Baiklah, ini dia kisah Dracin tragis yang Anda minta: **Kau Menatapku dan Dunia Mulai Retak di Antara Kita** (Babak I: Aroma Bunga Persik dan Dosa yang Terpendam) Desir angin membelai rambut panjang Lian, aroma bunga persik memenuhi udara. Di sampingnya, berdiri Bai, punggungnya tegap, matanya setajam belati. Mereka tumbuh bersama di Lembah Seribu Sungai, terikat janji setia di bawah rembulan pucat. Dulu, mereka adalah saudara seperguruan, bahkan mungkin lebih dari itu. Kini, ada jurang tak terucapkan yang menganga di antara mereka. “Lian,” suara Bai rendah, serak. “Kau masih ingat janji kita?” Lian membuang muka, menatap bunga persik yang berguguran. “Janji? Janji adalah kata-kata kosong yang diucapkan di bawah pengaruh bulan purnama.” Bai tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. “Kau selalu pandai memutarbalikkan kebenaran. Tapi, kebenaran selalu menemukan jalannya.” Dialog mereka bagaikan tarian maut, setiap kata adalah tikaman halus. Mereka adalah sekutu, namun di balik senyum dan kesetiaan, tersimpan rahasia kelam. Rahasia yang perlahan mulai menggerogoti fondasi persahabatan mereka. (Babak II: Bisikan Masa Lalu dan Bayangan Pengkhianatan) Bayangan masa lalu menghantui mereka. Kilas balik memenuhi benak Lian: malam berdarah, pengkhianatan, dan sumpah yang dilanggar. Ia ingat dengan jelas, Bai di malam itu… berbeda. Lian mulai menyelidiki. Ia menemukan petunjuk samar, bisikan di pasar gelap, dan saksi mata yang ketakutan. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan: **Bai BUKANLAH** pria yang ia kenal. Ia adalah… dalang di balik pembantaian keluarga Lian. “Kau… KAU!” Lian berteriak di tengah hujan lebat, pedangnya terhunus. “Kau yang membunuh keluargaku! Kau yang menghancurkan segalanya!” Bai hanya tertawa, tawa dingin yang membuat bulu kuduk meremang. “Keluargamu memang pantas mati. Mereka menghalangi jalanku.” Pengkhianatan itu terasa seperti ribuan pisau yang menusuk jantung Lian. Ia telah mempercayai Bai dengan seluruh jiwa raganya. Sekarang, pria itu berdiri di hadapannya, seorang monster berjubah manusia. (Babak III: Badai Pembalasan dan Kebenaran yang Memilukan) Pertarungan mereka dahsyat, bagaikan badai yang menghancurkan segalanya. Pedang beradu, kilat menyambar, dan dendam membara. Lian bertarung dengan segenap amarah dan kesedihannya. Bai bertarung dengan dingin dan kalkulatif, seperti seorang algojo yang menjalankan tugasnya. Akhirnya, Lian berhasil melukai Bai. Pedangnya menembus jantung pria itu. Bai terhuyung mundur, darah membasahi jubahnya. “Kau… kau salah paham,” bisik Bai, suaranya melemah. “Aku… aku melakukannya untuk melindungimu.” Lian tertegun. Ia menatap Bai, mencari kebenaran di matanya yang sekarat. “Keluargamu… mereka terlibat dalam konspirasi besar. Aku harus menghentikan mereka. Aku terpaksa…” Bai terbatuk darah. “Jika tidak, mereka akan membunuhmu juga.” Lian terdiam. Kebenaran itu terlalu pahit untuk ditelan. Ia telah salah menilai Bai. Ia telah menghukum pria yang justru menyelamatkan nyawanya. Bai menatap Lian dengan tatapan penuh penyesalan. “Maafkan aku… Lian.” (Epilog: Senja Berdarah dan Penyesalan Abadi) Bai ambruk ke tanah, matanya terpejam untuk selamanya. Lian berlutut di sampingnya, air mata membasahi pipinya. Ia telah kehilangan segalanya: keluarganya, sahabatnya, dan cintanya. Dunia di sekitar Lian terasa retak. Bunga persik berguguran, warnanya berubah menjadi merah darah. Ia telah membalaskan dendam, namun hatinya hancur berkeping-keping. Sebelum kegelapan menelan semuanya, Lian berbisik dengan suara parau, "*Aku… seharusnya mempercayaimu.*"
You Might Also Like: Skincare Terbaik Dengan Harga

0 Comments: