**Aku Menatap Langit Kota, Tapi yang Kulihat Hanya Siluetmu** Hujan turun di atas makam. Bukan rintik yang menenangkan, tapi derai yang mengoyak sunyi. Setiap tetesnya seperti air mata yang tak pernah selesai ditumpahkan. Aku berdiri di sini, di ambang antara *ADA* dan *TIADA*, menatap nisan yang bertuliskan namaku sendiri. Ironis, bukan? Dulu, aku mencintai langit kota. Gemerlapnya lampu, hiruk pikuknya kehidupan, semua terasa begitu dekat, begitu nyata. Sekarang, aku hanya melihat siluetmu di antara kerlip itu. Siluet yang kabur, namun begitu jelas membayang di setiap sudut mataku. Aku kembali. Bukan untuk membalas dendam, bukan untuk menuntut keadilan. Tidak, bukan itu. Aku kembali karena ada sesuatu yang *TERTINGGAL*. Kata-kata yang tak sempat terucap, janji yang tak sempat ditepati, sebuah kebenaran yang terkubur bersama jasadku. Bayanganku menolak pergi. Aku menguntitmu di setiap langkah, menjadi hembusan angin dingin yang menusuk tulang punggungmu. Kau tidak melihatku, tentu saja. Dunia kita terpisah oleh tirai yang tak kasat mata. Tapi aku tahu, kau merasakan kehadiranku. Kau merasakan beban yang sama, penyesalan yang sama, ketidakpastian yang sama. Setiap malam, aku berdiri di balkon apartemenmu. Menatapmu tidur, membiarkan rasa sakit dan rindu membakar jiwaku. Aku ingin menyentuhmu, membisikkan maaf, menjelaskan semuanya. Tapi tanganku hanya menembus tubuhmu, meninggalkan dingin yang membuatmu menggigil dalam tidurmu. Aku mencari petunjuk. Serpihan ingatan yang berserakan di sekitar kita. Surat-surat lama yang kau simpan di laci. Foto-foto yang tersenyum penuh kebohongan. Aku menyusunnya satu per satu, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Semakin aku mencari, semakin jelas kebenaran itu terkuak. Bukan kau yang bersalah. Bukan aku juga. Kita hanya korban dari sebuah *KEBOHONGAN* yang lebih besar, sebuah konspirasi yang menjerat kita dalam jaring-jaringnya. Aku menemukan surat terakhir yang kutulis untukmu. Surat yang tak pernah kukirim. Di dalamnya, tertera nama-nama, tempat-tempat, bukti-bukti yang akan mengungkap segalanya. Surat itu disembunyikan di tempat yang aman, tempat yang hanya kita berdua tahu. Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku menuntunmu. Melalui mimpi, melalui intuisi, melalui perasaan aneh yang terus menghantuimu. Aku membisikkan petunjuk, menyingkap tabir, hingga akhirnya, kau menemukannya. *SURAT ITU*. Saat kau membaca surat itu, air mata membasahi pipimu. Aku bisa merasakan kesedihanmu, kemarahanmu, dan pada akhirnya, *PEMAHAMANMU*. Kau mengerti sekarang. Kau tahu kebenaran. Tugas ku selesai. Beban di pundakku terasa lebih ringan. Aku tidak perlu lagi bergentayangan di dunia ini. Aku bisa pergi dengan tenang. Bukan balas dendam yang ku cari, tapi *KEDAMAIAN*. Aku menatapmu sekali lagi. Senyum kecil terukir di bibirku yang pucat. Aku tahu, kau akan melanjutkan perjuangan ini. Kau akan mengungkap kebenaran dan membawa keadilan bagi kita berdua. Dan saat aku mulai memudar, saat siluetku menghilang ditelan kegelapan... *...aku tahu kau akan baik-baik saja.*
You Might Also Like: Ciber Industrial Co Ltd Ciber

0 Comments: