Angin malam Kota Beijing mencabik-cabik helai rambut Lin Yue, selembut sutra namun sekeras baja. Matanya, sekelam obsidian, terpaku pada le...

Endingnya Gini! Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu Endingnya Gini! Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Angin malam Kota Beijing mencabik-cabik helai rambut Lin Yue, selembut sutra namun sekeras baja. Matanya, sekelam obsidian, terpaku pada lembaran surat kabar yang tergeletak di tangannya. Di sana, wajah yang dulu merajai mimpinya, kini hanya sepotong gambar tanpa jiwa. Zhao Wei, sang mantan kekasih, pewaris takhta Kekaisaran Bisnis Zhao, tersenyum pongah di balik berita tentang merger raksasa.

Lima tahun lalu, Lin Yue adalah kembang Universitas Tsinghua, dengan mimpi setinggi langit dan cinta sehangat mentari pagi. Zhao Wei menjanjikan dunia, membungkusnya dalam kemewahan dan janji kekal. Namun, kekuasaan punya aturannya sendiri. Ayah Zhao Wei, seorang taipan kejam, melihat Lin Yue hanya sebagai kerikil penghalang ambisi putranya. Lin Yue dibuang, dihancurkan, dan ditinggalkan di persimpangan jalan berdebu, tanpa uang, tanpa nama, tanpa masa depan.

Luka itu menganga lebar, terasa seperti sayatan pisau di relung jiwanya. Namun, Lin Yue tidak menyerah. Ia bangkit, perlahan namun pasti, dari abu kehancuran. Ia belajar, bekerja keras, dan mengasah setiap inci dirinya menjadi senjata yang mematikan. Kelembutannya ia simpan rapat-rapat, dibungkus lapisan es yang tak tertembus. Kecantikannya, dulu sumber kekaguman, kini menjadi topeng sempurna untuk menyembunyikan dendamnya.

Lin Yue kini adalah Li Wei, seorang ahli strategi bisnis yang disegani, dengan otak setajam silet dan insting seakurat predator. Ia membangun kerajaannya sendiri, selangkah demi selangkah, dari nol. Ia menyaksikan kerajaan Zhao Wei tumbuh semakin besar, semakin arogan, dan semakin rapuh. Ia tahu, setiap kesalahan kecil yang mereka lakukan adalah kesempatan emas baginya.

Perlahan, Lin Yue mulai memainkan bidaknya. Informasi dikumpulkan, koneksi dibangun, dan persaingan bisnis disulut dari balik layar. Ia bagaikan dalang yang menarik benang takdir, sementara Zhao Wei dan ayahnya menari mengikuti irama kematian yang ia ciptakan. Ia tidak berteriak, tidak mengancam, tidak menunjukkan emosi apapun. Hanya senyum tipis yang menghiasi bibirnya, senyum yang lebih dingin dari musim dingin Beijing.

Suatu malam, Lin Yue berdiri di balkon apartemennya, menghadap gedung pencakar langit milik Zhao Wei. Di tangannya, tergenggam foto lama dirinya dan Zhao Wei, saat mereka masih muda dan bodoh. Ia merobek foto itu menjadi dua, membiarkan angin membawa serpihan-serpihan kenangan itu pergi.

Ia tidak membalas dendam dengan amarah, tapi dengan ketenangan yang mematikan. Ia tidak mencari kekacauan, tapi menciptakan keseimbangan baru. Ia tidak ingin menghancurkan Zhao Wei, tapi membuat pria itu menyaksikan kerajaannya runtuh di hadapannya, dan menyadari bahwa dirinya adalah arsitek kehancuran itu.

Zhao Wei akan tahu, bahwa cinta yang dulu ia sia-siakan kini menjadi ancaman terbesarnya. Bahwa bunga yang tumbuh di medan perang selalu lebih kuat dan lebih indah dari bunga yang tumbuh di taman. Dan bahwa...

Ia akan menjadi ratu, bukan dari istana, tapi dari reruntuhan.

You Might Also Like: Skincare Lokal Untuk Kulit Tropis Bisa

Bab 1: Bunga Persik di Tengah Badai Seratus tahun telah berlalu sejak Dosa Terakhir itu diukir dalam sejarah kekaisaran. Bunga persik yan...

Cerita Seru: Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa Sakit Cerita Seru: Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa Sakit

Bab 1: Bunga Persik di Tengah Badai

Seratus tahun telah berlalu sejak Dosa Terakhir itu diukir dalam sejarah kekaisaran. Bunga persik yang dulu merekah di taman terlarang, kini hanyalah kenangan yang samar. Namun, di tengah hiruk pikuk Kota Chang'an yang modern, seorang wanita bernama Li Wei, merasakan deja vu yang aneh setiap kali melihat bunga persik.

Li Wei adalah seorang penulis muda, dikenal karena novel-novel romantisnya yang menyayat hati. Namun, yang tidak diketahui siapa pun, setiap kali ia menulis, bayangan samar seorang pria dengan jubah putih selalu menghantuinya. Sosok itu, Wei Ang, jenderal besar yang dituduh berkhianat dan dieksekusi seratus tahun lalu.

Suatu hari, Li Wei bertemu dengan seorang pria bernama Zhou Yi, seorang arsitek yang merancang ulang Taman Kekaisaran yang lama. Saat Zhou Yi berbicara tentang sejarah taman itu, tentang pengkhianatan dan cinta terlarang, Li Wei merasakan jantungnya berdebar kencang. Suara Zhou Yi terasa FAMILIAR, seperti gema dari masa lalu.

"Tahukah kamu," kata Zhou Yi suatu hari, sambil menatap bunga persik yang baru mekar, "Dulu, ada seorang jenderal yang sangat mencintai bunga ini. Dia bersumpah, bahkan setelah kematian, jiwanya akan kembali demi bunga-bunga ini."

Li Wei tertegun. Kata-kata itu, rasa sakit yang terkandung di dalamnya... semua itu terasa begitu nyata.

Bab 2: Bisikan Masa Lalu

Seiring berjalannya waktu, Li Wei dan Zhou Yi semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di Taman Kekaisaran, membahas sejarah, legenda, dan perasaan aneh yang mereka alami. Li Wei mulai bermimpi. Mimpi-mimpi itu bukan sekadar mimpi; itu adalah potongan-potongan kenangan dari kehidupan lampaunya sebagai Putri Lan, putri kesayangan kaisar yang mencintai Wei Ang dengan segenap hatinya.

Sementara itu, Zhou Yi juga mulai mengingat. Flashback tentang medan perang, tentang jubah putih yang berlumuran darah, tentang janji setia kepada seorang putri. Ia adalah reinkarnasi dari Wei Ang.

"Putri Lan..." bisiknya suatu malam, tanpa sadar.

Li Wei menoleh, air mata mengalir di pipinya. "Wei Ang..."

Mereka berdua tahu. Takdir telah mempertemukan mereka kembali, setelah seratus tahun terpisah oleh dosa dan janji.

Bab 3: Kebenaran yang Menyakitkan

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Saat mereka menggali lebih dalam tentang masa lalu, mereka menemukan kebenaran pahit. Wei Ang tidak bersalah. Ia dijebak oleh Perdana Menteri yang licik, yang menginginkan Putri Lan untuk dirinya sendiri.

Perdana Menteri itu, Li Mu, adalah reinkarnasi dari sosok yang sama, masih terobsesi dengan Li Wei, dengan Putri Lan. Ia adalah kekuatan jahat yang terus menghantui mereka dari kehidupan ke kehidupan.

Li Mu menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi situasi, mencoba menjebak Zhou Yi dengan tuduhan palsu, sama seperti yang dilakukannya seratus tahun yang lalu.

Bab 4: Balas Dendam dalam Keheningan

Li Wei, yang kini mengingat segalanya, memutuskan untuk mengakhiri siklus ini. Ia tidak akan membalas dendam dengan kemarahan, tetapi dengan KEHENINGAN dan PENGAMPUNAN yang akan menghancurkan Li Mu dari dalam.

Ia menemui Li Mu, tidak dengan kebencian, tetapi dengan pengertian. Ia membiarkannya menjelaskan rencananya, membiarkannya merasa menang. Kemudian, dengan tenang, ia mengungkapkan bahwa ia telah mengetahui segalanya. Bahwa ia tahu tentang pengkhianatan seratus tahun lalu, tentang rencana jahatnya saat ini.

Keheningan Li Wei lebih mematikan daripada pedang. Li Mu, yang selalu merasa lebih pintar dari semua orang, hancur. Ia kehilangan kekuatannya, kehilangan akal sehatnya. Ia dikalahkan bukan oleh amarah, tetapi oleh ketenangan dan pengampunan yang menusuk jiwa.

Zhou Yi, menyaksikan semuanya dari kejauhan, merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.

Epilog

Li Wei dan Zhou Yi akhirnya menemukan kedamaian. Mereka tidak menikah, mereka tidak hidup bahagia selamanya. Mereka hanya ada, bersama, dalam kedamaian. Mengetahui bahwa mereka telah mengakhiri siklus kebencian dan pengkhianatan.

Di taman terlarang, bunga persik bermekaran dengan lebih indah dari sebelumnya. Seolah membisikkan sebuah rahasia.

"...Jangan lupakan janji kita, Lan'er..."

You Might Also Like: 35 This Is Why Your Creatine Is Not

Episode 1: Tatapan yang Membakar Hujan rintik di Shanghai malam itu menari-nari di kaca jendela penthouseku. Cahaya kota memburam, sama se...

Drama Baru! Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya Drama Baru! Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

Episode 1: Tatapan yang Membakar

Hujan rintik di Shanghai malam itu menari-nari di kaca jendela penthouseku. Cahaya kota memburam, sama seperti hatiku. Aku menyesap teh jasmine, aromanya gagal menenangkan gejolak yang bersembunyi di balik senyumku.

Di depanku, berdiri Ren – Pria yang seharusnya menjadi selamanya.

"Li Wei," suaranya dalam, menusuk seperti jarum es. "Aku minta maaf."

"Tidak perlu," jawabku, senyumku terasa dingin seperti es di kutub. "Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau telah menunjukkan padaku betapa mahalnya sebuah pelajaran."

Dulu, tatapannya membuatku meleleh. Sekarang, hanya ada kehampaan. Dulu, aku menyuruhmu berhenti menatapku karena aku takut terbakar. Sekarang, aku menyuruhmu berhenti karena aku tidak tahan melihat tatapan kebohongan itu lagi. Tapi, diam-diam...oh, bodohnya aku...diam-diam aku masih berharap kau terus melakukannya. Berharap ada setitik penyesalan, setitik kejujuran, dalam lautan dusta itu.

Episode 2: Racun dalam Pelukan

Dua tahun. Dua tahun aku membangun fondasi kerajaan kita. Perusahaan yang kita impikan bersama. Setiap tawa, setiap tangisan, setiap pelukan… semua terasa beracun sekarang. Pelukanmu yang dulu menghangatkan, kini terasa seperti jerat yang mencekik.

Janji-janji itu…dulu terdengar seperti melodi indah yang akan menemaniku sampai akhir hayat. Kini, hanya ada suara belati yang menghujam jantungku berulang kali. Janji menjadi belati, kenangan menjadi duri.

"Aku mencintaimu, Li Wei," bisiknya, mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku. "Cinta? Kau tahu apa itu cinta, Ren? Cinta itu pengorbanan, bukan pengkhianatan!" Nada bicaraku tetap tenang, elegan. Aku tidak akan membiarkanmu melihat air mata yang berdesakan ingin keluar. Air mata itu terlalu berharga untuk kau saksikan.

Episode 3: Balas Dendam yang Manis

Seminggu kemudian, Ren kehilangan segalanya. Perusahaan yang dibangun dengan susah payah, lenyap. Reputasinya hancur berkeping-keping. Aku tidak membunuhnya. Aku tidak menyakitinya secara fisik. Aku hanya membuatnya merasakan kehilangan yang sama. Kehilangan yang akan menghantuinya seumur hidup.

Aku berdiri di balkon penthouseku, menatap kerumunan wartawan yang mengerumuninya di bawah sana. Di tanganku, ada cangkir teh jasmine. Senyumku tidak lagi palsu. Itu adalah senyum kemenangan…dan juga kekalahan.

"Kenapa?" tanya Ren, suaranya serak saat menelponku.

"Kau bertanya kenapa?" jawabku dengan nada datar. "Kau lupa? Kau sendiri yang mengajariku. Dalam bisnis, tidak ada teman. Hanya ada peluang."

Aku menutup telepon.

Episode 4: Epilog

Ren sekarang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kecil di pinggiran kota. Aku sesekali mengunjunginya. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk mengingatkannya. Mengingatkannya akan kesalahannya. Mengingatkannya bahwa penyesalan adalah hukuman terberat.

Aku melihat matanya. Matanya dipenuhi penyesalan yang abadi. Itu adalah balas dendamku. Bukan darah. Bukan air mata. Tapi penyesalan abadi.

Aku menatapnya. Dia menunduk.

"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu," ucapnya pelan, hampir tak terdengar.

Aku tersenyum pahit.

Aku pergi.

Di malam yang sunyi ini, aku akhirnya mengerti: Cinta dan dendam...lahir dari tempat yang sama, bukan?

You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Stok

Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang Aroma plum blossom selalu mengingatkanku pada malam itu. Malam saat semuanya dir...

Cerpen Terbaru: Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang Cerpen Terbaru: Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang

Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang

Aroma plum blossom selalu mengingatkanku pada malam itu. Malam saat semuanya direnggut. Bukan hanya hatiku, tapi juga masa depanku, kehormatanku, bahkan identitasku. Aku, Lin Wei, putri Jenderal Lin yang gagah berani, berubah menjadi debu di bawah telapak kaki Kaisar Tian.

Dulu, istana adalah mimpi. Istana adalah tempatku dan dia bertemu. Pangeran Rui, dengan senyumnya yang menawan dan janji-janji manis tentang dunia yang lebih baik. Kami berjanji akan saling melindungi, akan membangun kekaisaran yang adil dan makmur. Tapi, Pangeran Rui menginginkan tahta lebih dari aku. Dia menginginkan kekuasaan lebih dari cinta. Ayahku, Jenderal Lin, adalah penghalang. Maka, fitnah keji merenggut nyawa ayahku, dan aku, dijadikan selir yang tak berarti, hanya untuk membungkam sisa-sisa kesetiaan pada keluarga Lin.

Lima tahun berlalu. Lima tahun dalam kegelapan. Lima tahun memoles luka, menempa baja dari kerapuhan, menajamkan pikiran dari kepedihan. Aku belajar menari di atas pecahan kaca, tersenyum di balik air mata, dan BERSEMBAHYANG pada dewa yang telah mengabaikanku. Aku mempelajari setiap intrik, setiap kelemahan, setiap celah dalam sistem kekaisaran ini. Aku adalah bunga teratai yang tumbuh di rawa busuk, akarnya menghisap racun dan kelopaknya menyerap cahaya.

Pangeran Rui, kini Kaisar Tian, naik tahta di atas mayat-mayat pengkhianat. Dia berkuasa dengan tangan besi, tapi hatinya hampa. Dia menikahi Permaisuri yang dipilih karena alasan politik, bukan cinta. Dan aku? Aku adalah bayangan di sudut istana, selir yang 'terlupakan,' tapi mata dan telingaku menjangkau seluruh penjuru kekaisaran.

Suatu malam, dia memanggilku. Matanya menyiratkan kerinduan, tapi aku hanya melihat kekosongan. Dia bertanya mengapa aku tidak pernah mencoba merebut hatinya kembali. Aku tersenyum, senyum yang dingin seperti bilah pedang.

"Hati? Yang Mulia sudah menghancurkan hatiku. Aku tidak mencari cinta, Yang Mulia. Aku mencari KEADILAN."

Aku mulai menjalankan rencanaku. Dengan sabar, dengan perhitungan, dengan KETENANGAN yang mematikan. Aku menggunakan kelemahannya, kesombongannya, ketidakpercayaan dirinya. Aku memutar para pejabat istana seperti bidak catur, mengadu domba mereka, menyingkap kebusukan yang selama ini disembunyikan. Aku memanipulasi informasi, menanamkan keraguan, dan menyulut pemberontakan.

Perang datang. Bukan perang fisik, tapi perang urat saraf, perang informasi, perang intrik. Kaisar Tian jatuh dari tahtanya, bukan karena pedang atau panah, tapi karena KEBUSUKAN yang telah ia tanam sendiri.

Di hari terakhirnya, dia menatapku dengan ngeri. "Kau… semua ini kau yang lakukan?"

Aku mendekat, membelai wajahnya dengan jari yang dingin. "Kau datang membawa damai, Pangeran Rui. Tapi kau pergi meninggalkan perang. Dan aku, hanyalah seorang prajurit yang menyelesaikan pertempuran."

Dia meregang nyawa di hadapanku. Tak ada amarah, tak ada dendam yang membara. Hanya kekosongan yang terisi oleh pembalasan yang manis. Aku berdiri di balkon istana, memandang kekaisaran yang bergejolak di bawahku. Aku tidak menjadi kaisar. Aku tidak menginginkan tahta. Aku hanya menginginkan keadilan.

Dan kini, aku akan membangunnya dari reruntuhan.

Mungkin, ini adalah awal dari era baru, era di mana seorang wanita yang pernah dihancurkan, akhirnya memerintah dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.

You Might Also Like: Agen Kosmetik Usaha Sampingan Online

"Lama tidak bertemu, Ming," ucap Ling Wei, suaranya setipis bisikan angin. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang tak ...

Cerpen: Cinta Yang Mengakhiri Segalanya Cerpen: Cinta Yang Mengakhiri Segalanya

"Lama tidak bertemu, Ming," ucap Ling Wei, suaranya setipis bisikan angin. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang tak sampai ke mata.

Zhao Ming hanya mengangguk, matanya menatap kosong ke arah hujan yang semakin deras. Ia tampak lebih tua, lebih lelah. Bayangan di wajahnya patah, mencerminkan penyesalan yang mendalam.

"Kau tahu kenapa aku memintamu datang ke sini, bukan?" lanjut Ling Wei, tangannya memegang erat cangkir teh yang sudah dingin.

"Aku bisa menebaknya," jawab Zhao Ming lirih. "Kau masih marah padaku."

Marah? Kata itu terlalu lemah untuk menggambarkan jurang yang menganga di antara mereka. PENGKHIANATAN Zhao Ming telah merenggut segalanya darinya: cinta, kepercayaan, bahkan masa depannya. Ia ingat betul malam itu, malam di mana ia menemukan Zhao Ming bersama wanita lain, malam di mana hatinya tercabik-cabik.

"Marah?" Ling Wei tertawa hambar. "Marah tidak akan mengembalikan apa yang telah kau ambil dariku, Ming."

Hujan semakin menggila, menampar-nampar kaca jendela. Di luar, pepohonan bambu bergoyang liar, seolah turut merasakan badai yang bergejolak di dalam diri Ling Wei.

Zhao Ming menunduk, bahunya bergetar. "Aku tahu aku salah, Wei. Aku... aku menyesal."

Penyesalan? Begitu mudah diucapkannya. Tapi penyesalan tidak akan menghapus rasa sakit yang telah ia derita selama bertahun-tahun. Penyesalan tidak akan mengembalikan kepercayaannya yang telah hancur lebur.

"Penyesalan tidak berarti apa-apa," bisik Ling Wei. Matanya berkilat dingin.

Lima tahun ia habiskan untuk menyusun rencana. Lima tahun ia menahan diri, menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. Ia telah mengorbankan segalanya, bahkan jiwanya sendiri, demi hari ini.

"Kau tahu, Ming," Ling Wei mendekat, suaranya berbisik di telinga Zhao Ming. "Selama ini kau mengira aku yang menderita, bukan?"

Zhao Ming mengangkat wajahnya, matanya dipenuhi kebingungan.

Ling Wei tersenyum, senyum yang mengerikan. "Tapi tahukah kau, Ming? Selama ini... AKU yang memegang kendali."

Dan saat itulah, ia mendengar suara gemerisik di luar paviliun. Sebuah suara yang sangat dikenalnya. Suara itu... adalah suara pedang yang diasah.

You Might Also Like: Inspirasi Skincare Lokal Untuk Kulit

Janji yang Menjadi Kutukan Manis Seratus tahun yang lalu, di bawah pohon Mei yang sedang bermekaran sempurna, Lai Xiulan bersumpah, "...

TOP! Janji Yang Menjadi Kutukan Manis TOP! Janji Yang Menjadi Kutukan Manis

Janji yang Menjadi Kutukan Manis

Seratus tahun yang lalu, di bawah pohon Mei yang sedang bermekaran sempurna, Lai Xiulan bersumpah, "Jiang Wei, jiwa kita akan terikat selamanya. Bahkan kematian pun takkan memisahkan."

Janji itu terucap di antara isak tangis dan darah. Jiang Wei, sang jenderal pemberani, harus meregang nyawa karena difitnah pengkhianat. Lai Xiulan, putri bangsawan yang mencintainya sepenuh hati, menyaksikan segalanya. Sebelum pedang menembus jantung Jiang Wei, Lai Xiulan berbisik, "Aku akan menunggumu… di kehidupan selanjutnya."

Seratus tahun berlalu.

Di kota metropolitan yang gemerlap, Xiulan modern – seorang wanita muda bernama Lin Wei – merasakan deja vu yang aneh. Setiap kali dia melewati taman kota, jantungnya berdebar tak terkendali. Pohon-pohon Mei yang baru ditanam seolah memanggilnya. Suara lembut desau angin terasa familiar, seperti bisikan dari kenangan yang terlupakan.

Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Jiang Cheng, seorang CEO muda yang karismatik. Pandangan mereka bertemu, dan dunia seolah berhenti berputar. Ada sesuatu yang MENDALAM, yang melampaui sekadar ketertarikan fisik. Jiang Cheng, entah bagaimana, terasa seperti rumah.

"Maafkan kelancanganku, tapi… apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Jiang Cheng, suaranya bergetar halus.

Lin Wei hanya menggeleng, tapi matanya berkaca-kaca. 'Suara ini… aku mengenal suara ini…' batinnya.

Seiring berjalannya waktu, potongan-potongan masa lalu mulai bermunculan. Mimpi-mimpi aneh yang terasa begitu nyata, kilasan-kilasan adegan peperangan dan pengkhianatan, dan aroma bunga Mei yang memabukkan. Lin Wei menemukan buku harian tua di loteng rumahnya. Buku itu berisi puisi-puisi cinta yang ditulis dalam kaligrafi kuno. Puisi-puisi itu terasa sangat intim, seperti curahan hatinya sendiri.

Sementara itu, Jiang Cheng juga mengalami hal serupa. Dia menemukan lukisan seorang jenderal yang sangat mirip dengannya di rumah leluhurnya. Di balik lukisan itu, terselip liontin berbentuk bunga Mei. Bunga Mei yang sama yang selalu menghantuinya dalam mimpi.

Mereka berdua memulai perjalanan untuk mengungkap masa lalu mereka. Mereka mengunjungi makam Jiang Wei dan Lai Xiulan, menelusuri jejak-jejak sejarah yang terlupakan. Semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa mereka adalah reinkarnasi dari sepasang kekasih yang terpisahkan oleh takdir.

Namun, kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih pahit dari yang mereka bayangkan. Pengkhianat yang membunuh Jiang Wei seratus tahun lalu adalah leluhur Jiang Cheng sendiri! Dosa masa lalu itu kini menjadi kutukan yang menghantui garis keturunan mereka.

Lin Wei menghadapi Jiang Cheng dengan tenang. Tidak ada amarah, tidak ada kebencian. Hanya kesedihan yang mendalam.

"Jadi, inilah akhirnya," ujarnya lirih. "Janji kita… menjadi kutukan manis. Kita ditakdirkan untuk bertemu, untuk mencintai… dan untuk merasakan sakitnya pengkhianatan yang sama."

Jiang Cheng berlutut di hadapan Lin Wei, air mata membasahi pipinya. "Maafkan aku… maafkan leluhurku… maafkan aku karena telah membawa kutukan ini ke dalam hidupmu."

Lin Wei mengangkat dagu Jiang Cheng dan menatap matanya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Balas dendam bukanlah jalan keluar. Aku memilih untuk melepaskan… dan memaafkan."

Lin Wei berbalik dan melangkah pergi. Di belakangnya, Jiang Cheng berteriak, "Tunggu! Ke mana kamu akan pergi?!"

Lin Wei berhenti sejenak, tanpa menoleh. "Ke tempat di mana bunga Mei tidak lagi menjadi saksi bisu… dan di mana janji tidak lagi menjadi beban."

Kemudian, dia menghilang di antara kerumunan. Meninggalkan Jiang Cheng sendirian dengan penyesalan dan sebuah pertanyaan yang membayang: apakah cinta mereka, kali ini, benar-benar telah berakhir?

"…di kehidupan selanjutnya…"

You Might Also Like: 76 Kelebihan Skincare Lokal Dengan

Aku Menjadi File Hilang Yang Masih Bisa Ia Rasakan Malam itu, salju turun tanpa ampun, menutupi Kota Terlarang dengan selimut putih kemati...

Harus Baca! Aku Menjadi File Hilang Yang Masih Bisa Ia Rasakan Harus Baca! Aku Menjadi File Hilang Yang Masih Bisa Ia Rasakan

Aku Menjadi File Hilang Yang Masih Bisa Ia Rasakan

Malam itu, salju turun tanpa ampun, menutupi Kota Terlarang dengan selimut putih kematian. Darah merah pekat menodai keperawanan salju, mengalir dari tubuh seorang pria yang bersimpuh di depan kuil leluhur. Pria itu, Kaisar Li Wei, menggenggam liontin giok berbentuk naga, matanya kosong, menerawang ke masa lalu yang kelam.

Dulu, aku adalah Lan Mei, selirnya yang paling dicintainya. Dulu, tawanya adalah melodi yang menenangkan hatiku. Dulu, janjinya adalah bintang penuntun dalam kegelapan. Dulu.

Tapi waktu mengubah segalanya. Ambisi kotor istana mencemari cinta kami. Fitnah merajalela, meracuni telinganya dengan kebohongan. Aku dituduh berkhianat, difitnah bekerja sama dengan musuh. Tanpa ampun, dia menjatuhkan hukuman mati.

Aku mati di malam bersalju seperti ini, di depan kuil yang sama, dengan liontin naga di tanganku. Janjinya, yang terucap di atas abu dupa pengantin, menguap bersama asap neraka.

Namun, rupanya kematian bukanlah akhir. Jiwaku terperangkap. Aku menjadi file hilang, memori yang dia coba kubur dalam-dalam. Tapi aku ada di sana, di setiap sudut istana, dalam setiap bisikan angin, dalam setiap tetesan anggur yang dia teguk. Aku menjadi bayangan yang selalu mengikutinya, hantu yang menghantuinya.

Bertahun-tahun berlalu. Li Wei menjadi kaisar yang ditakuti, kekuasaannya tak tertandingi. Namun, di balik wajah angkuh itu, ada kehampaan yang menganga. Dia mencoba mengisi kekosongan itu dengan selir baru, dengan perang, dengan intrik. Tapi sia-sia. Aku tetap di sana, file hilang yang tak bisa dihapus.

Suatu malam, dia menemukan diari lamaku yang tersimpan rapi di dalam kotak tersembunyi. Dia membacanya, air mata jatuh membasahi lembaran usang. Dia akhirnya tahu kebenaran. Dia tahu bahwa aku tidak bersalah. Dia tahu bahwa dia telah membunuh cinta sejatinya.

Penyesalan mencabik-cabik hatinya. Dia berusaha meminta maaf, tapi suara penyesalannya hanya bergema di antara pilar-pilar istana yang sunyi. Sudah terlambat. TERLALU TERLAMBAT!

Malam itu, dia minum racun. Racun yang aku buat dengan tangan sendiri, racun yang dia gunakan untuk mengeksekusi para pengkhianat. Dia meminumnya dengan tenang, menatap liontin naga yang dipegangnya erat-erat.

Kematiannya tidak membawaku kedamaian. Tapi ada kepuasan dingin yang merayap di hatiku. Balas dendam yang manis, yang telah aku rencanakan selama bertahun-tahun. Balas dendam dari hati yang terlalu lama menunggu.

Dia mati sendirian, di depan kuil leluhur, di tengah salju yang sunyi. Matanya memandang langit kelabu, seolah mencari pengampunan yang tak mungkin didapat.

Saat tubuhnya ambruk, aku berbisik di telinganya, "Kau akan merasakan sakitnya kehilangan selama sisa keabadianmu... dalam mimpi."

You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Bisnis