Hujan gerimis menyelimuti Paviliun Anggrek, tempat pertama kali Ling Qing dan Wei Jun bertemu. Dulu, tempat ini dipenuhi tawa, janji di baw...

Drama Abiss! Cinta Yang Menjadi Pengkhianatan Drama Abiss! Cinta Yang Menjadi Pengkhianatan

Drama Abiss! Cinta Yang Menjadi Pengkhianatan

Drama Abiss! Cinta Yang Menjadi Pengkhianatan

Hujan gerimis menyelimuti Paviliun Anggrek, tempat pertama kali Ling Qing dan Wei Jun bertemu. Dulu, tempat ini dipenuhi tawa, janji di bawah rembulan, dan anggrek yang merekah seiring cinta mereka. Kini, hanya aroma tanah basah dan kenangan pahit yang tersisa.

Ling Qing, dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin, menatap Wei Jun. Wajah yang dulu begitu dicintainya kini dipenuhi garis penyesalan. Di tangannya tergenggam erat liontin giok berbentuk naga, hadiah terakhir dari Wei Jun sebelum ia menikahi Putri Ning Yue demi kekuasaan.

"Wei Jun," bisiknya, suaranya serak tertelan hujan. "Apakah semua janji itu... palsu?"

Wei Jun terdiam. Matanya yang biasanya penuh semangat kini redup, mencerminkan badai yang berkecamuk dalam hatinya. Ia tahu, kata-kata tak akan mampu menebus pengkhianatannya. Ia telah memilih tahta di atas cinta, kekuasaan di atas kesetiaan.

"Ling Qing... aku..." Suaranya tercekat. Ia ingin menjelaskan, memohon ampun, namun kata-kata itu terasa bagai duri yang menyakitkan lidahnya.

Ling Qing tersenyum pahit. "Jangan berkata apa pun. Aku sudah mengerti. Cinta kita adalah sekuntum bunga yang layu di musim gugur, tertindas oleh ambisimu."

Momen itu terasa bagai waktu yang berhenti berputar. Hujan semakin deras, seolah menangisi nasib cinta mereka. Ling Qing mendekat, perlahan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Wei Jun untuk terakhir kalinya.

"Ingatlah," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Setiap langkahmu menuju kekuasaan, setiap senyum palsumu di hadapan Putri Ning Yue... akan dibayangi oleh KENANGAN kita."

Lalu, ia berbalik dan pergi, menghilang ditelan kabut. Wei Jun terdiam mematung, liontin giok di tangannya terasa bagai bara api yang membakar. Ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Wei Jun berhasil menjadi Kaisar yang berkuasa. Namun, KEBAHAGIAAN sejati tak pernah ia rasakan. Bayangan Ling Qing selalu menghantuinya, mengingatkannya akan cinta yang ia khianati.

Putri Ning Yue, yang menjadi Permaisurinya, tiba-tiba jatuh sakit. Dokter istana tidak mampu mendiagnosis penyakitnya. Kulitnya memucat, tubuhnya melemah, dan akhirnya... ia meninggal dunia.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia memanggil Wei Jun dan menyerahkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat jarum perak yang berkarat dan sepucuk surat.

Surat itu ditulis oleh Ling Qing.

"Wei Jun, aku tahu kau akan menjadi Kaisar. Dan aku tahu, cepat atau lambat, takdir akan membawamu kembali kepadaku. Racun yang kuberikan pada Permaisurimu adalah racun yang halus, tak terdeteksi. Dendamku bukan untuk membunuhmu, tapi untuk memastikan bahwa kau akan selalu MENGINGATKU. Kau telah mengkhianati cinta, maka rasakanlah kehilangan yang abadi."

Wei Jun terisak. Air matanya bercampur dengan hujan yang kembali turun. Ia tahu, Ling Qing telah membalas dendam dengan cara yang paling menyakitkan. Ia telah merebut kebahagiaannya, merenggut ketenangannya, dan membuatnya hidup dalam penyesalan abadi.

Dendam Ling Qing begitu HALUS, begitu MEMATIKAN. Seolah takdir itu sendiri yang menuntut keadilan. Ia, yang memilih kekuasaan di atas cinta, kini harus menanggung akibatnya.

Cinta yang mati ini kini menjelma hantu yang abadi, dan kini, hanya satu pertanyaan yang menggantung di udara: Apakah dendam ini adalah bukti cinta yang TERSISA, atau sekadar bisikan kebencian dari masa lalu yang tak akan pernah MELEPASKAN?

You Might Also Like: Deploy Your React App Effortlessly

0 Comments: