## Aku Menunggumu Bahkan Setelah Takdir Berhenti Bekerja Hujan kota Seoul berdentang di jendela kafe, persis seperti notifikasi yang dulu membanjiri ponselku. Sekarang, hanya ada *hening*. Aroma kopi pahit terasa seperti sisa-sisa obrolan kita, manis di awal, getir di akhir. Layar ponselku menampilkan chat yang tak terkirim, serangkaian kata yang membeku di ambang jari, menunggu jawaban yang tak pernah datang. Kita bertemu di dunia *maya*, di antara *like* dan komentar. Kamu, dengan senyum yang mencairkan es dan kata-kata yang menenun mimpi. Aku, yang terpikat dalam jaring maya keindahanmu. Kita membangun kastil dari notifikasi, merajut kisah dari emoji dan stiker lucu. Kita tertawa, berdebat, dan berjanji di bawah *cahaya biru* layar ponsel. Namun, takdir punya selera humor yang kejam. Tiba-tiba, kamu menghilang. Jejak digitalmu memudar seperti bayangan di tengah hujan. Nomor ponselmu tak aktif, akun media sosialmu terkunci rapat. *Semua hilang*. Perasaan kehilangan ini aneh. Bukan sekadar patah hati, tapi seperti kehilangan separuh dari diri sendiri. Seperti mimpi buruk yang berulang, setiap malam aku bertanya-tanya, *mengapa*? Mengapa kamu meninggalkanku tanpa penjelasan? Mengapa kamu menghapus jejak kita seolah-olah kita tak pernah ada? Bertahun-tahun berlalu. Aku mencoba melupakan, mencoba membangun kembali hidupku. Namun, ada satu kenangan yang tak bisa kuhapus: sebuah foto polaroid yang kamu berikan padaku, di baliknya tertulis, "Aku akan selalu menunggumu di bawah bintang-bintang." Di suatu malam yang dingin, sebuah notifikasi muncul di ponselku. Sebuah pesan dari nomor yang tak kukenal: "Maafkan aku." Jantungku berdebar kencang. Aku membalas: "Siapa ini?" Lalu, sebuah foto dikirim. Sebuah foto diriku, sedang tertidur di bangku taman di musim semi, difoto dari kejauhan. Di belakangku, berdiri seorang pria, siluetnya samar namun aku tahu itu *kamu*. Rahasia akhirnya terungkap. Kamu sakit. Parah. Kamu tak ingin aku melihatmu dalam keadaan lemah. Kamu ingin aku mengingatmu seperti yang dulu, penuh senyum dan harapan. Kamu memilih untuk menghilang, demi melindungiku dari kenyataan yang pahit. Marah? Tentu saja. Sakit hati? Tak terlukiskan. Tapi, ada juga sedikit kelegaan. Akhirnya aku tahu alasannya. Akhirnya aku bisa melepaskan beban pertanyaan yang selama ini menghantuiku. Saat matahari terbit, aku mengirim pesan terakhir. Sebuah foto diriku, tersenyum, dengan latar belakang *kota Seoul* yang mulai menggeliat. Di bawahnya, kutulis: "Aku sudah berhenti menunggu." Itu bukan pesan balas dendam. Itu bukan pesan kemarahan. Itu hanya sebuah pernyataan. Aku sudah memaafkanmu. Aku sudah menerima kenyataan. Aku sudah *bergerak maju*. Dan senyum itu, senyum terakhirku, bukan senyum kesedihan. Itu senyum kemenangan. Kemenangan atas masa lalu, kemenangan atas kerinduan, kemenangan atas rasa sakit. Aku tahu, di suatu tempat di alam semesta ini, kamu melihatku. Dan aku harap, kamu tersenyum. Semua sudah berakhir... atau baru saja dimulai?
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Dipatuk Rusa

0 Comments: