## Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas dari Bayanganku Hujan berbisik di kaca jendela, sama seperti bisikan masa lalu ya...

Kisah Seru: Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas Dari Bayanganku Kisah Seru: Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas Dari Bayanganku

Kisah Seru: Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas Dari Bayanganku

Kisah Seru: Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas Dari Bayanganku

## Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas dari Bayanganku Hujan berbisik di kaca jendela, sama seperti bisikan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Aroma teh melati memenuhi ruangan, aroma yang selalu mengingatkanku pada senyumnya – senyum yang dulu *ku kira* hanya untukku. Dia, Lin Yi, duduk di hadapanku, bayangan seorang pria yang pernah kukenal. Dulu, ia adalah matahariku, sumber kehangatan dan cahaya. Sekarang, matanya hanya memancarkan penyesalan yang tumpul, seperti bintang yang sekarat. "Xiao Lan..." Suaranya serak, diterpa badai kehidupan yang mungkin sama kejamnya denganku. "Aku tahu... aku tahu aku menyakitimu. Aku... aku tidak punya alasan." Aku mengangkat cangkir teh, bibirku bergetar menahan emosi. Aku tidak butuh alasannya lagi. Alasan hanyalah kata-kata kosong, tak mampu mengembalikan kepingan hati yang ia hancurkan. Momen itu terasa membeku. Di antara kami, terbentang jurang yang lebih dalam dari palung Mariana, jurang yang digali oleh kebohongannya, oleh ambisinya yang **MENGGILA**. Jurang yang dipenuhi bunga-bunga layu dari janji-janji yang dilanggar. "Kau bilang aku masa lalumu," ujarku, suaraku pelan namun tajam seperti pecahan kaca. "Tapi kau tak pernah benar-benar melepaskanku dari ingatanmu, kan?" Ia menunduk, tidak berani menatap mataku. "Aku... aku menyesal, Xiao Lan. Sungguh." Penyesalan? Kata itu terasa hambar di telingaku. Ia memilih kekuasaan, memilih status, memilih wanita lain yang bisa membantunya meraih semua itu. Ia meninggalkan aku, seorang gadis biasa dengan impian sederhana bersamanya. Tahun-tahun berlalu. Aku membangun kerajaan sendiri, kerajaan yang lebih kokoh, lebih megah, dan lebih *berharga* dari apa pun yang pernah ia impikan. Aku, Xiao Lan yang dulu ditinggalkannya, kini adalah orang yang ia butuhkan. Ia datang padaku, menjilat lukanya, berharap aku akan kembali menjadi perbannya. "Aku bisa membantumu, Lin Yi," kataku, memberikan senyum yang terasa seperti belati berlapis sutra. "Aku bisa membantumu mendapatkan kembali apa yang telah kau hilangkan." Ia mengangkat wajahnya, secercah harapan menyala di matanya. Ia tidak tahu bahwa bantuanku memiliki harga yang sangat mahal. Harga yang akan menggerogoti jiwanya perlahan-lahan, menjadikannya bonekaku, bidak dalam permainan yang baru saja dimulai. Aku melihatnya, Lin Yi yang dulu kucintai, kini hanya pion dalam rencanaku. Rencana yang bukan aku yang susun, melainkan takdir, atau mungkin… karma. Hujan semakin deras, menutupi suaranya saat ia berjanji akan melakukan apa saja untukku. Aku tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata. Aku akan membuatnya mencintaiku lagi, *SEBELUM* aku menghancurkannya.
You Might Also Like: 69 Happy Fathers Day In Heaven Quotes

0 Comments: