"Lama tidak bertemu, Ming," ucap Ling Wei, suaranya setipis bisikan angin. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang tak ...

Cerpen: Cinta Yang Mengakhiri Segalanya Cerpen: Cinta Yang Mengakhiri Segalanya

Cerpen: Cinta Yang Mengakhiri Segalanya

Cerpen: Cinta Yang Mengakhiri Segalanya

"Lama tidak bertemu, Ming," ucap Ling Wei, suaranya setipis bisikan angin. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang tak sampai ke mata.

Zhao Ming hanya mengangguk, matanya menatap kosong ke arah hujan yang semakin deras. Ia tampak lebih tua, lebih lelah. Bayangan di wajahnya patah, mencerminkan penyesalan yang mendalam.

"Kau tahu kenapa aku memintamu datang ke sini, bukan?" lanjut Ling Wei, tangannya memegang erat cangkir teh yang sudah dingin.

"Aku bisa menebaknya," jawab Zhao Ming lirih. "Kau masih marah padaku."

Marah? Kata itu terlalu lemah untuk menggambarkan jurang yang menganga di antara mereka. PENGKHIANATAN Zhao Ming telah merenggut segalanya darinya: cinta, kepercayaan, bahkan masa depannya. Ia ingat betul malam itu, malam di mana ia menemukan Zhao Ming bersama wanita lain, malam di mana hatinya tercabik-cabik.

"Marah?" Ling Wei tertawa hambar. "Marah tidak akan mengembalikan apa yang telah kau ambil dariku, Ming."

Hujan semakin menggila, menampar-nampar kaca jendela. Di luar, pepohonan bambu bergoyang liar, seolah turut merasakan badai yang bergejolak di dalam diri Ling Wei.

Zhao Ming menunduk, bahunya bergetar. "Aku tahu aku salah, Wei. Aku... aku menyesal."

Penyesalan? Begitu mudah diucapkannya. Tapi penyesalan tidak akan menghapus rasa sakit yang telah ia derita selama bertahun-tahun. Penyesalan tidak akan mengembalikan kepercayaannya yang telah hancur lebur.

"Penyesalan tidak berarti apa-apa," bisik Ling Wei. Matanya berkilat dingin.

Lima tahun ia habiskan untuk menyusun rencana. Lima tahun ia menahan diri, menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. Ia telah mengorbankan segalanya, bahkan jiwanya sendiri, demi hari ini.

"Kau tahu, Ming," Ling Wei mendekat, suaranya berbisik di telinga Zhao Ming. "Selama ini kau mengira aku yang menderita, bukan?"

Zhao Ming mengangkat wajahnya, matanya dipenuhi kebingungan.

Ling Wei tersenyum, senyum yang mengerikan. "Tapi tahukah kau, Ming? Selama ini... AKU yang memegang kendali."

Dan saat itulah, ia mendengar suara gemerisik di luar paviliun. Sebuah suara yang sangat dikenalnya. Suara itu... adalah suara pedang yang diasah.

You Might Also Like: Inspirasi Skincare Lokal Untuk Kulit

0 Comments: