**Cinta yang Tumbuh dari Abu Dendam** Kabut menggantung rendah di puncak Gunung Cangshan, menyelimuti paviliun terpencil bagai mimpi buruk yang menjadi nyata. Di dalamnya, berdiri Ling, seorang pria dengan tatapan **DINGIN** dan jubah hitam yang menutupi luka bakar di sekujur tubuhnya. Dulu, ia dikenal sebagai Pangeran Rui, pewaris tahta yang tewas dalam pemberontakan sepuluh tahun lalu. Sekarang, ia kembali, bukan sebagai pangeran, melainkan bayangan dendam. Di hadapannya, duduk Nyonya Agung Mei Lan, wanita anggun dengan senyum setenang danau di musim gugur. Gaun sutra berwarna nila yang dikenakannya menyiratkan kekuasaan yang tak tertandingi. Sepuluh tahun lalu, ia adalah tunangan Pangeran Rui, seorang wanita yang berduka atas kematian kekasihnya. Kini, ia adalah *permaisuri* yang mengatur seluruh negeri dengan tangan besi. "Pangeran Rui... atau seharusnya aku memanggilmu Ling?" suara Mei Lan lembut, namun menusuk seperti jarum es. "Sudah lama sekali. Kupikir kau sudah mati." Ling tersenyum pahit. "Kematian hanyalah awal dari babak baru, Nyonya Agung. Babak di mana kebenaran akan terungkap." Ia melangkah mendekat, aroma dupa cendana dan bau obat-obatan pahit memenuhi udara. "Bukankah begitu, *pembunuh*?" Lorong istana terasa sunyi, hanya terdengar gemericik air dari air mancur batu giok. Di dalam paviliun, waktu seolah berhenti. "Kau menuduhku?" Mei Lan tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk meremang. "Aku, yang meratapi kepergianmu selama bertahun-tahun? Aku, yang membangun kuil untuk mengenangmu?" "Kuil dan air mata adalah topeng yang sangat bagus, Nyonya Agung. Tapi abu tidak bisa menyembunyikan api." Ling mengangkat tangannya yang penuh luka bakar. "Aku melihatmu, Mei Lan. Malam itu, di tengah kobaran api. Kau tersenyum." Mei Lan bangkit berdiri, pandangannya tajam seperti belati. "Kebencian membuatmu buta, Ling. Kau *salah*." "Benarkah? Lalu, bagaimana kau bisa tahu kata sandi untuk membuka brankas rahasia kerajaan? Brankas yang berisi bukti pengkhianatanmu?" Ling menyeringai. "Oh, maaf. Aku lupa. Mungkin, 'kekasih yang berduka' itu secara kebetulan menemukannya saat *berencana* untuk membunuh seluruh keluargaku." Keheningan mencengkeram ruangan. Mei Lan tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Ling dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, ia tersenyum—senyum yang benar-benar **MENGERIKAN**. "Kau pintar, Ling. Lebih pintar dari yang kukira. Tapi kau lupa satu hal." Ia mendekat, membisikkan kata-kata yang membuat darah Ling membeku. "Kau lupa bahwa dalam permainan ini, aku yang menciptakan *papan*nya." Udara terasa berat, pengap. Rahasia kelam yang selama ini tersembunyi di balik kabut pegunungan akhirnya terungkap. Mei Lan, yang selama ini dianggap korban, ternyata dalang di balik segalanya. Dendam Ling, yang selama ini membakar hatinya, ternyata hanyalah *bidak* dalam rencana yang jauh lebih besar. Mei Lan menjauh, tatapannya dingin. "Kau pikir kau kembali untuk membalas dendam? *Tidak*. Kau kembali untuk *memenuhi* takdirku." *** Dan di dalam keheningan yang memekakkan telinga, Ling menyadari bahwa cintanya, dendamnya, hidupnya—semuanya adalah bagian dari rencana yang telah dirancang sejak lama. Rencana yang tidak mungkin ia hindari, karena *ia tidak pernah punya pilihan*.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Modal Kecil

0 Comments: