Lembah Baihua, dulu tempat tawa kami bergema, kini sunyi membeku. Di bawah pohon sakura yang bunganya mulai berguguran, aku berdiri. Angin ...

Drama Baru! Bayangan Yang Menyatu Dengan Angin Pagi Drama Baru! Bayangan Yang Menyatu Dengan Angin Pagi

Drama Baru! Bayangan Yang Menyatu Dengan Angin Pagi

Drama Baru! Bayangan Yang Menyatu Dengan Angin Pagi

Lembah Baihua, dulu tempat tawa kami bergema, kini sunyi membeku. Di bawah pohon sakura yang bunganya mulai berguguran, aku berdiri. Angin pagi menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan kenangan... tentang dia.

Li Wei, pangeran yang menjanjikan matahari dan bulan, kini hanya bayangan yang menghantui. Dulu, di bawah pohon sakura inilah, dia berjanji akan menikahiku, Mei Lian, gadis desa biasa yang dia sebut 'bintangnya'. Dia berbisik tentang mahkota yang akan kupakai, tentang istana yang akan menjadi rumah kita. Janji-janji itu terukir di hatiku, menjadi nyala yang menghangatkan jiwa di tengah dinginnya kehidupan.

Namun, dunia istana kejam. Ambisi dan intrik meracuni hatinya. Demi tahta, dia menikahi putri jenderal, sebuah aliansi yang mengamankan kekuasaannya. Aku ditinggalkan, janji-janji itu menjadi abu yang beterbangan ditiup angin. Setiap kelopak sakura yang jatuh seperti air mata yang tak henti menetes. Hatiku hancur berkeping-keping.

Lima tahun berlalu. Li Wei naik tahta, menjadi kaisar yang disegani. Aku? Aku memilih mengasingkan diri, belajar meramu obat dan menyembuhkan luka, baik luka fisik maupun luka hati. Aku memendam amarah, membiarkannya tumbuh menjadi pohon berduri yang melilit jiwaku.

Hari ini, aku di sini, di lembah Baihua. Bukan untuk mengenang cinta, tetapi untuk mengucapkan selamat tinggal. Kaisar Li Wei memerintahkan pengawalnya untuk mencariku. Katanya, dia menyesal. Katanya, dia ingin menebus kesalahannya.

Saat pengawal itu menemukanku, matanya menunjukkan ketakutan. Dia tahu apa yang kubawa. Bukan racun mematikan, tapi obat yang sangat manjur. Obat untuk penyakit yang diderita sang kaisar. Penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya, membuat setiap hari menjadi siksaan.

Aku memberinya obat itu dengan senyum tulus. "Ini, Yang Mulia," kataku, "obat untuk menyembuhkanmu. Resep dari bintangmu yang dulu."

Beberapa minggu kemudian, berita kematian kaisar Li Wei mengguncang kekaisaran. Penyakitnya terlalu parah, kata tabib istana. Tidak ada yang tahu bahwa 'obat' yang kuberikan hanyalah penawar rasa sakit yang membungkam penyakitnya, mempercepat kematiannya dengan halus dan tak terdeteksi. Tidak ada yang tahu, kecuali aku.

Aku kembali ke gubukku di lembah Baihua. Angin pagi menyapu wajahku, membawa aroma sakura dan debu kematian. Aku menatap langit, merasakan beban yang selama ini membelenggu hatiku sedikit terangkat. Balas dendam? Mungkin. Atau mungkin, hanya takdir yang menuntut keadilan atas hati yang dilukai.

Apakah cinta yang membawaku padanya, atau dendam yang membawanya padaku, aku sendiri tak lagi tahu...

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama

0 Comments: