Baiklah, ini dia kisah dracin bertema takdir dengan sentuhan reinkarnasi dan balas dendam yang halus: **Aku Berdiri di Antara Dua Pasukan, Tapi Hanya Namamu yang Kupilih** **Bab 1: Bunga Persik di Tepi Sungai** Seratus tahun telah berlalu sejak perang *dahsyat* yang merenggut segalanya. Seratus tahun sejak janji berdarah di bawah pohon persik yang kini telah tiada. Aku, Bai Lian, berdiri di tepi sungai yang sama, menyaksikan pasukan Wu dan pasukan Wei berhadapan. Di antara derap kaki kuda, gemerincing pedang, dan teriakan perang, aku mendengar sesuatu yang lain. Sebuah bisikan. Sebuah *nama*. "Lianhua..." Suara itu, begitu familier, begitu dalam, menusuk hingga ke tulang sumsumku. Aku menoleh, mencari sumbernya di antara wajah-wajah garang para prajurit. Lalu, mataku tertuju padanya. Jenderal Wei, dengan baju zirah perak yang berkilauan di bawah matahari senja. Wajahnya asing, namun matanya… Mata itu *mengingatkanku*. Jantungku berdebar tak terkendali. Nama itu, nama panggilanku di kehidupan lampau, nama yang hanya boleh diucapkan olehnya… Zhan Lie. *** **Bab 2: Bayangan Masa Lalu** Aku adalah putri kerajaan Wu, seharusnya hidup dalam kemewahan dan damai. Namun, takdir berkata lain. Aku jatuh cinta pada Zhan Lie, pangeran Wei, musuh bebuyutan kerajaanku. Cinta kami terlarang, bersemi di tengah intrik dan pengkhianatan. Kami bersumpah untuk bersama, selamanya. Namun, sumpah itu dilanggar. Ayahku menjebak Zhan Lie, menuduhnya sebagai mata-mata. Aku, yang terpaksa menyaksikan, tidak bisa berbuat apa pun. Zhan Lie dihukum mati di hadapanku. Dalam keputusasaan, aku membuat janji. Aku akan *reinkarnasi* dan membalas dendam atas kematiannya. *** **Bab 3: Aroma Teh dan Ingatan yang Terkubur** Sebagai Bai Lian, seorang tabib istana yang rendah hati, aku seharusnya tidak memiliki urusan dengan peperangan. Tapi, takdir kembali menjeratku. Aku ditugaskan untuk merawat para prajurit yang terluka, termasuk Jenderal Wei. Setiap kali aku menatapnya, ingatan masa lalu menyelimutiku. Aroma teh persik yang biasa kami minum bersama, senyumnya yang dulu menghangatkan hatiku, bahkan bekas luka kecil di tangannya… Semuanya begitu jelas, begitu nyata. Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya kepadanya. "Jenderal, apakah Anda pernah mendengar nama Lianhua?" Dia terdiam. Ekspresinya berubah, seolah ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. "Nama itu… terasa familier. Seperti *mimpi* yang terlupakan." *** **Bab 4: Kebenaran yang Pahit** Melalui serangkaian kejadian, melalui mimpi-mimpi yang semakin jelas, kebenaran akhirnya terungkap. Jenderal Wei adalah reinkarnasi Zhan Lie. Namun, bukan hanya aku yang mengingat masa lalu. Dia juga. Dan dia *tahu* janji balas dendam yang kuucapkan. Dia mendekatiku, matanya penuh kesedihan. "Lianhua… aku tahu apa yang ingin kau lakukan. Tapi, aku mohon… jangan balas dendam. Itu tidak akan membawa kita kemana-mana." Ternyata, sebelum kematiannya, Zhan Lie juga membuat janji. Janji untuk melindungi Wu, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Dia tidak pernah mengkhianati kerajaanku. Ayahku telah memfitnahnya. *** **Bab 5: Keheningan dan Pengampunan** Amarahku memuncak. Aku ingin berteriak, memaki, menuntut keadilan. Tapi, melihat matanya yang penuh ketulusan, aku tidak bisa. Aku menyadari, balas dendam tidak akan mengembalikan apa pun. Itu hanya akan melanggengkan siklus kebencian. Aku memilih jalan lain. Aku memilih keheningan. Aku memilih *pengampunan*. Bukan karena aku melupakan dosa ayahku, tapi karena aku ingin membebaskan Zhan Lie, membebaskan diriku sendiri, dari belenggu masa lalu. Aku meninggalkan istana, berjalan menjauh dari peperangan, menjauh dari takdir yang mengikatku. Aku ingin memulai hidup baru, tanpa bayang-bayang dendam. Zhan Lie tidak menghentikanku. Dia hanya berdiri di sana, menatapku dengan *penyesalan* yang mendalam. *** **Epilog:** Di bawah pohon persik yang baru tumbuh, aku menanam sebuah bunga. Bunga Lianhua. Aku membiarkannya mekar dengan bebas, tanpa beban masa lalu. Saat angin bertiup, aku mendengar bisikan. "..._Sampai kita bertemu lagi, kekasihku..._"
You Might Also Like: Dracin Seru Aku Menatap Langit Yang

0 Comments: