**CINTA YANG MENUNTUT DARAH** Kabut *ungu* menyelimuti Danau Bulan Sabit, menyembunyikan permadani air di bawah kerudung mimpi. Di sana, di tepi waktu yang membeku, berdiri Paviliun Anggrek, rapuh dan sunyi seperti ***hati*** yang terluka. Di sanalah, aku pertama kali melihatnya. Senyumnya adalah rembulan yang mencair, membasahi kalbuku yang kering kerontang. Gaun sutranya, sehalus *bisikan angin*, menari mengelilingi tubuhnya, seakan dia adalah dewi yang turun dari langit yang **terlupa**. Namanya, bisik-bisikku dengar dari gema danau, adalah Lian, sang Bunga Teratai yang tak pernah layu. Kami bertemu dalam *mimpi* yang sama, di bawah pohon sakura yang tak pernah berbunga di dunia nyata. Di sana, dia melukis wajahku dengan kuas cahaya rembulan, menyematkan senyum di bibirku yang beku. Cintanya adalah cawan madu yang memabukkan, tapi di dasarnya, tersembunyi racun *mematikan*. Setiap malam, aku menembus tirai mimpi, bergegas menuju Lian. Kami menari di atas awan, mengukir janji abadi di atas pasir waktu. Namun, setiap pagi, aku terbangun dengan tetesan air mata di pipi dan perasaan *kehilangan* yang tak tertahankan. Aku mulai menyelidiki asal-usul Lian. Ku bertanya pada para bijak yang tinggal di puncak gunung berkabut, pada para pertapa yang mengasingkan diri di gua-gua terpencil. Mereka hanya menggelengkan kepala, menatapku dengan mata kosong, seolah aku berbicara dalam bahasa yang **punah**. Sampai suatu malam, seorang peramal buta, dengan suara serak dan *menakutkan*, mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi. "Lian," katanya, "adalah arwah seorang putri yang dikorbankan demi *memenangkan* perang. Cintanya adalah kutukan, dan setiap hati yang ia sentuh, akan *membusuk* perlahan." Pengungkapan itu bagai pedang dingin yang menembus jantungku. Aku, seorang pelukis istana yang rendah hati, telah jatuh cinta pada hantu yang haus darah! Semua senyumnya, semua sentuhannya, adalah **ilusi** untuk menarikku ke dalam jurang bersamanya. Aku berlari kembali ke Danau Bulan Sabit, berharap bisa menghapus Lian dari ingatanku, dari *keberadaanku*. Namun, di sana, di bawah Paviliun Anggrek yang hancur, dia menungguku. Matanya yang dulu bersinar, kini dipenuhi kesedihan yang tak terhingga. "Maafkan aku," bisiknya, air mata mengalir di pipinya yang pucat. "Aku tidak ingin melukaimu, tapi takdirku adalah *mengutuk* siapa pun yang mencintaiku." Dia menghilang, bersamaan dengan terbitnya matahari. Danau Bulan Sabit kembali sunyi, hanya menyisakan aku dan rasa sakit yang abadi. Aku tahu, meski aku mencoba melupakannya, Lian akan selalu menjadi bagian dari diriku, **cinta yang menuntut darah**. Di tangan kananku, ku temukan kuas yang dulu dia gunakan untuk melukis wajahku. Kuas itu berlumuran darah... Darah yang **bukan** milikku. *Mungkin, di kehidupan sebelumnya, aku adalah algojo yang membunuhnya.*
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Skincare

0 Comments: