Judul: Abu dari Surat yang Tak Terkirim Hujan menggigil membasahi paviliun tua itu. Ning Yue menatapnya dari balik jendela berukir, tangan...

Cerpen Keren: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya Cerpen Keren: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya

Cerpen Keren: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya

Cerpen Keren: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya

Judul: Abu dari Surat yang Tak Terkirim Hujan menggigil membasahi paviliun tua itu. Ning Yue menatapnya dari balik jendela berukir, tangannya memegang secangkir teh hangat yang terasa hambar. Lima tahun. Lima tahun sejak hari itu. Aroma melati yang dulu menenangkan kini terasa seperti racun, mengingatkannya pada taman rahasia tempat janji diucapkan dan dilanggar. Dia ingat surat-surat itu. Surat-surat cinta dari Lin Wei, penuh puisi dan harapan. Surat-surat yang dibacanya diam-diam di bawah cahaya lentera yang berkedip, surat-surat yang dibakarnya sebelum Lin Wei tahu Ning Yue pernah menyentuhnya. Balas dendam yang dimulai sejak saat itu. Lin Wei… Wajahnya muncul di benak Ning Yue, dibayangi rasa bersalah dan benci yang bercampur aduk. Dulu, matanya bersinar penuh cinta, sekarang hanya terpancar kebingungan dan sedikit… penyesalan? Ning Yue tidak yakin. Yang dia tahu pasti adalah pengkhianatan Lin Wei meninggalkan luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan. "Nyonya Ning," suara pelayan membuyarkan lamunannya. "Tuan Lin Wei sudah menunggu di ruang teh." Ning Yue menghela napas panjang. Pertemuan ini sudah direncanakannya dengan matang. Setiap detail, setiap kata, setiap gerak tubuh, semuanya adalah bagian dari rencana yang sudah dipikirkan selama lima tahun. Dia meletakkan cangkirnya. "Mari kita selesaikan ini," bisiknya pada diri sendiri. Ruang teh terasa dingin, meski perapian menyala terang. Lin Wei berdiri di depan jendela, membelakanginya. Bayangannya yang patah tercermin di kaca. Ning Yue merasakan sentakan di hatinya. Dia dulu mencintai bayangan itu. "Lin Wei," sapanya datar. Lin Wei berbalik. Matanya sayu. "Ning Yue… terima kasih sudah bersedia bertemu." "Sudah lama," jawab Ning Yue, duduk di kursi di seberang meja. "Terlalu lama." Percakapan selanjutnya berlangsung dengan canggung, dipenuhi basa-basi dan kenangan pahit yang berusaha dikubur. Ning Yue melihat Lin Wei berusaha keras, tetapi dia sudah menutup hatinya. Baginya, Lin Wei adalah representasi dari rasa sakit dan kehilangan. Saat malam semakin larut, Ning Yue akhirnya mengutarakan apa yang sebenarnya ingin dikatakannya. Dengan suara tenang namun menusuk, dia mengungkap semua kebohongan Lin Wei, semua pengkhianatan yang selama ini dia simpan rapat-rapat. Lin Wei terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. "Ning Yue… aku…" "Terlambat, Lin Wei," potong Ning Yue. "Terlambat untuk meminta maaf. Terlambat untuk menjelaskan. Kamu menghancurkan segalanya." Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik lengan bajunya. Kotak itu terbuat dari kayu cendana, diukir dengan rumit. "Aku ingin kamu tahu apa yang kulakukan dengan surat-surat cintamu," katanya, membuka kotak itu. Di dalamnya, bukan surat-surat cinta yang diharapkan Lin Wei. Melainkan… abu. Abu halus dari surat-surat yang dulu membara dengan harapan dan janji. "Aku membakar setiap kata yang pernah kamu tulis. Aku menyimpan abunya sebagai pengingat akan **KEBOHONGANMU**." Lin Wei menatap abu itu dengan tatapan kosong. Kemudian, perlahan, dia berlutut. Ning Yue berdiri, menatapnya dengan dingin. "Sekarang, pergilah. Jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku lagi." Lin Wei pergi tanpa sepatah kata pun. Ning Yue tetap berdiri di sana, menatap perapian yang menyala. Hujan di luar semakin deras. Dia sudah membalas dendam. Dia sudah menghancurkan Lin Wei. Tapi… mengapa hatinya terasa lebih hampa dari sebelumnya? Dia teringat akan satu-satunya surat yang tidak dibakarnya. Surat yang disimpannya di tempat tersembunyi, surat yang ditulisnya untuk Lin Wei sebelum semuanya hancur. Surat yang berisi… *Pengakuan bahwa dia juga memiliki andil dalam pengkhianatan itu, sebuah rencana yang lebih licik dari yang Lin Wei bayangkan.*
You Might Also Like: Unlock Ultimate Study Hack Free

0 Comments: