Episode 1: Tatapan yang Membakar Hujan rintik di Shanghai malam itu menari-nari di kaca jendela penthouseku. Cahaya kota memburam, sama se...

Drama Baru! Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya Drama Baru! Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

Drama Baru! Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

Drama Baru! Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

Episode 1: Tatapan yang Membakar

Hujan rintik di Shanghai malam itu menari-nari di kaca jendela penthouseku. Cahaya kota memburam, sama seperti hatiku. Aku menyesap teh jasmine, aromanya gagal menenangkan gejolak yang bersembunyi di balik senyumku.

Di depanku, berdiri Ren – Pria yang seharusnya menjadi selamanya.

"Li Wei," suaranya dalam, menusuk seperti jarum es. "Aku minta maaf."

"Tidak perlu," jawabku, senyumku terasa dingin seperti es di kutub. "Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau telah menunjukkan padaku betapa mahalnya sebuah pelajaran."

Dulu, tatapannya membuatku meleleh. Sekarang, hanya ada kehampaan. Dulu, aku menyuruhmu berhenti menatapku karena aku takut terbakar. Sekarang, aku menyuruhmu berhenti karena aku tidak tahan melihat tatapan kebohongan itu lagi. Tapi, diam-diam...oh, bodohnya aku...diam-diam aku masih berharap kau terus melakukannya. Berharap ada setitik penyesalan, setitik kejujuran, dalam lautan dusta itu.

Episode 2: Racun dalam Pelukan

Dua tahun. Dua tahun aku membangun fondasi kerajaan kita. Perusahaan yang kita impikan bersama. Setiap tawa, setiap tangisan, setiap pelukan… semua terasa beracun sekarang. Pelukanmu yang dulu menghangatkan, kini terasa seperti jerat yang mencekik.

Janji-janji itu…dulu terdengar seperti melodi indah yang akan menemaniku sampai akhir hayat. Kini, hanya ada suara belati yang menghujam jantungku berulang kali. Janji menjadi belati, kenangan menjadi duri.

"Aku mencintaimu, Li Wei," bisiknya, mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku. "Cinta? Kau tahu apa itu cinta, Ren? Cinta itu pengorbanan, bukan pengkhianatan!" Nada bicaraku tetap tenang, elegan. Aku tidak akan membiarkanmu melihat air mata yang berdesakan ingin keluar. Air mata itu terlalu berharga untuk kau saksikan.

Episode 3: Balas Dendam yang Manis

Seminggu kemudian, Ren kehilangan segalanya. Perusahaan yang dibangun dengan susah payah, lenyap. Reputasinya hancur berkeping-keping. Aku tidak membunuhnya. Aku tidak menyakitinya secara fisik. Aku hanya membuatnya merasakan kehilangan yang sama. Kehilangan yang akan menghantuinya seumur hidup.

Aku berdiri di balkon penthouseku, menatap kerumunan wartawan yang mengerumuninya di bawah sana. Di tanganku, ada cangkir teh jasmine. Senyumku tidak lagi palsu. Itu adalah senyum kemenangan…dan juga kekalahan.

"Kenapa?" tanya Ren, suaranya serak saat menelponku.

"Kau bertanya kenapa?" jawabku dengan nada datar. "Kau lupa? Kau sendiri yang mengajariku. Dalam bisnis, tidak ada teman. Hanya ada peluang."

Aku menutup telepon.

Episode 4: Epilog

Ren sekarang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kecil di pinggiran kota. Aku sesekali mengunjunginya. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk mengingatkannya. Mengingatkannya akan kesalahannya. Mengingatkannya bahwa penyesalan adalah hukuman terberat.

Aku melihat matanya. Matanya dipenuhi penyesalan yang abadi. Itu adalah balas dendamku. Bukan darah. Bukan air mata. Tapi penyesalan abadi.

Aku menatapnya. Dia menunduk.

"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu," ucapnya pelan, hampir tak terdengar.

Aku tersenyum pahit.

Aku pergi.

Di malam yang sunyi ini, aku akhirnya mengerti: Cinta dan dendam...lahir dari tempat yang sama, bukan?

You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Stok

0 Comments: