Langit yang Meneriakkan Nama yang Sama
Langit kota Jakarta, tahun 2042, berwarna karat. Bukan polusi, tapi kode. Kode yang berulang kali dikirimkan padaku oleh sistem peringatan dini Kiamat Lokal. Namaku Anya. Aku adalah arsitek kenangan. Tugasku: merekonstruksi momen-momen indah dari masa lalu sebelum memori kolektif umat manusia benar-benar HILANG.
Setiap malam, aku duduk di balkon apartemenku, memandang layar holografis yang menampilkan cuplikan-cuplikan Jakarta lampau. Disitulah aku melihatnya. Di antara klip festival musik tahun 2020, seorang pria dengan rambut gondrong dan senyum miring, memegang gitar lusuh. Namanya Bima.
Bima, si gitaris, hidup di dunia yang berbeda. Dunia di mana sinyal Wi-Fi masih kuat dan pesan "sedang mengetik" benar-benar bermakna. Aku bisa merasakan getaran vibrasi hatinya melalui distorsi temporal yang diciptakan layar itu. Kami berkomunikasi melalui glitches.
"Anya... siapa kamu?" tulisnya suatu malam, pesan itu muncul dengan font Times New Roman yang absurd di tengah visualisasi 8-bit kembang api.
"Aku masa depanmu yang RUSAK, Bima," balasku, mengetikkan responsku di keyboard virtual yang bergetar.
Dia tertawa. Tawa yang renyah, terdengar seperti derit kaset usang. "Masa depan yang rusak? Kedengarannya menarik. Masa depanku diisi wanita dengan rambut pirang dan mobil terbang, bukan arsitek kenangan."
Perbincangan kami menjadi rutinitas. Di tengah kebisingan dunia yang sekarat, suara Bima adalah melodi yang menenangkan. Aku menceritakan tentang langit karat dan kelangkaan air bersih. Dia menceritakan tentang konser di Senayan dan kopi susu kekinian.
Suatu hari, langit Jakarta benar-benar menolak pagi. Matahari gagal menembus kabut metalik. Sistem peringatan dini meraung. Aku tahu ini akhir.
Aku melihat Bima di layar. Dia sedang duduk di pinggir danau, memetik gitarnya. Wajahnya penuh kesedihan.
"Anya," bisiknya, suaranya nyaris tenggelam dalam statik. "Aku merasakan sesuatu yang aneh. Seolah-olah... seolah-olah aku mengingat sesuatu yang belum terjadi."
Kemudian, DIA muncul. Di belakang Bima, siluet seorang wanita. Wanita itu mengenakan kalung dengan liontin berbentuk arsitektur gedung-gedung di masaku.
"Siapa itu?" tanyaku, suaraku bergetar.
Bima menoleh. Matanya membelalak. "Anya... itu kamu?"
Layar berkedip. Visualisasi mulai BERANTAKAN.
Aku menyadari. Bima tidak hidup di masa lalu. Dia hidup di antara. Di celah waktu. Wanita itu, yang kukira diriku di masa lalu, adalah versi Bima yang MENGINGATKU. Kami adalah ekuasi cinta yang tidak pernah terpecahkan, hidup dalam loop temporal, mencari pantulan satu sama lain.
Langit bergemuruh. Layar mati.
… dan mungkin, itulah pesan terakhir yang akan pernah didengar dunia ini.
You Might Also Like: 56 Why Cockroach Bite Eyes Unveiling
0 Comments: