Baik, ini dia dracin pendek yang Anda minta: *** **Aku Menatap Pedang di Tanganku, Tapi Yang Kulihat Hanya Matamu.** Lorong istana dingin. K...

TOP! Aku Menatap Pedang Di Tanganku, Tapi Yang Kulihat Hanya Matamu. TOP! Aku Menatap Pedang Di Tanganku, Tapi Yang Kulihat Hanya Matamu.

TOP! Aku Menatap Pedang Di Tanganku, Tapi Yang Kulihat Hanya Matamu.

TOP! Aku Menatap Pedang Di Tanganku, Tapi Yang Kulihat Hanya Matamu.

Baik, ini dia dracin pendek yang Anda minta: *** **Aku Menatap Pedang di Tanganku, Tapi Yang Kulihat Hanya Matamu.** Lorong istana dingin. Kabut tipis merayap di lantai marmer, menelan pantulan obor-obor yang berkedip enggan. Sepi. Sunyi yang menusuk tulang, seolah dinding-dinding batu itu menyimpan jeritan bisu para penghuni yang telah lama pergi. Di ujung lorong, sosok itu berdiri. Gao Liang. Dianggap mati sepuluh tahun lalu dalam pemberontakan yang berdarah. Kini, ia kembali. Jubahnya berkibar tertiup angin yang entah dari mana datangnya, menyembunyikan siluet tubuh yang lebih tegap dari yang diingat siapa pun. Di tangannya, terhunus **_Pedang Bulan Sabit_**. Permata safir di gagangnya berkilauan remang, memantulkan bayangan wajahnya yang tenang. Terlalu tenang. "Kau kembali," suara itu memecah keheningan. Kaisar, duduk di singgasananya yang sementara, matanya menyipit meneliti sosok di hadapannya. "Aku kira... kau sudah menjadi debu." Gao Liang tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, satu langkah, kemudian langkah berikutnya. Setiap langkahnya bergema di lorong, mengiris kesunyian. "Mengapa?" desis Kaisar, suaranya bergetar nyaris tak terdengar. "Mengapa kau kembali setelah semua ini? Untuk membalas dendam?" Gao Liang berhenti tepat di hadapan singgasana. Matanya, sedalam sumur tua, menatap lurus ke mata Kaisar. "Dendam adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul, Paduka. Aku kembali untuk _kebenaran_." "Kebenaran apa lagi yang kau cari? Semua sudah jelas. Kau berkhianat. Kau memberontak. Kau kalah." Nada suara Kaisar mulai meninggi, mencoba menutupi ketakutan yang merayap di hatinya. Gao Liang tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Apakah aku benar-benar kalah, Paduka? Ataukah aku hanya bermain peran dengan sangat baik?" Ia mengangkat Pedang Bulan Sabit. Cahaya safir menari-nari di wajah Kaisar, menyoroti keringat dingin yang membasahi pelipisnya. "Aku menatap pedang di tanganku," ucap Gao Liang, suaranya seperti bisikan angin. "Tapi yang kulihat... hanya matamu. Mata seorang pengkhianat sejati. Mata seorang _boneka_." Kaisar terhuyung ke belakang, tangan gemetar mencengkeram lengan singgasana. "Apa... apa yang kau katakan?" "Sepuluh tahun lalu," Gao Liang melanjutkan, nadanya lembut namun menusuk, "aku sengaja dikorbankan. Sebagai kambing hitam. Sebagai pengalih perhatian. Sementara kau, Paduka...kau merangkak naik ke tampuk kekuasaan, memanfaatkan kekacauan yang aku ciptakan." Kabut di lorong semakin tebal, menyelimuti singgasana seperti kain kafan. "Kau pikir aku mati," bisik Gao Liang. "Kau pikir aku terlupakan. Tapi aku mengawasimu, Paduka. Dari balik bayangan. Aku menarik benang-benang takdirmu, selangkah demi selangkah, sampai tiba saatnya aku kembali." Kaisar berusaha mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap Gao Liang dengan mata yang penuh ketakutan. Ketakutan yang jauh lebih besar dari ketakutan akan kematian. "Kau pikir aku adalah korban?" Gao Liang tertawa pelan, tawa yang lebih menakutkan dari raungan iblis. "Oh, Paduka... _akulah yang menciptakan korban_." Gao Liang mengayunkan Pedang Bulan Sabit. Bayangan bilah pedang menari di wajah Kaisar, mengukir garis kematian di dahinya. "Dan sekarang," bisik Gao Liang, "pertunjukan ini... selesai." *** *Karena bahkan seorang *PEMBELA* pun bisa menjadi *DALANG*.*
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Viral Di Tiktok

0 Comments: