**Langit yang Membuka Bab Baru** Hujan berbisik di atas nisan. Butiran air menari di atas batu pualam dingin, seolah mencoba membangkitkan kenangan yang terpendam. Di antara kabut senja yang merayap, sebuah siluet hadir. Bukan manusia, bukan pula hantu yang menakutkan, melainkan *roh*, terikat pada dunia yang ditinggalkannya. Namanya Lin Wei. Ia pergi terlalu cepat, dijemput maut sebelum sempat menuntaskan kata-kata yang mengganjal di tenggorokan. Kini, ia kembali. Bukan untuk membalas dendam, walau luka itu masih *MENGANGA* di relung jiwanya. Bukan untuk menakut-nakuti mereka yang ditinggalkannya, walau bayangannya seringkali menolak untuk pergi. Setiap langkahnya adalah hembusan nafas panjang, setiap desahannya adalah doa yang tak terucapkan. Ia mengembara di antara dunia nyata dan alam baka, mencari jejak-jejak yang ditinggalkannya. Rumahnya, tempat ia menghabiskan masa kecil yang bahagia, kini terasa asing. Orang-orang yang ia cintai, kini hidup dalam bayang-bayang kesedihan. Lin Wei menyaksikan ibunya menabur bunga di pusaranya, air mata yang tak pernah kering membasahi pipi keriputnya. Ia melihat sahabatnya, Xiao Ming, termenung di bangku taman, menatap langit dengan tatapan kosong. Ia mendengar bisikan-bisikan tentang dirinya, tentang penyesalan, tentang janji yang tak terpenuhi. Ia mencoba berkomunikasi, membisikkan kebenaran, mengirimkan *ISYARAT* melalui angin, melalui tetesan hujan, melalui cahaya lilin yang berkedip. Namun, dunia hidup tuli akan kehadirannya. Mereka hanya melihat bayangan, merasakan hawa dingin, mendengar suara aneh di tengah malam. Mereka tidak tahu, di antara mereka berdiri seorang roh yang merindukan kedamaian. Perlahan, kepingan-kepingan masa lalu mulai tersusun. Ia mengingat percakapan terakhirnya dengan ayahnya, pertengkaran sengit yang dipicu oleh kesalahpahaman. Ia mengingat janjinya pada Xiao Ming, janji untuk selalu ada, janji yang *DIINGKARI* oleh takdir. Ia mengingat rahasia yang ia simpan rapat-rapat, rahasia yang kini menjadi beban di jiwanya. Semakin lama ia berada di dunia ini, semakin ia menyadari bahwa apa yang ia cari bukanlah pengakuan, bukanlah permintaan maaf. Ia mencari *KEDAMAIAN*. Kedamaian untuk dirinya sendiri, kedamaian untuk orang-orang yang ditinggalkannya. Ia ingin agar ibunya bisa tersenyum lagi, agar Xiao Ming bisa menemukan kebahagiaan, agar ayahnya bisa memaafkannya. Di suatu malam yang sunyi, saat hujan kembali membasahi makamnya, Lin Wei menemukan jawabannya. Ia melepaskan rahasia itu, ia membisikkannya ke telinga angin, ia mengirimkannya ke alam semesta. Ia memaafkan dirinya sendiri, ia memaafkan orang lain. Beban itu terangkat, jiwanya terasa ringan. Lalu, ia menatap langit. Langit yang tadinya kelabu, kini mulai memancarkan cahaya. Langit yang dulunya tertutup, kini membuka babak baru. Ia berbalik, menatap dunia yang ditinggalkannya dengan tatapan teduh. Dan seperti itulah, ia pergi, menyisakan satu kalimat yang menggantung, seolah arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya...
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Untuk

0 Comments: