Langit kota berlumur senja sintetis, hasil editan algoritma yang gagal mendefinisikan indah . Xiao Mei, dengan hanfu digital yang berkilau...

Drama Seru: Air Mata Yang Menjadi Jalan Pulang Drama Seru: Air Mata Yang Menjadi Jalan Pulang

Langit kota berlumur senja sintetis, hasil editan algoritma yang gagal mendefinisikan indah. Xiao Mei, dengan hanfu digital yang berkilauan, menatap hologram Sungai Huangpu. Di tahun 2242, sungai itu hanyalah simulasi, kenangan tentang masa lalu yang terlalu nyata untuk dilupakan.

Notifikasinya berkedip. Sedang Mengetik... dari akun yang bernama 'Luo', nama yang sama usangnya dengan kaset Walkman. Luo, yang hidup di tahun 1998, di era modem berdecit dan pager yang berdenyut, hanya bisa berkomunikasi melalui sisa-sisa sinyal tumpang tindih di antara dimensi.

"Xiao Mei," pesan Luo akhirnya muncul, "Apakah kau melihatnya? Hujan yang rasanya seperti air mata?"

Xiao Mei menyentuh layar, merasakan dingin simulasi hujan. "Aku hanya melihat data, Luo. Hujan hanyalah variabel dalam program iklim."

Luo tertawa. Tawa digital yang terasa seperti kesedihan yang membeku. "Kau selalu logis. Tapi logika tidak bisa menjelaskan rasa sakit di dadaku, atau kenapa aku merasa kau begitu dekat, padahal ribuan tahun memisahkan kita."

Mereka bertemu di celah waktu, di antara sinyal yang hilang, di antara chat yang berhenti di 'Sedang Mengetik'. Luo, dengan rambut gondrong dan jaket kulit, tersenyum dari layar ponsel antik yang nyaris hancur. Xiao Mei, dengan hanfu digital dan mata sepelas bulan, membalas senyumnya. Mereka berbagi lagu-lagu Mandarin lama, puisi-puisi tentang cinta yang hilang, dan mimpi tentang masa depan yang mungkin bisa mereka sentuh bersama.

Namun, semakin mereka dekat, semakin dimensi di sekitar mereka bergejolak. Sinyal semakin memburuk. Layar mulai berkedip. Kode-kode aneh muncul di sekitar Xiao Mei, sementara gambar Luo semakin buram, seolah ditelan kabut waktu.

Suatu malam, pesan Luo datang terlambat, tersendat. "Xiao Mei... aku melihatmu... di mimpiku... kau bukan orang asing... kau adalah... KENANGAN."

Xiao Mei terhuyung. Dunia digitalnya berputar. Kode-kode itu semakin mengencang, membentuk jalinan yang mencekik. Dia melihat dirinya dalam mimpi Luo, bukan sebagai Xiao Mei dari masa depan, tetapi sebagai seorang gadis desa di tahun 1998, bernama... Mei Lan.

Mei Lan dan Luo adalah sepasang kekasih. Mereka berjanji untuk bersama selamanya, di bawah pohon sakura yang kini hanya ada dalam backup digital. Namun, Mei Lan meninggal karena penyakit misterius, meninggalkan Luo dengan patah hati yang tak tersembuhkan.

Proyek 'Air Mata Waktu', proyek yang menciptakan Xiao Mei dan memungkinkannya berkomunikasi dengan Luo, ternyata bukan hanya tentang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Proyek itu adalah upaya untuk menyembuhkan luka Luo, dengan menciptakan kembali Mei Lan dalam bentuk digital. Cinta mereka bukanlah takdir, melainkan ECHO dari kehidupan yang tak pernah selesai.

Layar Xiao Mei berkedip untuk terakhir kalinya. Sebelum dunia padam, dia mengirimkan satu pesan terakhir ke Luo:

Kau tahu rasanya mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar ada, bukan?

You Might Also Like: 0895403292432 Jualan Skincare Modal

Aroma cendana dan hujan gerimis selalu membawanya kembali ke ingatan yang kabur, seperti lukisan tua yang warnanya memudar. Mei Hua, namany...

Drama Baru! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai Drama Baru! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Tirai

Aroma cendana dan hujan gerimis selalu membawanya kembali ke ingatan yang kabur, seperti lukisan tua yang warnanya memudar. Mei Hua, namanya sekarang, seorang pelukis muda yang tengah naik daun di Beijing. Tapi di balik kanvas dan kuas, bayangan masa lalu menghantuinya. Mimpi tentang istana yang megah, jubah sutra yang berkilauan, dan pengkhianatan yang menusuk jantung.

Setiap sapuan kuasnya seolah menari mengikuti irama dendam yang lama terkubur. Ia melukis bunga plum yang berguguran, mengingatkannya akan kematian Ratu Lian, seorang wanita yang dulu pernah menjadi dirinya. Ingatan itu datang sedikit demi sedikit, seperti tetesan air yang akhirnya memenuhi wadah. Ia ingat senyum manis Kaisar, mata dingin selirnya, dan janji abadi yang ternyata palsu belaka.

Mei Hua tahu, ia tidak bisa membiarkan ingatan ini hanya menjadi bayangan. Ia harus mencari tahu kebenaran. Ia mulai mencari jejak-jejak Ratu Lian di antara tumpukan buku sejarah dan legenda kuno. Ia mengunjungi kuil-kuil terpencil, mencari jawaban di antara asap dupa dan bisikan para biksu.

Suatu malam, saat ia melukis di bawah cahaya bulan purnama, semuanya menjadi jelas. Ia melihat wajah Kaisar dan selirnya dalam pantulan di kolam. Ingatan tentang racun yang diberikan padanya, senyum kemenangan selirnya, dan tatapan kosong Kaisar – semuanya muncul dengan BRUTAL.

Namun, Mei Hua tidak berniat membalas dengan pedang atau racun. Dendamnya lebih halus, lebih mematikan. Ia menggunakan bakat melukisnya untuk menyebarkan cerita tentang Ratu Lian. Lukisan-lukisannya menjadi sangat populer, memicu rasa penasaran dan simpati terhadap sang ratu yang diklaim mati karena penyakit. Kisah tentang cinta dan pengkhianatan, keadilan dan kezaliman, tersebar seperti api di padang rumput.

Reputasi Kaisar dan keturunannya tercemar. Mereka dilupakan sejarah, terhapus dari ingatan publik. Mei Hua menyaksikan semua ini dari kejauhan, dengan senyum tipis di bibirnya. Keadilan telah ditegakkan, bukan dengan kekerasan, tapi dengan kekuatan seni.

Di akhir hidupnya, Mei Hua memandang lukisannya yang terakhir: sebuah potret Ratu Lian yang tersenyum lembut. Ia merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya, membawa bisikan dari masa lalu.

"Kali ini, aku akan memilih nasibku sendiri..."

You Might Also Like: Kekurangan Sunscreen Lokal Untuk Kulit

Lembah Baihua, dulu tempat tawa kami bergema, kini sunyi membeku. Di bawah pohon sakura yang bunganya mulai berguguran, aku berdiri. Angin ...

Drama Baru! Bayangan Yang Menyatu Dengan Angin Pagi Drama Baru! Bayangan Yang Menyatu Dengan Angin Pagi

Lembah Baihua, dulu tempat tawa kami bergema, kini sunyi membeku. Di bawah pohon sakura yang bunganya mulai berguguran, aku berdiri. Angin pagi menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan kenangan... tentang dia.

Li Wei, pangeran yang menjanjikan matahari dan bulan, kini hanya bayangan yang menghantui. Dulu, di bawah pohon sakura inilah, dia berjanji akan menikahiku, Mei Lian, gadis desa biasa yang dia sebut 'bintangnya'. Dia berbisik tentang mahkota yang akan kupakai, tentang istana yang akan menjadi rumah kita. Janji-janji itu terukir di hatiku, menjadi nyala yang menghangatkan jiwa di tengah dinginnya kehidupan.

Namun, dunia istana kejam. Ambisi dan intrik meracuni hatinya. Demi tahta, dia menikahi putri jenderal, sebuah aliansi yang mengamankan kekuasaannya. Aku ditinggalkan, janji-janji itu menjadi abu yang beterbangan ditiup angin. Setiap kelopak sakura yang jatuh seperti air mata yang tak henti menetes. Hatiku hancur berkeping-keping.

Lima tahun berlalu. Li Wei naik tahta, menjadi kaisar yang disegani. Aku? Aku memilih mengasingkan diri, belajar meramu obat dan menyembuhkan luka, baik luka fisik maupun luka hati. Aku memendam amarah, membiarkannya tumbuh menjadi pohon berduri yang melilit jiwaku.

Hari ini, aku di sini, di lembah Baihua. Bukan untuk mengenang cinta, tetapi untuk mengucapkan selamat tinggal. Kaisar Li Wei memerintahkan pengawalnya untuk mencariku. Katanya, dia menyesal. Katanya, dia ingin menebus kesalahannya.

Saat pengawal itu menemukanku, matanya menunjukkan ketakutan. Dia tahu apa yang kubawa. Bukan racun mematikan, tapi obat yang sangat manjur. Obat untuk penyakit yang diderita sang kaisar. Penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya, membuat setiap hari menjadi siksaan.

Aku memberinya obat itu dengan senyum tulus. "Ini, Yang Mulia," kataku, "obat untuk menyembuhkanmu. Resep dari bintangmu yang dulu."

Beberapa minggu kemudian, berita kematian kaisar Li Wei mengguncang kekaisaran. Penyakitnya terlalu parah, kata tabib istana. Tidak ada yang tahu bahwa 'obat' yang kuberikan hanyalah penawar rasa sakit yang membungkam penyakitnya, mempercepat kematiannya dengan halus dan tak terdeteksi. Tidak ada yang tahu, kecuali aku.

Aku kembali ke gubukku di lembah Baihua. Angin pagi menyapu wajahku, membawa aroma sakura dan debu kematian. Aku menatap langit, merasakan beban yang selama ini membelenggu hatiku sedikit terangkat. Balas dendam? Mungkin. Atau mungkin, hanya takdir yang menuntut keadilan atas hati yang dilukai.

Apakah cinta yang membawaku padanya, atau dendam yang membawanya padaku, aku sendiri tak lagi tahu...

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama

Mahkota yang Disembunyikan di Balik Luka Lin Wei, seorang pelukis muda yang hidup di tepi kota modern Shanghai, seringkali terbangun denga...

Ini Baru Cerita! Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka Ini Baru Cerita! Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka

Mahkota yang Disembunyikan di Balik Luka

Lin Wei, seorang pelukis muda yang hidup di tepi kota modern Shanghai, seringkali terbangun dengan air mata di pipinya. Mimpi-mimpi aneh menghantuinya; istana megah yang hancur, wajah-wajah yang asing namun terasa dekat, dan yang paling sering, suara tawa dingin yang menikam hatinya.

Ia merasa hidupnya tidak utuh. Seperti ada kepingan memori yang hilang, kunci sebuah kotak rahasia yang entah di mana tersimpan.

Suatu hari, Lin Wei tanpa sengaja menemukan sebuah lukisan kuno di pasar loak. Lukisan itu menggambarkan seorang permaisuri yang anggun, mengenakan mahkota yang sama persis dengan yang dilihatnya dalam mimpi. Di bawah lukisan, terukir sebuah nama: Mei Lan.

Seketika, ingatannya berkelebat. Mei Lan adalah dirinya. Ia adalah permaisuri yang dicintai rakyatnya, namun dikhianati oleh orang terdekatnya – selir kesayangannya, Xiu Ying, yang tergila-gila pada kekuasaan. Xiu Ying meracuninya demi merebut takhta untuk kekasihnya, seorang jenderal serakah.

Dunia Lin Wei serasa runtuh. Pengkhianatan itu begitu pahit, masih terasa hingga kehidupan ini. Ia tahu, dendam bukanlah jawaban. Namun, keadilan harus ditegakkan.

Ia mulai mencari tahu tentang keturunan Xiu Ying. Takdir mempertemukannya dengan Li Jun, seorang pengusaha muda yang ambisius dan tak kenal ampun. Lin Wei melihat bayangan Xiu Ying di dalam dirinya – haus kekuasaan dan tak peduli pada siapa pun.

Lin Wei mendekati Li Jun. Ia menawarkan bantuan, memberikan saran bisnis yang cerdas, dan perlahan-lahan, ia menjadi orang kepercayaannya. Ia menggunakan pengetahuannya tentang pasar dan strategi bisnis, hasil dari pengalaman hidupnya yang lampau, untuk mengarahkan Li Jun menuju kehancuran.

Bukan dengan kekerasan, bukan dengan intrik murahan. Lin Wei hanya memberikan informasi yang sedikit salah, mendorongnya untuk mengambil risiko yang terlalu besar, dan membiarkan keserakahan Li Jun menghancurkannya sendiri.

Li Jun bangkrut. Reputasinya hancur. Ia kehilangan segalanya. Di saat-saat terakhirnya, ia bertemu dengan Lin Wei. Ia menatapnya dengan mata penuh kebencian dan ketakutan.

Lin Wei tersenyum tipis. "Kau tahu," katanya dengan suara lembut, "Kekuasaan itu seperti bunga yang indah, namun durinya bisa melukai siapapun, bahkan pemiliknya sendiri."

Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Li Jun dalam kehancurannya. Balas dendamnya telah usai. Ia tidak merebut apa pun, tidak menyakiti secara fisik. Ia hanya mengubah arah takdir, memastikan bahwa kebusukan tidak akan lagi meracuni dunia ini.

Saat senja mulai merayap, Lin Wei berdiri di tepi sungai Shanghai, memandang pantulan cahaya di air. Sebuah tato bunga plum yang sama dengan milik Mei Lan muncul di pergelangan tangannya, memudar perlahan.

"Kita akan bertemu lagi, di bawah pohon plum yang berbunga, Xiu Ying!..."

You Might Also Like: Agen Skincare Fleksibel Kerja Dari

Kau Mati dengan Namaku di Bibir, dan Hidupku Berhenti di Sana Alunan guqin mengalir lirih, serupa air mata yang jatuh perlahan di malam ya...

Drama Abiss! Kau Mati Dengan Namaku Di Bibir, Dan Hidupku Berhenti Di Sana Drama Abiss! Kau Mati Dengan Namaku Di Bibir, Dan Hidupku Berhenti Di Sana

Kau Mati dengan Namaku di Bibir, dan Hidupku Berhenti di Sana

Alunan guqin mengalir lirih, serupa air mata yang jatuh perlahan di malam yang sunyi. Di paviliun yang diterangi rembulan pucat, aku duduk, mengenang. Angin berdesir melalui kain sutra hanfu-ku, membawa aroma bunga plum yang dulu sangat disukainya.

Lima belas tahun lalu, aku, Lin Yue, adalah pewaris tunggal keluarga Lin yang terhormat. Dia, Zhao Wei, adalah jendral muda yang gagah berani, pahlawan yang dipuja seluruh kekaisaran. Cinta kami, bagaikan anggur yang matang di bawah mentari, manis dan memabukkan.

Namun, anggur itu basi.

Aku melihatnya, di taman belakang, berciuman dengan adik perempuanku, Lin Mei. Pengkhianatan. Itu kata pertama yang terlintas di benakku. Bukan amarah, bukan teriakan, hanya kehampaan yang dingin. Aku memilih diam. Bukan karena lemah, bukan. Aku menyimpan rahasia. Rahasia yang lebih besar dari pengkhianatan cinta, rahasia yang bisa mengguncang tahta.

Zhao Wei, di mataku, bukan lagi pahlawan. Dia adalah pion dalam permainan besar, sebuah boneka yang digerakkan oleh ambisi tersembunyi. Aku tahu siapa dalang di balik semua ini. Dan rahasia itu… harus kulindungi, bahkan dengan harga diriku sendiri.

Aku mundur. Aku melepaskan Zhao Wei. Aku membiarkan Lin Mei merebutnya. Aku membiarkan masyarakat mencemoohku sebagai wanita yang ditolak. Aku menerima semua itu. Karena, di dalam diamku, aku merencanakan sesuatu. Bukan balas dendam yang kejam, melainkan keadilan yang tersembunyi.

Waktu berlalu. Zhao Wei menikahi Lin Mei dan karirnya meroket. Dia menjadi tangan kanan Kaisar, kekuatan yang tak tertandingi. Keluarga Lin hancur, hartanya dirampas, kehormatannya tercemar. Aku menghilang, menjadi bayangan. Seorang pengembara yang terlupakan.

Suatu malam, aku mendengar kabar. Zhao Wei sakit parah. Racun mematikan menggerogotinya. Tabib kekaisaran tak berdaya. Lin Mei menangis meraung-raung, memohon dewa untuk kesembuhannya.

Aku tahu racun itu. Racun langka yang hanya tumbuh di puncak Gunung Salju Abadi. Racun yang kubuat sendiri, lima belas tahun lalu, ketika hatiku hancur berkeping-keping. Racun itu seharusnya untuk diriku sendiri, sebagai jalan keluar dari semua kepedihan.

Namun, takdir punya rencana lain.

Zhao Wei, di ranjang kematiannya, memanggil nama. Bukan nama istrinya. Bukan nama Kaisar. Dia memanggil namaku. Lin Yue.

"Maafkan aku," bisiknya, air mata mengalir di pipinya yang pucat. "Aku... terpaksa. Kaisar... mengancam keluargamu... jika aku menolak... menikahi Mei'er..."

Kata-katanya menghantamku bagai badai. KEBENARAN terungkap. Jadi, Zhao Wei melindungiku dengan mengkhianatiku? Dia mengorbankan cintanya, namanya, segalanya... demi keselamatanku?

Dia meninggal dunia malam itu, dengan namaku di bibirnya. Dan, anehnya, hidupku ikut berhenti di sana. Bukan secara fisik, tapi secara emosional.

Lin Mei, yang kini menjadi janda kaya raya, menikmati semua kemewahan yang dia inginkan. Namun, di matanya, selalu ada ketakutan. Ketakutan akan rahasia yang mungkin terbongkar, ketakutan akan takdir yang mungkin berbalik arah.

Bertahun-tahun kemudian, Kaisar lengser. Terungkaplah bahwa dia terlibat dalam praktik korupsi dan penindasan yang mengerikan. Keluarga kerajaan hancur. Lin Mei kehilangan segalanya. Dia menjadi pengemis di jalanan, meratapi nasibnya.

Aku melihatnya, dari kejauhan. Tidak ada senyuman kemenangan di wajahku. Hanya kesedihan yang mendalam. Keadilan telah ditegakkan, tapi dengan harga yang sangat mahal. Takdir telah berbalik arah, menghadirkan pahitnya penyesalan yang abadi.

Aku berbalik, melangkah menjauh, meninggalkan semuanya.

Rahasia Zhao Wei aman bersamaku. Dan aku, selamanya terikat padanya... oleh cinta, pengkhianatan, dan kematian.

Malam ini, alunan guqin terasa semakin pedih, mengingatkanku pada aroma bunga plum, dan sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab: apakah dia tahu, bahwa racun yang membunuhnya… adalah racun cinta yang tak terbalas?

You Might Also Like: Ini Baru Drama Janji Yang Tertinggal Di

Pedang yang Tertanam di Jantung Dewa Angin berdesir lirih di antara reruntuhan Istana Giok. Dulu, tempat ini adalah lambang kemegahan, kin...

Cerpen Keren: Pedang Yang Tertanam Di Jantung Dewa Cerpen Keren: Pedang Yang Tertanam Di Jantung Dewa

Pedang yang Tertanam di Jantung Dewa

Angin berdesir lirih di antara reruntuhan Istana Giok. Dulu, tempat ini adalah lambang kemegahan, kini hanya puing-puing bisu yang menyimpan kenangan pahit. Di tengahnya, berdiri seorang wanita. Bukan lagi Putri Mahkota yang dulu dikenal, tapi AURORA, sang Dewi Kebencian yang terlahir dari api pengkhianatan.

Dulu, cintanya adalah mentari yang menghangatkan. Kaisar Langit, janji-janji manisnya membungkus Aurora dalam kebahagiaan semu. Kekuasaan, ambisinya yang tersembunyi, ternyata lebih berharga dari nyawa Aurora. Ia dikhianati, dijebak, dan dipaksa menyaksikan keluarganya dibantai di depan matanya sendiri. Hatinya hancur berkeping-keping, jiwanya terluka parah.

Namun, Aurora tidak mati. Ia tumbuh di antara reruntuhan harapan, seperti bunga teratai yang merekah di rawa yang kotor. Kelembutan yang dulu menjadi ciri khasnya, kini terbalut baja. Senyumnya yang manis, kini menyembunyikan ketenangan yang mematikan. Luka-lukanya menjadi pupuk yang menyuburkan dendamnya.

"Aku akan membuatmu menyesal telah melahirkanku, Kaisar Langit," bisiknya pada angin malam. Suaranya lembut, nyaris tak terdengar, namun getarannya mampu meruntuhkan gunung.

Perjalanannya panjang dan berliku. Aurora mengumpulkan kekuatan, bukan dengan amarah yang membabi buta, melainkan dengan strategi yang terukur. Ia mempelajari seni bela diri kuno, menguasai ilmu racun, dan menjalin aliansi dengan para pemberontak yang mendambakan keadilan. Setiap langkahnya diperhitungkan, setiap keputusannya dilandasi logika dingin. Ia bukan lagi korban, ia adalah arsitek kejatuhan Kaisar Langit.

Setiap malam, Aurora bermimpi tentang pedang. Bukan pedang biasa, tapi pedang yang terbuat dari es dan api. Pedang yang mampu menembus pertahanan ilahi, dan menancap tepat di jantung Kaisar Langit. Pedang yang merupakan manifestasi dari kebencian dan kekuatannya.

Pertempuran terakhir terjadi di puncak Gunung Kunlun. Kaisar Langit, dengan segala kesombongan dan kekuatannya, menghadapi Aurora. Tapi, Aurora tidak gentar. Di matanya, terpancar keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia bergerak dengan anggun, menghindari setiap serangan dengan mudah. Kekuatan Kaisar Langit seolah tak berarti di hadapannya.

"Kau pikir dendammu bisa mengalahkan takdir?" tanya Kaisar Langit, dengan nada merendahkan.

Aurora tersenyum sinis. "Takdir? Kau yang menciptakan takdirku, Kaisar Langit. Dan sekarang, aku yang akan menulis ulang ceritanya."

Dengan gerakan secepat kilat, Aurora melesat maju. Pedang es dan apinya menari-nari di udara, menembus pertahanan Kaisar Langit, dan menancap tepat di jantungnya.

Kaisar Langit jatuh berlutut, matanya memancarkan keterkejutan dan penyesalan.

Aurora berdiri tegak di hadapannya, aura keagungan memancar dari dirinya. Ia bukan lagi wanita yang hancur karena cinta dan kekuasaan. Ia adalah Dewi Kebencian, sang Ratu Pembalasan. Ia telah merebut kembali takdirnya.

Aurora menatap mayat Kaisar Langit, lalu memandang langit yang mulai memerah. Angin berdesir lebih kencang, membawa aroma kebebasan. Dendamnya telah terbalaskan, tapi ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak bisa ia temukan kembali.

Ia berbalik, meninggalkan Gunung Kunlun yang berlumuran darah. Langkahnya ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.

Dan kini, dengan mahkota yang terbuat dari abu dan air mata, ia menyadari bahwa kerajaan yang sebenarnya terletak di dalam dirinya sendiri.

You Might Also Like: 83 Kekurangan Skincare Lokal Dengan

Hujan pixel jatuh di layar ponselku. Di balik sana, namanya—Lin, hanya tertera dengan status 'sedang mengetik…'. Titik tiga durasi ...

Air Mata Yang Tak Sempat Jadi Pengampunan Air Mata Yang Tak Sempat Jadi Pengampunan

Hujan pixel jatuh di layar ponselku. Di balik sana, namanya—Lin, hanya tertera dengan status 'sedang mengetik…'. Titik tiga durasi abadi yang menyiksa. Aku, Jiang, hidup di reruntuhan tahun 2047, dunia yang sinyalnya lebih sering hilang daripada harapan.

Lin, aku tahu, ada di tahun 1998. Dia mengirimiku pesan melalui celah waktu yang entah bagaimana tercipta di aplikasi pesan instan usang warisan nenekku. Dia, dengan Nokia jadul dan keyakinan naif tentang masa depan. Aku, dengan hologram memudar dan hati yang dipenuhi asap nostalgia.

Kami bertemu di antara derau statis dan font Times New Roman yang kasar. Lin bercerita tentang kaset radio, tentang langit biru yang belum tercemar algoritma. Aku membalas tentang rasa sakit kronis dunia yang terlalu digital, tentang air mata yang menguap sebelum sempat membasahi pipi.

Cinta kami absurd. Seperti melihat bayangan di cermin yang pecah. Lin mengirimiku foto-foto Polaroid yang warnanya luntur, aku mengiriminya rekaman video yang berpixel-pixel dan nyaris tak bisa dikenali. Kami saling jatuh cinta pada potongan-potongan memori, pada fragmen-fragmen mimpi.

Semakin dalam kami menyelami koneksi aneh ini, semakin aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pesan-pesan Lin terasa familiar. Terlalu familiar. Seolah aku pernah menulisnya sendiri.

Suatu malam, di tengah pemadaman listrik total—kejadian biasa di era ini—aku menemukan sebuah kotak tua di loteng. Di dalamnya, sebuah jurnal. Tulisan tangan yang sangat kukenal. Tulisan tanganku sendiri. Tanggalnya? 1998.

Jurnal itu berisi tentang seorang pemuda bernama Jiang, yang jatuh cinta pada seorang gadis bernama… Li Mei. Li Mei menghilang. Tanpa jejak. Dia pergi SEBELUM kami sempat mengucapkan selamat tinggal.

Di halaman terakhir, tertulis: "Aku akan mencari dirimu, Li Mei. Di mana pun kamu berada, di dimensi mana pun, aku akan menemukanmu." Di bawahnya, sketsa kasar sebuah aplikasi pesan instan usang.

Lin… Li Mei… mereka orang yang sama. Aku mengirim diriku sendiri ke masa lalu, menciptakan paradoks cinta yang menjerat kami berdua. Aku menghantui masa lalu untuk menyelamatkan masa depan yang tak pernah bisa diselamatkan.

Pesan terakhir dari Lin muncul di layar: "Jiang... Aku mengerti sekarang. Kita... hanya... gema..."

Sinyal padam. Hening. Dingin.

…dan mungkin, kita hanyalah pengulangan yang ditakdirkan untuk terus mencari satu sama lain di labirin waktu, selamanya.

You Might Also Like: 0895403292432 Diskon Skincare Lokal