Kabut tipis menggantung di atas Danau Bulan Sabit, persis seperti kenangan yang menyelimuti persahabatan Kai dan Lian. Mereka tumbuh bersama di desa terpencil di kaki Gunung Seribu Bayangan, terikat oleh sumpah darah yang diukir di bawah rembulan purnama saat mereka masih bocah. Kai, sang pemuda pemberani dengan mata setajam elang, dan Lian, yang kecantikannya selembut sutra namun menyimpan keteguhan baja di dalam hatinya.
"Lian, janji kita... masihkah kau mengingatnya?" bisik Kai suatu senja, saat mereka duduk di tepi danau, memandangi pantulan bintang.
Lian tersenyum tipis, senyum yang tak pernah mencapai matanya. "Tentu saja, Kai. Darah lebih kental daripada air, bukan? Tapi, kadang... darah juga bisa menodai."
Perlahan, ketenangan itu mulai meretak. Bisikan angin membawa kabar tentang RAHASIA kelam yang terpendam puluhan tahun. Ayah Kai, pahlawan desa yang dihormati, ternyata memiliki andil dalam kematian keluarga Lian. Sebuah pengkhianatan besar yang tersembunyi di balik senyum ramah dan pujian palsu.
"Jadi, semua ini hanya kebohongan?" tanya Kai, suaranya bergetar, saat ia menemukan surat tua yang membongkar kebenaran pahit itu di loteng rumahnya.
Lian menatapnya dengan tatapan sedingin es. "Kebohongan adalah topeng yang sempurna, Kai. Topeng yang menutupi wajah monster."
Malam demi malam, mereka berdua bermain catur kematian. Setiap percakapan adalah pedang yang dihunus, setiap tatapan adalah racun yang perlahan membunuh. Kai mencoba menyangkal, mencoba mencari celah dalam kebenaran yang menghancurkannya. Lian, di sisi lain, semakin memantapkan tekadnya untuk membalas dendam. Air matanya telah lama mengering, digantikan oleh bara api yang membakar jiwanya.
"Aku bersumpah, Lian... aku tidak tahu apa-apa tentang ini!" Kai memohon, berlutut di hadapan Lian di tengah hujan badai.
Lian tertawa, tawa yang menusuk jantung. "Ketidaktahuanmu adalah kejahatanmu, Kai. Darah keluargamu telah menodai tanganku."
Saat fajar menyingsing, balas dendam akhirnya tiba. Kai berdiri di puncak tebing, di hadapannya adalah Lian, memegang sebilah belati perak yang memantulkan cahaya matahari. Tatapan mereka terkunci, menyimpan ribuan kata yang tak terucap.
"Lian... ini harus diakhiri," ujar Kai, suaranya serak.
"Ya, Kai. Hari ini, keadilan akan ditegakkan," balas Lian, dengan nada yang sama datarnya.
Tanpa ragu, Lian menusuk belati itu ke jantung Kai. Ia ambruk, napasnya tersengal-sengal.
"Siapa yang mengkhianati siapa?" bisik Kai, darah membasahi bibirnya.
Lian berjongkok di sampingnya, air mata akhirnya menetes di pipinya. "Kita semua, Kai. Kita semua adalah korban... dan eksekutor."
Lian mencabut belatinya dan berbalik, meninggalkan Kai di puncak tebing. Angin bertiup kencang, membawa serta raungan kesedihannya.
Saat Kai terbaring di sana, menatap langit yang mulai memerah, ia bergumam dengan sisa napasnya: "Aku... selalu mencintaimu... bahkan lebih dari kebenaran itu sendiri…"
You Might Also Like: Jual Skincare Untuk Ibu Hamil Dan
0 Comments: