Judul: Lentera di Hujan yang Menggigil Hujan menggigil menampar kaca jendela Paviliun Anggrek. Setiap tetesnya terasa seperti tusukan jarum,...

Ini Baru Cerita! Cinta Yang Menolak Mati Ini Baru Cerita! Cinta Yang Menolak Mati

Ini Baru Cerita! Cinta Yang Menolak Mati

Ini Baru Cerita! Cinta Yang Menolak Mati

Judul: Lentera di Hujan yang Menggigil Hujan menggigil menampar kaca jendela Paviliun Anggrek. Setiap tetesnya terasa seperti tusukan jarum, mengingatkanku pada malam itu, lima tahun lalu. Malam ketika Janji Suci kami terkhianati. Di dalam, aroma dupa cendana samar-samar menenangkan, namun tak mampu meredam denyut nyeri di dada. Aku menatap potretnya. Wajahnya yang dulu selalu kurindukan, kini hanya memunculkan rasa getir. Bai Lian, dengan senyum selembut sutra dan mata secerah bintang. Dulu. "Nyonya," Bi Lan, pelayanku yang setia, meletakkan cangkir teh di sampingku. "Tuan Muda Li sudah tiba." Li Wei. Pewaris tunggal Keluarga Li, tunanganku saat ini. Dia adalah bayangan yang patah dari cinta yang pernah kumiliki. Hatinya teduh, penuh perhatian, tapi sentuhannya selalu terasa asing. Dia tak pernah tahu bahwa hatiku telah menjadi ladang tandus yang tak bisa ditanami benih cinta. Li Wei memasuki ruangan, senyum terpancar di wajahnya. "Lian'er, kau sudah menunggu lama?" Aku membalas senyumnya, sebuah topeng yang kurawat dengan sempurna selama bertahun-tahun. "Tidak juga, Wei. Aku hanya sedang menikmati hujan." Percakapan kami mengalir ringan, tentang bisnis keluarga, tentang Festival Pertengahan Musim Gugur yang akan datang, tentang apapun kecuali *dia*. Dia yang namanya tak pernah lagi kusebut. Dia yang telah merampas kepercayaanku, meremukkan hatiku menjadi serpihan debu. Malam itu, aku menyusuri taman. Hujan mulai mereda, menyisakan aroma tanah basah dan bunga-bunga yang terkulai. Di kejauhan, kulihat sebuah lentera kertas yang nyaris padam. Cahayanya berkedip-kedip, seolah menahan napas terakhir. Sama seperti hatiku. Aku mendekat, dan *saat itulah* aku melihatnya. Bayangan itu. Sosok yang selama ini menghantui mimpiku. "Jiang Feng," bisikku, suaraku tercekat. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi kerut kekecewaan dan penyesalan. "Lian'er... aku..." Aku mengangkat tangan, menghentikan kata-katanya. "Jangan sebut namaku. Kau tak berhak lagi." Matanya memohon, namun hatiku membeku. Lima tahun. Lima tahun aku menanggung rasa sakit ini sendirian. Lima tahun aku merencanakan ini semua. "Kenapa kau kembali?" tanyaku, suaraku sedingin es. Jiang Feng terdiam, menatapku dengan tatapan yang membuat dadaku sesak. "Aku... aku ingin menjelaskan semuanya. Aku dijebak." Tawa sinis lolos dari bibirku. "Dijebak? Sungguh alasan yang sangat *klise*." Aku mendekat, aroma dupa cendana menguar dari gaunku. "Tahukah kau, Jiang Feng? Bahwa malam itu, saat kau mengkhianatiku, bukan hanya hatiku yang kau hancurkan. Kau menghancurkan *segalanya*. Dan sekarang... saatnya membayar hutangmu." Aku mengangkat tanganku, memberi isyarat. Dari balik pepohonan, muncul beberapa orang bertopeng. Jiang Feng menatapku dengan ngeri. "Apa yang kau lakukan, Lian'er?!" Aku tersenyum, senyum yang tak pernah kuberikan pada Li Wei. Senyum dingin, penuh perhitungan. "Aku hanya menagih janji yang dulu kau ucapkan, Jiang Feng. Janji tentang cinta abadi." Saat mereka menyeret Jiang Feng, dia berteriak, "Kau salah paham! Ada kebenaran yang belum kau ketahui!" Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Lentera itu akhirnya padam, menyisakan kegelapan. Di balik semua penderitaan dan rencana balas dendam, ada sebuah rahasia yang lebih gelap lagi: *Siapa sebenarnya yang membunuh orang tua Jiang Feng malam itu, dan kenapa aku tahu lebih banyak daripada yang seharusnya?*
You Might Also Like: 198 Outline Images Of Nature Nature

0 Comments: