Janji yang Menjadi Kutukan Manis Seratus tahun yang lalu, di bawah pohon Mei yang sedang bermekaran sempurna, Lai Xiulan bersumpah, "...

TOP! Janji Yang Menjadi Kutukan Manis TOP! Janji Yang Menjadi Kutukan Manis

TOP! Janji Yang Menjadi Kutukan Manis

TOP! Janji Yang Menjadi Kutukan Manis

Janji yang Menjadi Kutukan Manis

Seratus tahun yang lalu, di bawah pohon Mei yang sedang bermekaran sempurna, Lai Xiulan bersumpah, "Jiang Wei, jiwa kita akan terikat selamanya. Bahkan kematian pun takkan memisahkan."

Janji itu terucap di antara isak tangis dan darah. Jiang Wei, sang jenderal pemberani, harus meregang nyawa karena difitnah pengkhianat. Lai Xiulan, putri bangsawan yang mencintainya sepenuh hati, menyaksikan segalanya. Sebelum pedang menembus jantung Jiang Wei, Lai Xiulan berbisik, "Aku akan menunggumu… di kehidupan selanjutnya."

Seratus tahun berlalu.

Di kota metropolitan yang gemerlap, Xiulan modern – seorang wanita muda bernama Lin Wei – merasakan deja vu yang aneh. Setiap kali dia melewati taman kota, jantungnya berdebar tak terkendali. Pohon-pohon Mei yang baru ditanam seolah memanggilnya. Suara lembut desau angin terasa familiar, seperti bisikan dari kenangan yang terlupakan.

Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Jiang Cheng, seorang CEO muda yang karismatik. Pandangan mereka bertemu, dan dunia seolah berhenti berputar. Ada sesuatu yang MENDALAM, yang melampaui sekadar ketertarikan fisik. Jiang Cheng, entah bagaimana, terasa seperti rumah.

"Maafkan kelancanganku, tapi… apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Jiang Cheng, suaranya bergetar halus.

Lin Wei hanya menggeleng, tapi matanya berkaca-kaca. 'Suara ini… aku mengenal suara ini…' batinnya.

Seiring berjalannya waktu, potongan-potongan masa lalu mulai bermunculan. Mimpi-mimpi aneh yang terasa begitu nyata, kilasan-kilasan adegan peperangan dan pengkhianatan, dan aroma bunga Mei yang memabukkan. Lin Wei menemukan buku harian tua di loteng rumahnya. Buku itu berisi puisi-puisi cinta yang ditulis dalam kaligrafi kuno. Puisi-puisi itu terasa sangat intim, seperti curahan hatinya sendiri.

Sementara itu, Jiang Cheng juga mengalami hal serupa. Dia menemukan lukisan seorang jenderal yang sangat mirip dengannya di rumah leluhurnya. Di balik lukisan itu, terselip liontin berbentuk bunga Mei. Bunga Mei yang sama yang selalu menghantuinya dalam mimpi.

Mereka berdua memulai perjalanan untuk mengungkap masa lalu mereka. Mereka mengunjungi makam Jiang Wei dan Lai Xiulan, menelusuri jejak-jejak sejarah yang terlupakan. Semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa mereka adalah reinkarnasi dari sepasang kekasih yang terpisahkan oleh takdir.

Namun, kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih pahit dari yang mereka bayangkan. Pengkhianat yang membunuh Jiang Wei seratus tahun lalu adalah leluhur Jiang Cheng sendiri! Dosa masa lalu itu kini menjadi kutukan yang menghantui garis keturunan mereka.

Lin Wei menghadapi Jiang Cheng dengan tenang. Tidak ada amarah, tidak ada kebencian. Hanya kesedihan yang mendalam.

"Jadi, inilah akhirnya," ujarnya lirih. "Janji kita… menjadi kutukan manis. Kita ditakdirkan untuk bertemu, untuk mencintai… dan untuk merasakan sakitnya pengkhianatan yang sama."

Jiang Cheng berlutut di hadapan Lin Wei, air mata membasahi pipinya. "Maafkan aku… maafkan leluhurku… maafkan aku karena telah membawa kutukan ini ke dalam hidupmu."

Lin Wei mengangkat dagu Jiang Cheng dan menatap matanya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Balas dendam bukanlah jalan keluar. Aku memilih untuk melepaskan… dan memaafkan."

Lin Wei berbalik dan melangkah pergi. Di belakangnya, Jiang Cheng berteriak, "Tunggu! Ke mana kamu akan pergi?!"

Lin Wei berhenti sejenak, tanpa menoleh. "Ke tempat di mana bunga Mei tidak lagi menjadi saksi bisu… dan di mana janji tidak lagi menjadi beban."

Kemudian, dia menghilang di antara kerumunan. Meninggalkan Jiang Cheng sendirian dengan penyesalan dan sebuah pertanyaan yang membayang: apakah cinta mereka, kali ini, benar-benar telah berakhir?

"…di kehidupan selanjutnya…"

You Might Also Like: 76 Kelebihan Skincare Lokal Dengan

0 Comments: