Bab 1: Bunga Persik di Tengah Badai
Seratus tahun telah berlalu sejak Dosa Terakhir itu diukir dalam sejarah kekaisaran. Bunga persik yang dulu merekah di taman terlarang, kini hanyalah kenangan yang samar. Namun, di tengah hiruk pikuk Kota Chang'an yang modern, seorang wanita bernama Li Wei, merasakan deja vu yang aneh setiap kali melihat bunga persik.
Li Wei adalah seorang penulis muda, dikenal karena novel-novel romantisnya yang menyayat hati. Namun, yang tidak diketahui siapa pun, setiap kali ia menulis, bayangan samar seorang pria dengan jubah putih selalu menghantuinya. Sosok itu, Wei Ang, jenderal besar yang dituduh berkhianat dan dieksekusi seratus tahun lalu.
Suatu hari, Li Wei bertemu dengan seorang pria bernama Zhou Yi, seorang arsitek yang merancang ulang Taman Kekaisaran yang lama. Saat Zhou Yi berbicara tentang sejarah taman itu, tentang pengkhianatan dan cinta terlarang, Li Wei merasakan jantungnya berdebar kencang. Suara Zhou Yi terasa FAMILIAR, seperti gema dari masa lalu.
"Tahukah kamu," kata Zhou Yi suatu hari, sambil menatap bunga persik yang baru mekar, "Dulu, ada seorang jenderal yang sangat mencintai bunga ini. Dia bersumpah, bahkan setelah kematian, jiwanya akan kembali demi bunga-bunga ini."
Li Wei tertegun. Kata-kata itu, rasa sakit yang terkandung di dalamnya... semua itu terasa begitu nyata.
Bab 2: Bisikan Masa Lalu
Seiring berjalannya waktu, Li Wei dan Zhou Yi semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di Taman Kekaisaran, membahas sejarah, legenda, dan perasaan aneh yang mereka alami. Li Wei mulai bermimpi. Mimpi-mimpi itu bukan sekadar mimpi; itu adalah potongan-potongan kenangan dari kehidupan lampaunya sebagai Putri Lan, putri kesayangan kaisar yang mencintai Wei Ang dengan segenap hatinya.
Sementara itu, Zhou Yi juga mulai mengingat. Flashback tentang medan perang, tentang jubah putih yang berlumuran darah, tentang janji setia kepada seorang putri. Ia adalah reinkarnasi dari Wei Ang.
"Putri Lan..." bisiknya suatu malam, tanpa sadar.
Li Wei menoleh, air mata mengalir di pipinya. "Wei Ang..."
Mereka berdua tahu. Takdir telah mempertemukan mereka kembali, setelah seratus tahun terpisah oleh dosa dan janji.
Bab 3: Kebenaran yang Menyakitkan
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Saat mereka menggali lebih dalam tentang masa lalu, mereka menemukan kebenaran pahit. Wei Ang tidak bersalah. Ia dijebak oleh Perdana Menteri yang licik, yang menginginkan Putri Lan untuk dirinya sendiri.
Perdana Menteri itu, Li Mu, adalah reinkarnasi dari sosok yang sama, masih terobsesi dengan Li Wei, dengan Putri Lan. Ia adalah kekuatan jahat yang terus menghantui mereka dari kehidupan ke kehidupan.
Li Mu menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi situasi, mencoba menjebak Zhou Yi dengan tuduhan palsu, sama seperti yang dilakukannya seratus tahun yang lalu.
Bab 4: Balas Dendam dalam Keheningan
Li Wei, yang kini mengingat segalanya, memutuskan untuk mengakhiri siklus ini. Ia tidak akan membalas dendam dengan kemarahan, tetapi dengan KEHENINGAN dan PENGAMPUNAN yang akan menghancurkan Li Mu dari dalam.
Ia menemui Li Mu, tidak dengan kebencian, tetapi dengan pengertian. Ia membiarkannya menjelaskan rencananya, membiarkannya merasa menang. Kemudian, dengan tenang, ia mengungkapkan bahwa ia telah mengetahui segalanya. Bahwa ia tahu tentang pengkhianatan seratus tahun lalu, tentang rencana jahatnya saat ini.
Keheningan Li Wei lebih mematikan daripada pedang. Li Mu, yang selalu merasa lebih pintar dari semua orang, hancur. Ia kehilangan kekuatannya, kehilangan akal sehatnya. Ia dikalahkan bukan oleh amarah, tetapi oleh ketenangan dan pengampunan yang menusuk jiwa.
Zhou Yi, menyaksikan semuanya dari kejauhan, merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.
Epilog
Li Wei dan Zhou Yi akhirnya menemukan kedamaian. Mereka tidak menikah, mereka tidak hidup bahagia selamanya. Mereka hanya ada, bersama, dalam kedamaian. Mengetahui bahwa mereka telah mengakhiri siklus kebencian dan pengkhianatan.
Di taman terlarang, bunga persik bermekaran dengan lebih indah dari sebelumnya. Seolah membisikkan sebuah rahasia.
"...Jangan lupakan janji kita, Lan'er..."
You Might Also Like: 35 This Is Why Your Creatine Is Not
0 Comments: