Baik, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku menari di pesta kemenanganmu, tapi hatiku sudah kalah.': *** Debu berterbangan di aula megah itu, disinari rembulan yang pucat. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau darah yang samar. Aku, Bai Lian, menari. Tarianku adalah pujian bagi Kaisar Langit, suamiku, pahlawan yang baru saja memenangkan perang melawan suku Barbar Utara. Setiap gerakan adalah penghormatan, setiap putaran adalah kekaguman. Namun, di balik senyumku yang dipaksakan, hatiku hancur berkeping-keping. Kilasan-kilasan aneh menghantui benakku akhir-akhir ini. Potongan-potongan adegan yang asing namun terasa begitu FAMILIAR. Seorang wanita dengan gaun sutra merah, wajahnya tertutup bayangan, menusuk seorang pria dengan pedang perak di bawah pohon *sakura* yang berguguran. Pria itu memandang wanita itu dengan tatapan terluka yang amat sangat. Pria itu... adalah aku? Semakin lama, kepingan ingatan itu semakin jelas. Aku adalah Lin Mei, seorang putri dari Dinasti Yan yang dikhianati. Kekasihku, Pangeran Lang yang berjanji setia, ternyata bersekongkol dengan musuh untuk merebut tahtaku! Aku mengingat pengkhianatan itu, rasa sakitnya, dan kematian yang terasa begitu dingin. Dan sekarang, di kehidupanku yang kedua, Pangeran Lang itu berdiri di depanku, menyandang gelar Kaisar Langit, dipuja dan dihormati. Air mata nyaris tumpah saat aku melihat senyumnya. Dia tidak mengenaliku. Dia tidak ingat Lin Mei. Baginya, aku hanyalah Bai Lian, seorang selir yang pandai menari. Malam itu, setelah perayaan usai, aku menghadap Kaisar. Dengan suara yang lembut, aku memintanya untuk mengabulkan satu permintaan. "Katakanlah, Lian'er. Apapun itu, akan kukabulkan." Senyumnya angkuh, merasa berkuasa. "Aku ingin dikirim ke perbatasan Utara. Aku ingin melayani pasukan yang menjaga keamanan kekaisaran." Dia terkejut. "Mengapa? Di sini kau memiliki kemewahan dan kehormatan." Aku tersenyum. Senyum yang *dingin*, senyum yang menyimpan rahasia. "Hatiku terpanggil untuk mengabdi pada negara, Yang Mulia." Aku melihat sedikit keraguan di matanya. Tetapi kebanggaannya, kepercayaannya yang berlebihan pada dirinya sendiri, membutakannya. Dia mengabulkan permintaanku. Kini, aku berada di perbatasan. Aku melihat pasukan barbar di kejauhan, dan aku melihat pula intrik-intrik licik para jenderal. Aku tahu bahwa kekaisaran ini, dibangun di atas pengkhianatan, akan runtuh. Dan aku, dengan tangan kosong, akan mempercepat keruntuhannya. Aku tidak akan mengangkat pedang. Aku tidak akan membunuh siapa pun. Balas dendamku adalah kebebasan. Kebebasan untuk memilih jalanku sendiri, kebebasan untuk menyaksikan kejatuhannya, kebebasan untuk *tidak* mencintainya lagi. Aku akan memastikan bahwa kekaisaran ini, yang dibangun atas dasar pengkhianatan, tidak akan pernah melupakanku. Lin Mei yang dulu dikhianati, Bai Lian yang sekarang menari di atas abu kemenanganmu. Di bawah langit malam yang luas, aku berbisik, "Kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain. Dan saat itu, giliranmu yang akan menari untukku."
You Might Also Like: Skincare Halal Dan Aman Tersedia

0 Comments: