Langit kota berlumur senja sintetis, hasil editan algoritma yang gagal mendefinisikan indah. Xiao Mei, dengan hanfu digital yang berkilauan, menatap hologram Sungai Huangpu. Di tahun 2242, sungai itu hanyalah simulasi, kenangan tentang masa lalu yang terlalu nyata untuk dilupakan.
Notifikasinya berkedip. Sedang Mengetik... dari akun yang bernama 'Luo', nama yang sama usangnya dengan kaset Walkman. Luo, yang hidup di tahun 1998, di era modem berdecit dan pager yang berdenyut, hanya bisa berkomunikasi melalui sisa-sisa sinyal tumpang tindih di antara dimensi.
"Xiao Mei," pesan Luo akhirnya muncul, "Apakah kau melihatnya? Hujan yang rasanya seperti air mata?"
Xiao Mei menyentuh layar, merasakan dingin simulasi hujan. "Aku hanya melihat data, Luo. Hujan hanyalah variabel dalam program iklim."
Luo tertawa. Tawa digital yang terasa seperti kesedihan yang membeku. "Kau selalu logis. Tapi logika tidak bisa menjelaskan rasa sakit di dadaku, atau kenapa aku merasa kau begitu dekat, padahal ribuan tahun memisahkan kita."
Mereka bertemu di celah waktu, di antara sinyal yang hilang, di antara chat yang berhenti di 'Sedang Mengetik'. Luo, dengan rambut gondrong dan jaket kulit, tersenyum dari layar ponsel antik yang nyaris hancur. Xiao Mei, dengan hanfu digital dan mata sepelas bulan, membalas senyumnya. Mereka berbagi lagu-lagu Mandarin lama, puisi-puisi tentang cinta yang hilang, dan mimpi tentang masa depan yang mungkin bisa mereka sentuh bersama.
Namun, semakin mereka dekat, semakin dimensi di sekitar mereka bergejolak. Sinyal semakin memburuk. Layar mulai berkedip. Kode-kode aneh muncul di sekitar Xiao Mei, sementara gambar Luo semakin buram, seolah ditelan kabut waktu.
Suatu malam, pesan Luo datang terlambat, tersendat. "Xiao Mei... aku melihatmu... di mimpiku... kau bukan orang asing... kau adalah... KENANGAN."
Xiao Mei terhuyung. Dunia digitalnya berputar. Kode-kode itu semakin mengencang, membentuk jalinan yang mencekik. Dia melihat dirinya dalam mimpi Luo, bukan sebagai Xiao Mei dari masa depan, tetapi sebagai seorang gadis desa di tahun 1998, bernama... Mei Lan.
Mei Lan dan Luo adalah sepasang kekasih. Mereka berjanji untuk bersama selamanya, di bawah pohon sakura yang kini hanya ada dalam backup digital. Namun, Mei Lan meninggal karena penyakit misterius, meninggalkan Luo dengan patah hati yang tak tersembuhkan.
Proyek 'Air Mata Waktu', proyek yang menciptakan Xiao Mei dan memungkinkannya berkomunikasi dengan Luo, ternyata bukan hanya tentang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Proyek itu adalah upaya untuk menyembuhkan luka Luo, dengan menciptakan kembali Mei Lan dalam bentuk digital. Cinta mereka bukanlah takdir, melainkan ECHO dari kehidupan yang tak pernah selesai.
Layar Xiao Mei berkedip untuk terakhir kalinya. Sebelum dunia padam, dia mengirimkan satu pesan terakhir ke Luo:
Kau tahu rasanya mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar ada, bukan?
You Might Also Like: 0895403292432 Jualan Skincare Modal