**Senandung Malam, Duri dalam Kenangan** Hujan merajam atap paviliun kayu tua. Setiap tetesnya bagai bisikan masa lalu, mengingatkannya pada malam itu, malam *pengkhianatan*. Xiao Ling berdiri di ambang pintu, matanya yang dulu berkilau kini redup, bayangan lentera yang nyaris padam menari-nari di wajahnya yang tirus. Udara dingin menusuk tulang, sama dinginnya dengan tatapan yang ia tujukan pada sosok yang berdiri di tengah halaman. Li Wei. Dulu, nama itu adalah mantra yang membangkitkan senyum di bibirnya. Dulu, tangan itu adalah pelabuhan yang menenangkan badai dalam jiwanya. Sekarang, hanya ada luka yang menganga, sembilu yang berkarat. Li Wei menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Apakah itu penyesalan? Atau justru kemenangan yang tersembunyi di balik topeng kepalsuan? Hujan semakin deras, membasahi jubahnya yang mewah. Bayangan mereka, patah dan terdistorsi oleh genangan air, seolah melambangkan hubungan mereka yang hancur berkeping-keping. "Xiao Ling," suara Li Wei serak, nyaris tenggelam dalam deru hujan. "Sudah bertahun-tahun." Xiao Ling tidak menjawab. Ia hanya membiarkan angin malam membawa sisa-sisa amarah dan kesedihan yang telah lama ia pendam. Ia ingat janjinya, bisikan cintanya, tawa mereka di bawah rembulan purnama. Semua itu kini hanyalah debu yang beterbangan, ditiup angin pengkhianatan. Setiap kali Li Wei berkedip, Xiao Ling melihat wajah-wajah lain. Para petani yang kelaparan, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang meratap karena orang tua mereka tewas. Semua itu adalah buah dari keserakahan Li Wei, buah yang telah ia tanam dengan pupuk pengkhianatan. Li Wei mendekat, tangannya terulur. Xiao Ling tersenyum tipis, dingin, mengerikan. "Jangan mendekat," ucapnya pelan, namun setiap kata bagai racun yang menggerogoti jantung. "Kau pikir aku lupa? Kau pikir waktu akan menghapus dosa-dosamu?" Li Wei terdiam. Xiao Ling mengangkat tangannya. Sebuah lentera kecil, identik dengan lentera yang tergantung di dekatnya, muncul dari balik jubahnya. Namun, lentera ini berbeda. Di dalamnya, bukan api yang menyala, melainkan *cahaya biru kehancuran*. "Kau tahu, Li Wei," bisik Xiao Ling, suaranya nyaris tak terdengar. "Setiap malam, aku bermimpi. Aku bermimpi tentang **PEMBALASAN**." Hujan semakin menggila. Angin menderu. Dan Xiao Ling, dengan senyum yang lebih mematikan dari pedang, akhirnya mengungkapkan rahasia kelam yang selama ini ia simpan: *bahwa malam itu, bukan hanya ia yang dikhianati, tapi seluruh desa, dan ia telah bersumpah untuk membalasnya, bukan dengan pedang, melainkan dengan takdir yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri… karena darah yang tumpah di malam itu adalah darah *MILIKNYA* dan ia telah lama **BERSEKUTU** dengan mereka!*
You Might Also Like: Your Ultimate Source For Verified And

0 Comments: