**Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan** Bunga *Meihua* merekah di pelataran hati, seputih salju yang jatuh di...

Cerpen Seru: Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan Cerpen Seru: Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan

Cerpen Seru: Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan

Cerpen Seru: Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan

**Kau Bilang Waktu Akan Menyembuhkan, Tapi Waktu Justru Menertawakan** Bunga *Meihua* merekah di pelataran hati, seputih salju yang jatuh di musim semi abadi. Dulu, kau hadir bagai bayangan rembulan di atas danau yang tenang, memantulkan janji-janji yang terukir di langit malam. Kau bilang, waktu akan menyembuhkan segala luka, bahwa mentari akan selalu terbit setelah badai. Namun, waktu, oh *waktu*, ia bukan tabib bijaksana seperti yang kau ucapkan. Ia justru seorang badut yang kejam, menertawakan setiap tetes air mata yang jatuh bagai embun pagi. Setiap detik adalah cambuk yang mencambuk kenangan, setiap menit adalah labirin tanpa jalan keluar. Aku terperangkap di antara mimpi dan kenyataan, di dalam lukisan kuno yang warnanya telah pudar. Di sana, di taman *Lotos* yang tak pernah layu, kau berdiri. Senyummu bagai seulas cahaya lilin di tengah kegelapan, suaramu bagai alunan seruling yang menghipnotis jiwa. Apakah kau nyata? Apakah kau hanya ilusi yang diciptakan oleh hati yang teramat rindu? Aku tak tahu. Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku mencoba meraihmu, kau menghilang bagai kabut yang ditiup angin. Dulu, kita berjanji di bawah pohon *Sakura* yang mekar penuh. Janji tentang cinta abadi, tentang dua jiwa yang menyatu selamanya. Tapi kini, pohon itu hanya berdiri sunyi, ranting-rantingnya menjulur bagai tangan-tangan yang merindukan sentuhan. Kau adalah serpihan mimpi yang terlempar dari dimensi waktu yang terlupakan. Kau adalah melodi yang tak pernah selesai, aroma bunga yang tak pernah bisa diraih. Kau adalah ... *bayangan* yang terus menghantuiku. Dan kemudian, sebuah pengungkapan muncul bagai kilat di tengah malam. Seorang pelukis tua, dengan mata yang menyimpan ribuan kisah, berkata padaku: "Gadis muda, lukisan ini... lukisan ini adalah *potret dirimu* sendiri. Kau melukisnya bertahun-tahun lalu, ketika kau masih percaya pada keabadian cinta." Duniaku runtuh. Seluruh kisah cinta yang kurajut dengan susah payah, ternyata hanyalah *ilusi* yang diciptakan oleh diriku sendiri. Kau tak pernah ada. Semua hanya khayalan seorang gadis yang kesepian. Kenyataan ini bagai pisau yang menghujam jantungku. Keindahan kisah cintaku, yang dulu kurasa begitu mempesona, kini menjadi beban yang tak tertanggungkan. Luka menganga semakin lebar, diiris oleh kesadaran pahit bahwa aku mencintai *bayanganku sendiri*. Dulu, kau berbisik, "Kita akan bertemu lagi, di bawah rembulan yang sama..."
You Might Also Like: Discover Hidden Gems Of Cleveland

0 Comments: