Baik, ini dia kisah Dracin berjudul 'Bayangan yang Menuntun ke Jurang': **Bayangan yang Menuntun ke Jurang** Aula Emas Istana Jinghu...

Bayangan Yang Menuntun Ke Jurang Bayangan Yang Menuntun Ke Jurang

Bayangan Yang Menuntun Ke Jurang

Bayangan Yang Menuntun Ke Jurang

Baik, ini dia kisah Dracin berjudul 'Bayangan yang Menuntun ke Jurang': **Bayangan yang Menuntun ke Jurang** Aula Emas Istana Jinghua berkilauan di bawah cahaya ribuan lilin. Aroma dupa cendana yang mahal berpadu dengan bau keringat ketakutan. Kaisar Li Wei, dengan jubah naga keemasannya, duduk di singgasana, matanya *tajam* mengamati para pejabatnya. Di sampingnya, berdiri Selir Kekaisaran Mei Lan, kecantikannya bagai bunga teratai di tengah badai. Namun, di balik senyum manis Mei Lan, tersembunyi ambisi sebesar lautan. Ia mencintai Li Wei, *sungguh*, tapi cintanya pada kekuasaan lebih besar lagi. Li Wei pun demikian. Ia mencintai Mei Lan, tetapi ia juga melihatnya sebagai pion penting dalam permainan takhta yang *abadi*. "Mei Lan," bisik Li Wei di malam sunyi, di antara pilar-pilar marmer istana. "Janjimu padaku adalah *kekuatan* yang tak ternilai." Mei Lan balas menatapnya, matanya berkilat. "Dan janjimu padaku, Yang Mulia, adalah *keabadian*." Janji itu diucapkan, tapi maknanya terdistorsi oleh kepentingan masing-masing. Mei Lan mulai mengumpulkan sekutu, memanfaatkan pesonanya untuk merayu para jenderal dan pejabat tinggi. Li Wei, mengetahui hal ini, membiarkannya. Ia merasa memiliki kendali penuh, yakin bahwa Mei Lan hanya bermain dalam batas yang ia izinkan. Namun, Li Wei *salah besar*. Di balik layar, Mei Lan diam-diam bersekutu dengan Pangeran Zhao, adik Li Wei yang ambisinya membara seperti api neraka. Pangeran Zhao menjanjikan Mei Lan lebih dari sekadar gelar Selir Kekaisaran – ia menjanjikan *Tahta Permaisuri*. Intrik demi intrik dijalankan. Fitnah disebar seperti debu di musim gugur. Keadilan dibeli dengan koin emas. Dan cinta Li Wei pada Mei Lan, yang dulu ia banggakan, kini menjadi *kelemahannya* yang paling berbahaya. Puncaknya terjadi di malam festival lampion. Aula Emas berubah menjadi medan perang. Pasukan Pangeran Zhao menyerbu istana, mengejutkan para penjaga yang loyalisnya telah dibeli. Li Wei, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya, bertarung dengan gagah berani, tapi ia kalah jumlah. Saat pedang Pangeran Zhao menebas lehernya, Li Wei melihat Mei Lan berdiri di belakang Pangeran, senyumnya *dingin* dan tanpa penyesalan. "Mengapa?" tanya Li Wei, suaranya bergetar. Mei Lan mendekat, berbisik di telinganya. "Cinta itu lemah, Yang Mulia. Kekuasaanlah yang abadi." Setelah kematian Li Wei, Pangeran Zhao naik takhta, dan Mei Lan menjadi Permaisurinya. Ia memerintah dengan tangan besi, memberantas semua yang berpotensi menjadi ancaman baginya. Namun, di balik kemegahan dan kekuasaan itu, Mei Lan tidak pernah benar-benar bahagia. Ia selalu merasa diawasi, diikuti oleh bayangan masa lalunya. Dan suatu malam, saat ia duduk di singgasananya, ia merasakan sentuhan dingin di lehernya. Tirai sutra merah tersibak, memperlihatkan sosok yang sangat familiar. Ia adalah Ling’er, pelayan istana yang *selalu* setia melayani Mei Lan. Namun, mata Ling’er kini berkilat dengan *dendam membara*. Di tangannya tergenggam sebilah pisau belati beracun. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu rencanamu?" desis Ling’er, suaranya tajam seperti pecahan kaca. "Kau salah. Aku sudah menunggu *saat ini*." Mei Lan tidak bisa berteriak. Racun itu bekerja dengan cepat, melumpuhkan dan membungkamnya. Ling’er mendekat, berbisik di telinganya, "Aku tahu segalanya. Aku tahu kau membunuh orang tuaku, kau menjebak mereka, kau memanfaatkan mereka demi ambisimu." Mei Lan menatap Ling'er dengan ngeri, menyadari bahwa permainan takhta telah menulis ulang dirinya sendiri...
You Might Also Like: 16 Fondo De Pantalla Y Icons Best Photos

0 Comments: