Angin malam Kota Beijing mencabik-cabik helai rambut Lin Yue, selembut sutra namun sekeras baja. Matanya, sekelam obsidian, terpaku pada lembaran surat kabar yang tergeletak di tangannya. Di sana, wajah yang dulu merajai mimpinya, kini hanya sepotong gambar tanpa jiwa. Zhao Wei, sang mantan kekasih, pewaris takhta Kekaisaran Bisnis Zhao, tersenyum pongah di balik berita tentang merger raksasa.
Lima tahun lalu, Lin Yue adalah kembang Universitas Tsinghua, dengan mimpi setinggi langit dan cinta sehangat mentari pagi. Zhao Wei menjanjikan dunia, membungkusnya dalam kemewahan dan janji kekal. Namun, kekuasaan punya aturannya sendiri. Ayah Zhao Wei, seorang taipan kejam, melihat Lin Yue hanya sebagai kerikil penghalang ambisi putranya. Lin Yue dibuang, dihancurkan, dan ditinggalkan di persimpangan jalan berdebu, tanpa uang, tanpa nama, tanpa masa depan.
Luka itu menganga lebar, terasa seperti sayatan pisau di relung jiwanya. Namun, Lin Yue tidak menyerah. Ia bangkit, perlahan namun pasti, dari abu kehancuran. Ia belajar, bekerja keras, dan mengasah setiap inci dirinya menjadi senjata yang mematikan. Kelembutannya ia simpan rapat-rapat, dibungkus lapisan es yang tak tertembus. Kecantikannya, dulu sumber kekaguman, kini menjadi topeng sempurna untuk menyembunyikan dendamnya.
Lin Yue kini adalah Li Wei, seorang ahli strategi bisnis yang disegani, dengan otak setajam silet dan insting seakurat predator. Ia membangun kerajaannya sendiri, selangkah demi selangkah, dari nol. Ia menyaksikan kerajaan Zhao Wei tumbuh semakin besar, semakin arogan, dan semakin rapuh. Ia tahu, setiap kesalahan kecil yang mereka lakukan adalah kesempatan emas baginya.
Perlahan, Lin Yue mulai memainkan bidaknya. Informasi dikumpulkan, koneksi dibangun, dan persaingan bisnis disulut dari balik layar. Ia bagaikan dalang yang menarik benang takdir, sementara Zhao Wei dan ayahnya menari mengikuti irama kematian yang ia ciptakan. Ia tidak berteriak, tidak mengancam, tidak menunjukkan emosi apapun. Hanya senyum tipis yang menghiasi bibirnya, senyum yang lebih dingin dari musim dingin Beijing.
Suatu malam, Lin Yue berdiri di balkon apartemennya, menghadap gedung pencakar langit milik Zhao Wei. Di tangannya, tergenggam foto lama dirinya dan Zhao Wei, saat mereka masih muda dan bodoh. Ia merobek foto itu menjadi dua, membiarkan angin membawa serpihan-serpihan kenangan itu pergi.
Ia tidak membalas dendam dengan amarah, tapi dengan ketenangan yang mematikan. Ia tidak mencari kekacauan, tapi menciptakan keseimbangan baru. Ia tidak ingin menghancurkan Zhao Wei, tapi membuat pria itu menyaksikan kerajaannya runtuh di hadapannya, dan menyadari bahwa dirinya adalah arsitek kehancuran itu.
Zhao Wei akan tahu, bahwa cinta yang dulu ia sia-siakan kini menjadi ancaman terbesarnya. Bahwa bunga yang tumbuh di medan perang selalu lebih kuat dan lebih indah dari bunga yang tumbuh di taman. Dan bahwa...
Ia akan menjadi ratu, bukan dari istana, tapi dari reruntuhan.
You Might Also Like: Skincare Lokal Untuk Kulit Tropis Bisa
0 Comments: