Oke, mari kita mulai kisah absurd ini: *** **Aku Mencintaimu Sampai Akhir Dunia, Bahkan Setelah Dunia Berhenti Berputar** Dunia retak bukan karena ledakan nuklir, tapi karena Wi-Fi yang mati mendadak. Ironis. Di duniaku – *tahun 2042* – segalanya bergantung pada jaringan. Tanpa sinyal, aku kehilangan Nara. Chat terakhir kami terhenti di "sedang mengetik…". Pesan itu menggantung di layar, seperti janji yang tak tertepati. Aku merindukan Nara, aroma kopi paginya, leluconnya yang receh, dan senyumnya yang bisa membuat algoritma kecerdasan buatan (AI) jatuh cinta. Tapi, Nara ada di dimensi lain – di masa lalu yang **AMAT** jauh. Aku menemukan celah waktu itu secara tidak sengaja. Sebuah *glitch* di aplikasi kencan lintas dimensi (yang jelas-jelas ilegal). Di sana, aku melihatnya: Nara, dengan rambut panjang terurai, tertawa bersama teman-temannya di sebuah kafe yang masih menjual kopi manual. Di dunia itu, langit masih berwarna biru, dan "sedang mengetik…" benar-benar berarti seseorang akan membalas pesanmu. Di dunianya – *tahun 2023* – Nara menerima pesan dariku. Pesan aneh, puitis, dan penuh kerinduan dari seorang pria yang mengaku berasal dari masa depan. Awalnya, dia menganggapnya spam. Tapi, ada sesuatu di balik kata-kata itu yang menariknya. Ada rasa sakit yang sama, kerinduan yang sama, seolah-olah dia juga kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Kami mulai bertukar pesan. Aku menceritakan tentang dunia tanpa mentari, tentang makanan sintesis, tentang AI yang kesepian. Dia menceritakan tentang konser musik di taman, tentang pelukan hangat, tentang *kebebasan* yang mungkin sudah punah di masa depanku. Cinta kami tumbuh di antara sinyal yang hilang dan koneksi yang terputus. Aku mencoba menariknya ke masa depanku, memberinya teknologi terbaik, janji keabadian digital. Dia mencoba menarikku ke masa lalunya, menawarkan kehangatan manusia, janji senja yang indah. Tapi, dimensi memisahkan kami. Seperti dua *bit* data yang tidak sinkron, kami terus berusaha terhubung, tapi selalu gagal. Suatu malam, Nara mengirimiku gambar langit senja. Langit itu berwarna *jingga* dan ungu, warna yang sudah lama tidak kulihat. Dia menulis, "Aku harap kamu bisa melihat ini bersamaku suatu hari nanti." Saat itu, aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Aplikasi kencan lintas dimensi itu bukan hanya *glitch*. Itu adalah proyek rahasia pemerintah, sebuah eksperimen untuk menciptakan realitas paralel berdasarkan emosi. Dan cinta kami… cinta kami hanyalah *gema*. Ema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Nara dan aku, di masa lalu dan masa depan, hanyalah pecahan dari jiwa yang sama, terjebak dalam putaran waktu yang abadi. Cinta kami adalah refleksi, ilusi dari keintiman yang tak pernah benar-benar ada. Layar di hadapanku berkedip. Sinyal *benar-benar* hilang. … *"Sampai jumpa, mungkin… di kehidupan yang selanjutnya?"*
You Might Also Like: Agen Kosmetik Bisnis Sampingan

0 Comments: