Butir-butir hujan jatuh dengan kejamnya di atap paviliun usang itu, persis seperti kenangan yang menghantam hatiku. Lima belas tahun telah ...

Drama Abiss! Air Mata Yang Menjadi Penutup Kisah Drama Abiss! Air Mata Yang Menjadi Penutup Kisah

Drama Abiss! Air Mata Yang Menjadi Penutup Kisah

Drama Abiss! Air Mata Yang Menjadi Penutup Kisah

Butir-butir hujan jatuh dengan kejamnya di atap paviliun usang itu, persis seperti kenangan yang menghantam hatiku. Lima belas tahun telah berlalu sejak terakhir kali aku menatap matanya, mata yang dulu penuh cinta, kini hanya menyisakan kehampaan yang dingin.

Ling Xian berdiri di depanku, sosoknya dibalut jubah sutra hitam, wajahnya setenang danau es. Dulu, ia adalah matahariku, sumber kehangatan di musim dingin yang panjang. Dulu.

"Kau datang," ucapnya, suaranya sedingin angin yang berhembus dari pegunungan.

Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat. Bau dupa dan tanah basah menusuk hidungku, menambah berat suasana. Paviliun ini... dulu adalah tempat kami memadu kasih, saksi bisu janji-janji abadi yang kini terasa seperti lelucon kejam.

"Untuk apa kau memanggilku ke sini?" tanyaku, berusaha mengendalikan suara yang bergetar.

Bayangan kami memanjang dan patah di lantai paviliun, diterangi oleh cahaya lentera yang nyaris padam. Simbol yang sempurna untuk hubungan kami. Ling Xian bergeming, menatapku dengan tatapan yang sulit kupahami. Ada kesedihan di sana, tapi juga... sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap.

"Dulu, aku percaya padamu, Mei Hua," bisiknya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru hujan. "Aku memberikan segalanya. Jantungku, jiwaku, kerajaanku... semuanya."

Setiap kata itu seperti pisau yang mengiris dagingku. Aku menunduk, tidak sanggup menatap matanya. Ia tahu. Ia tahu tentang pengkhianatan itu. Pengkhianatan yang kulakukan demi menyelamatkan klanku, demi menghindari kehancuran total.

"Aku tahu kau mengkhianatiku," lanjutnya, suaranya kini tajam seperti belati. "Demi mereka, kau menusukku dari belakang. Kau menghancurkan segalanya."

Aku ingin membantah, ingin menjelaskan alasanku, tapi bibirku terasa kelu. Apa gunanya? Kata-kata tidak akan bisa mengembalikan waktu. Kata-kata tidak akan bisa menghapus rasa sakit yang kurasakan dan yang pasti ia rasakan jauh lebih dalam.

Ling Xian mendekat, langkahnya ringan namun mengancam. Ia meraih daguku, mengangkat wajahku hingga aku terpaksa menatapnya.

"Selama lima belas tahun ini," bisiknya, napasnya menerpa wajahku, "aku hidup dalam neraka. Memendam dendam. Merencanakan... balas dendam."

Aku merasakan hawa dingin menjalar di seluruh tubuhku. Aku menatap matanya, dan di sana, aku melihatnya. Bukan lagi Ling Xian yang kukenal, tapi monster yang haus darah.

"Kau pikir, selama ini aku hanya meratapi nasibku? Kau salah. Aku memanfaatkan setiap detik untuk mempersiapkan ini. Hari ini," katanya, senyum tipis terukir di bibirnya, "hari pembalasanku tiba."

Cahaya lentera berkedip sekali lagi, lalu padam. Paviliun itu tenggelam dalam kegelapan total, hanya menyisakan suara hujan yang semakin menggila. Aku merasakan sebuah benda tajam menempel di leherku.

"Kau tahu, Mei Hua," bisiknya, suaranya berbisik di telingaku, "aku selalu menyukai bunga teratai. Indah... dan mematikan."

Ia menjauhkan benda tajam itu dari leherku.

"Kenangan kita akan selalu ada, Mei Hua, namun satu hal yang perlu kau ingat: Semua air mata yang kau teteskan selama ini...". Ia berhenti sejenak, menatap mataku dengan pandangan dingin. "...semua itu adalah pupuk yang menyuburkan rencanaku selama ini."

You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis Rumahan

0 Comments: