta di tanganmu, kau akan memiliki kekuatan untuk melawan ibumu sendiri. Sekarang, kau berdiri di hadapanku, setelah mengungkap kebenaran tentang Selir Mei Lan dan peran ibumu. Kau menuntut penjelasan. Tapi, ada hal yang tak bisa kukatakan. Rahasia yang lebih kelam, yang terikat erat dengan garis keturunan kita. "Aku mencintaimu," hanya itu yang mampu kuucapkan. Kau tertegun. "Cinta macam apa ini? Cinta yang dipenuhi kebohongan dan pengorbanan?" Aku hanya bisa menatapmu, membiarkan air mata menjadi jawabanku. Karena, suatu hari nanti, kau akan mengerti. Kau akan mengerti bahwa aku melakukan semua ini bukan hanya untukmu, tapi juga untuk melestarikan *LEGASI* tersembunyi yang mengalir dalam darah kita, warisan para *penjaga keseimbangan* yang harus dijaga dengan nyawa sekalipun. Kau berbalik, berjalan menjauh, siluetmu menghilang di balik tirai hujan. Tanpa kau sadari, takdir telah berubah arah. Permaisuri, yang selama ini mengendalikan bidaknya, akan segera merasakan akibatnya. Karena, ketika kau naik tahta, kekuasaan yang dimilikinya akan sirna, digantikan oleh *hukum alam* yang tak terhindarkan. Aku tersenyum pahit. Balas dendam tidak harus dengan kekerasan. Terkadang, hanya dengan diam dan membiarkan takdir bermain, kita bisa mencapai tujuan yang lebih mulia. Di saat kau menatapku, dunia memang mulai retak di antara kita, namun dari keretakan itu, tumbuhlah kekuatan yang *tak terduga*. Aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti, kau akan memaafkan aku. Tapi, *AKU TAHU*, pengorbanan ini akan tetap membayangi kita selamanya.
You Might Also Like: 73 Kelebihan Skincare Lokal Cocok

0 Comments: