Baiklah, ini dia, sebuah kisah Dracin modern dengan sentuhan puitis dan penuh misteri: **Langit yang Menyaksikan Pembalasan** Hujan kota Seoul mengguyur kafe *’Memory Lane’*, membungkusnya dalam kabut melankolis. Aroma kopi pahit bercampur aroma buku lama, menguar di antara denting halus notifikasi ponsel. Ji-Hae menatap layar, satu *chat* belum terkirim mengambang di sana, selamanya. "Malam ini bintangnya redup, sama seperti aku tanpamu," tulisnya, lalu jari-jarinya berhenti. Terlalu berlebihan? Terlalu jujur? Ia menghapusnya. Lagi. Dua tahun. Dua tahun sejak Tae-hyun menghilang, meninggalkan Ji-Hae dengan sisa aroma *cologne*nya, mimpi yang hancur, dan *segunung* tanya tanpa jawab. Dulu, dunia mereka adalah labirin notifikasi – pesan singkat, *emoticon* konyol, lagu yang saling mereka kirimkan di tengah malam. Cinta mereka mekar di antara janji temu larut malam dan ciuman di bawah *neon* kota yang berkedip. Sekarang, yang tersisa hanya jejak digital yang menyakitkan. Ji-Hae menemukan kenyamanan sementara dalam pekerjaan barunya sebagai *hacker* etis. Ironically, ia bekerja untuk perusahaan keamanan siber, melindungi data orang lain sementara hatinya sendiri remuk berkeping-keping. Tapi *keahlian*nya itu juga yang membawanya pada sebuah petunjuk. Sebuah *file* terenkripsi, terkubur dalam *server* perusahaan tempat Tae-hyun dulu bekerja. Malam-malam Ji-Hae berubah menjadi perburuan digital. Ia mengurai baris demi baris kode, menemukan kebohongan yang terjalin rapi. Ternyata, Tae-hyun tidak menghilang begitu saja. Ia *melarikan diri*, membawa serta bukti korupsi yang melibatkan orang-orang berkuasa. Ia mengorbankan dirinya demi kebenaran. Dan *dia* – Min-ho, sahabat Tae-hyun, rekan kerjanya, orang yang selalu ada untuk Ji-Hae setelah kepergian Tae-hyun – *dialah dalangnya*. Min-ho yang melaporkan Tae-hyun, Min-ho yang mengkhianatinya demi ambisi dan kekuasaan. Rasa *kehilangan* Ji-Hae berubah menjadi amarah membara. Rencana pembalasannya terasa seperti *simfoni* dingin. Ia meretas sistem perusahaan Min-ho, melepaskan semua bukti korupsi ke media. Karier Min-ho hancur dalam semalam, reputasinya tercemar. Ji-Hae tidak ingin melihatnya menderita. Ia tidak ingin mendengar permohonan maafnya. Ia hanya ingin keadilan untuk Tae-hyun. Di hari Min-ho ditangkap, Ji-Hae berdiri di *Memory Lane*, di bawah rintik hujan. Ia membuka aplikasi *chat*nya, mengetik pesan terakhir untuk Tae-hyun. "Semuanya sudah selesai. Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang." Ia tidak mengirimnya. Ia membiarkan pesan itu tetap mengambang, seperti janji yang ditepati. Lalu, ia memesan secangkir kopi, menatap *layar* ponselnya yang gelap. Di sana, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Matanya kosong, tapi di sudut bibirnya, tersirat sebuah senyum. Senyum *damai*. Senyum *final*. Ia memutuskan untuk menghapus semua jejak digital Tae-hyun. Semua foto, semua pesan, semua lagu. *Semuanya*. Layar itu kemudian menampilkan satu kalimat *italic* yang ia ketik sendiri: *Kenangan akan selalu ada, meskipun kau menghapusnya.* Lalu, semuanya menjadi sunyi. Hujan masih mengguyur. Kopi masih mengepul. Dan di balik jendela kaca, dunia terus berputar… Tanpa Tae-hyun. Tanpa Min-ho. Tanpa *pertanyaan*. …Atau benarkah *tanpa* pertanyaan?
You Might Also Like: Jual Skincare Non Komedogenik Untuk

0 Comments: