Kau Menatap Jas Mahalku, Tapi Yang Kau Cintai Hanyalah Lelaki di Baliknya
Aula Emas Istana Purnama gemerlap di bawah ratusan lilin. Aroma dupa cendana dan intrik tercium begitu kental hingga hampir menyesakkan. Tatapan tajam para pejabat, bagai elang lapar, mengawasi gerak-gerik setiap orang. Di balik tirai sutra berwarna giok, bisikan-bisikan pengkhianatan merayap bagai ular berbisa. Inilah Istana, tempat kekuasaan dimainkan dengan anggun, namun dimenangkan dengan kejam.
Di tengah kemegahan yang mencekam ini, berdiri Pangeran Mahkota Li Wei, pewaris takhta yang dingin dan berwibawa. Jas mahalnya, sulaman naga emas yang berkilauan, menjadi perisai bagi hatinya yang terluka. Di hadapannya, berdiri Xiao Mei, seorang selir rendahan yang kecantikannya mampu meruntuhkan kerajaan.
"Kau menatap jas mahalku," ucap Li Wei dengan suara sedingin es, "Tapi yang kau cintai hanyalah lelaki di baliknya… ayahku."
Xiao Mei, dengan gaun sutra merahnya yang tampak kontras dengan aura istana, hanya menunduk. Tatapannya tersembunyi, menyembunyikan badai yang bergejolak di dalam hatinya. Benar, dia mencintai Kaisar, bukan karena kekuasaannya, melainkan karena kehangatan yang tak pernah ia temukan di manapun. Namun, di Istana, cinta adalah kemewahan yang tak terjangkau. Ia hanyalah pion dalam PERMAINAN takhta.
Li Wei mendekat, suaranya berbisik penuh ancaman, "Kau pikir dengan pesonamu, kau bisa mendapatkan apa pun yang kau mau? Kau salah, Xiao Mei. Di sini, kekuasaan adalah segalanya. Dan aku… aku akan memastikan kau merasakan KEHANCURAN yang sama sepertiku."
Cinta mereka menjadi medan perang, setiap janji menjadi pedang yang siap menusuk. Li Wei, yang terluka oleh pengkhianatan ayah dan wanita yang dicintainya, menggunakan Xiao Mei sebagai alat untuk merebut kembali kekuasaan yang seharusnya menjadi miliknya. Xiao Mei, di sisi lain, berusaha bertahan, mencoba melindungi hatinya dari badai intrik yang mengamuk.
Bertahun-tahun berlalu. Istana menyaksikan skema licik, aliansi yang rapuh, dan darah yang tertumpah demi kekuasaan. Li Wei, dengan kejam merebut takhta dari ayahnya, menjadi Kaisar yang ditakuti dan disegani. Xiao Mei, yang dipandang sebagai selir kesayangan Kaisar sebelumnya, menjadi tahanan emas di istana terpencil.
Semua orang mengira Xiao Mei telah dikalahkan, dilupakan. Mereka salah.
Malam itu, di tengah perayaan kemenangan Li Wei, Xiao Mei muncul di aula utama. Gaunnya bukan lagi sutra merah menggoda, melainkan jubah sutra hitam legam yang menyembunyikan segala kelemahan. Matanya, yang dulu penuh cinta, kini memancarkan aura dingin dan mematikan.
"Kau pikir kau telah menang, Li Wei?" ucapnya dengan suara yang membuat bulu kuduk meremang. "Kau salah. Aku memang mencintai lelaki di balik jas mahalnya. Tapi aku juga belajar bagaimana menggunakan Kekuasaan untuk diriku sendiri."
Dengan gerakan anggun namun mematikan, ia mengeluarkan jarum beracun yang telah lama disembunyikannya. Li Wei, yang terkejut, hanya bisa terhuyung saat racun itu menjalar di tubuhnya.
"Aku mungkin hanya seorang selir rendahan," bisik Xiao Mei di telinga Li Wei yang sekarat, "Tapi aku bukan boneka. Aku adalah pemain."
Dia menatap ke arah para pejabat yang terkejut dan ketakutan, lalu tersenyum dingin.
Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, dengan tinta DARAH dan BALAS DENDAM yang manis.
You Might Also Like: Cerpen Seru Aku Menatap Cermin Dan
0 Comments: