Oke, siap. Inilah kisah pendeknya: **Senja Berlumur Gerimis** Gerimis menggigil menyapu Kota Tua, membasahi jalanan batu yang licin dan mema...

Absurd tapi Seru: Senyum Yang Meninggalkan Jejak Dosa Absurd tapi Seru: Senyum Yang Meninggalkan Jejak Dosa

Absurd tapi Seru: Senyum Yang Meninggalkan Jejak Dosa

Absurd tapi Seru: Senyum Yang Meninggalkan Jejak Dosa

Oke, siap. Inilah kisah pendeknya: **Senja Berlumur Gerimis** Gerimis menggigil menyapu Kota Tua, membasahi jalanan batu yang licin dan memantulkan cahaya lentera yang *nyaris padam*. Aroma tanah basah bercampur dengan bau kedai arak yang menyengat. Di tengah hiruk pikuk itu, Lin berdiri tegak, siluetnya terpahat di antara bayangan-bayangan *patah* yang menari-nari di dinding. Sepuluh tahun telah berlalu. Sepuluh tahun sejak malam itu, malam ketika Jian, cintanya, kekasihnya, memilih *DIA*. Lin menggenggam erat kalung giok di lehernya, hadiah dari Jian bertahun-tahun lalu. Sentuhan dingin batu giok itu bagai belati yang menusuk jantungnya. Ingatan itu, ingatan tentang Jian yang berjanji akan selalu mencintainya, kini terasa seperti racun yang menggerogoti jiwanya. "Lin?" Suara itu, suara yang dulu membuatnya tergetar, kini terdengar hambar dan jauh. Jian berdiri di hadapannya, wajahnya menua, garis-garis kekhawatiran terukir jelas di pelipisnya. Dia memandangnya dengan mata penuh penyesalan, mata yang dulu begitu memuja dirinya. "Apa yang kau inginkan?" tanya Lin, suaranya setajam es. Jian menghela napas. "Aku... aku ingin meminta maaf." Lin tertawa sinis. Tawa itu pahit, kering, dan tidak sampai ke matanya. "Maaf? Setelah sepuluh tahun? Maaf untuk apa? Untuk menghancurkan hidupku? Untuk mencabik-cabik hatiku?" Hujan semakin deras. Air mata bercampur dengan air hujan, membasahi wajah Lin. Dia mengangkat dagunya, menantang Jian dengan tatapan dingin. "Kau tahu, Jian," bisik Lin, suaranya rendah dan mematikan. "Selama ini, aku selalu bertanya-tanya, mengapa kau memilihnya. Mengapa kau mengkhianatiku. Aku menghabiskan bertahun-tahun dalam kegelapan, merencanakan..." Dia berhenti, menikmati ekspresi kebingungan dan ketakutan di wajah Jian. "Aku merencanakan *balas dendam*." Jian mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Balas dendam? Apa yang kau bicarakan, Lin?" Lin tersenyum, senyum yang tidak pernah lagi menyentuh hatinya. Senyum yang *MENINGGALKAN JEJAK DOSA*. "Kau tahu, Jian, selama ini aku diam. Aku membiarkanmu bahagia. Aku membiarkanmu menjalani hidupmu. Tapi, *semua itu hanyalah bagian dari rencanaku*." Lin mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga Jian, sesuatu yang membuatnya limbung dan hampir jatuh. "DIA… ***adalah adikmu.***"
You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Kosmetik

0 Comments: